web analytics
  

Dokter Minta Masyarakat Tidak Khawatir Vaksinasi saat Pandemi

Minggu, 22 November 2020 10:14 WIB Icheiko Ramadhanty
Umum - Nasional, Dokter Minta Masyarakat Tidak Khawatir Vaksinasi saat Pandemi, Vaksinasi,Pandemi Covid-19,Imunisasi

ilustrasi layanan posyandu. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Vaksinasi diwajibkan untuk menciptakan kekebalan tubuh terhadap penyakit. Terdapat beberapa jenis vaksinasi pada manusia, yaitu vaksinasi pada anak dan vaksinasi pada orang dewasa.

Vaksinasi pada anak diberikan pada anak sejak anak lahir sampai umur 18 tahun. Sedangkan mulai usia 19 tahun dan seterusnya, sampai dengan lansia termasuk imunisasi dewasa.

Dokter Penyakit Dalam Rumah Sakit Menteng Mitra Afia, Dirga Sakti Rambe, membeberkan beberapa informasi yang harus diketahui oleh masyarakat terkait proses vaksinasi. Dia juga menekankan agar masyarakat tetap melakukan vaksinasi kendati berada di tengah situasi pandemi Covid-19.

Lantas, apakah jenis vaksin untuk anak dan dewasa berbeda? Dirga menuturkan vaksin untuk keduanya sebagian besar memiliki persamaan.

“Namun memang sebagian sisanya memiliki perbedaan baik dalam hal jenisnya ataupun dosisnya. Oleh karena itu saat anda divaksinasi, dokter pasti akan menjelaskan mengenai jenis vaksin tersebut, apakah vaksin tersebut untuk anak atau orang dewasa,” jelas dia, dalam diskusinya di YouTube FMB9ID_IKP, Minggu (22/11/2020).

Selain itu, Dirga menegaskan masyarakat tidak perlu khawatir unutuk melakukan vaksinasi di tengah pandemi. Hal ini karena berbagai fasilitas kesehatan seperti klinik, puskesmas, dan rumah sakit sudah memiliki protokol pencegahan Covid-19.

“Oleh karena itu anda tidak perlu khawatir untuk mendapatkan vaksin yang diinginkan. Selain itu, anda bisa memanfaatkan berbagai inovasi seperti vaksinasi ke rumah atau vaksinasi drive-thru. Sehingga apapun kondisinya, kita tetap aman untuk melakukan vaksinasi,” imbaunya.

Sebagai informasi, dikatakan Dirga, dalam vaksinasi memberlakukan sebuah prinsip. Prinsip tersebut yaitu, bila seseorang lupa atau tidak dapat menunjukkan dokumentasi yang baik tentang riwayat vaksinasinya, maka seseorang tersebut akan dianggap belum pernah melakukan vaksinasi.

“Oleh karena itu, vaksin-vaksinnya harus diberikan ulang dan dilakukan penyusunan untuk mengejar ketertinggalan atau catch up immunization,” jelas Dirga.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers