web analytics
  

Islamofobia, TGB: Dakwah Islam Harus Kedepankan Ahlak dan Hidayah

Minggu, 22 November 2020 10:05 WIB Nur Khansa Ranawati
Gaya Hidup - Komunitas, Islamofobia, TGB: Dakwah Islam Harus Kedepankan Ahlak dan Hidayah , Tuan Guru Bajang (TGB),Muhammad Zainul Majdi,islamofobia,Islamophobia,dakwah,Islam

Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi. (Ayobandung.com/Nur Khansa Ranawati)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Di tengah tantangan Islamofobia yang muncul di tataran global, dakwah Islam di dunia harus diiringi dengan strategi tertentu. Wajah Islam yang dihadirkan harus ramah dan senantiasa relevan dengan zaman.

Ketua Organisasi Internasional Alumni Al-Azhar (OIAA) cabang Indonesia, Tuan Guru Bajang (TGB) Muhammad Zainul Majdi mengatakan, dakwah Islamiyah tidak dapat berdiri sendiri. Diperlukan seperangkat nilai agar dakwah tersebut dapat diterima dan bermanfaat, yakni dengan mengedepankan akhlak dan hidayah.

"Nilai-nilai yang kita yakini sebagai Islam yang universal, Islam yang insani dan rahmatan lil alamin harus disampaikan dengan dakwah yang beretika, harus beradab. Hal yang kita bawa adalah substansi yang mulia, maka harus disampaikan dengan cara yang juga mulia," ungkap TGB dalam
Wasathiyyah Webinar Series: Dakwah Moderasi Islam dan Peta Politik Dunia Pasca Pilpres Amerika Serikat, Sabtu (21/11/2020).

Ia mengatakan, hal tersebut tidaklah mudah, terutama di tengah munculnya provokasi dari berbagai pihak yang kerap membuat lupa bahwa tatanan akhak dalam berdakwah adalah hal yang penting. Selain itu, hidayah juga harus menjadi pedoman dalam berdakwah.

"Dakwah dalam makna yang sangat luas adalah solutif. Jadi pada saat ada kebutuhan, dakwah kita harus bisa menghadirkan jalan keluar. Pada kesempitan, dakwah harus memberikan kelapangan. Pada saat pandemi seperti ini, dakwah harus mampu menumbuhkan harapan," ungkap mantan Gubernur NTB tersebut.

"Trilogi ini (dakwah, akhlak, dan hidayah) harus kita ingat selalu dalam upaya kita menyampaikan pesan-pesan Islam," lanjutnya.

Ia mengatakan, ketiga elemen tersebut menjadi relevan untuk diterapkan dalam berdakwah di tataran global, termasuk Amerika Serikat. Pasalnya, ia mengatakan, akan sulit untuk mengejar dakwah dengan menawarkan solusi sains dan teknologi di negara yang relatif lebih maju keilmuannya.

"Kalau mau dakwah seperti dulu pendahulu di Andalusia, Baghdad dan Asia Kecil, yang bisa menawarkan arsitektur dan penemuan-penemuan yang mengagumkan, saat ini kita belum bisa melakukan itu. Mereka (Amerika Serikat) jauh lebih maju. Maka berdakwah dengan akhlak adalah hal tersisa yang bisa kita lakukan," paparnya.

Ia menyebutkan, agar nilai-nilai Islam dapat diterima di tataran global, maka para pendakwah harus senantiasa mempertemukan elemen teks dengan konteks, akal dengan wahyu, dan pesan-pesan agama dengan realitas ilmu juga teknologi. Sehingga, nilai Islam dapat dipandang senantiasa relevan juga tidak asing.

"Di tengah kemajuan ilmu dan teknologi di tingkat global, pada saat yang sama terjadi kekeringan spiritual. Mari kita semua senantiasa mengaitkan dakwah dengan akhlak dan hidayah supaya bisa menjadi solusi, menjadi oase kegersangan spiritualitas yang melanda masyarakat secara global," jelasnya.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers