web analytics
  

Polisi Amankan Pelaku Perusakan Madrasah di Tasikmalaya

Senin, 23 November 2020 10:26 WIB Heru Rukanda
Umum - Regional, Polisi Amankan Pelaku Perusakan Madrasah di Tasikmalaya, Perusakan madrasah Tasikmalaya,Berita Tasikmalaya,Berita Tasikmalaya Hari Ini

Polsek Cihideung menyerahkan 2 pelaku perusakan madrasah di Cieunteung yang masih di bawah umur ke LPKS Pangandaran untuk menjalani pembinaan, Senin (23/11/2020). (Ayotasik.com/Heru Rukanda)

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Kasus perusakan madrasah DTA Al-Barokah di Kampung Cieunteung Sukarame, Kelurahan Argasari, Kecamatan Cihideung, Kota Tasikmalaya pada September 2020 lalu berhasil diungkap unit Reserse Kriminal (Reskrim) Polsek Cihideung.

Dari sekelompok orang yang melakukan perusakan, 2 di antaranya telah diamankan dan kini tengah menjalani pemeriksaan. Kedua pelaku diketahui masih di bawah umur.

Kapolsek Cihideung Kompol Zaenal Muttaqin mengatakan, sejak kejadian perusakan madrasah tersebut pihaknya terus melakukan penyelidikan dan berhasil menangkap 2 orang. Sementara para pelaku lainnya masih dalam pencarian.

"Alhamdulillah, kurang dari seminggu pelaku bisa kami amankan. Ada 2 orang yang telah kami periksa dan sudah menjadi tersangka," ujar Zaenal, seperti dilaporkan Ayotasik.com, Senin (23/11/2020).

Menurutnya, pihaknya tidak melakukan penahanan terhadap 2 pelaku lantaran masih di bawah umur. Setelah selesai pemeriksaan pihaknya berkoordinasi dengan bapas dan akhirnya kedua tersangka ini diserahkan ke Lembaga Penyelenggara Kesejahteraan Sosial (LPKS) Pangandaran.

"Kendati 2 pelaku sudah diserahkan ke LPKS untuk menjalani pembinaan, kasus ini memang belum berakhir. Masih ada pelaku-pelaku lainnya," ucap Zaenal.

Sementara itu, ketua LPKS Pangandaran Dayat mengatakan, selama dalam masa pembinaan, anak-anak yang melakukan tindakan kriminalitas ini akan diarahkan dan dibimbing agar tidak kembali melakukan hal serupa.

"Jadi di LPKS Pangandaran berbasis pesantren. Anak-anak akan dibina dan diberikan pendidikan keterampilan seperti bengkel, pertanian, dan lainnya," ujar Dayat.

Ia menambahkan, saat ini anak-anak yang tersangkut hukum dan menjalani pembinaan di LPKS Pangandaran jumlahnya sebanyak 28 anak.

"Rata-rata mereka tersangkut kasus 363 atau pencurian. Namun, ada juga kasus lainnya seperti kekerasan seksual," ungkapnya.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers