web analytics
  

Nyonya Homann, Pemilik Hotel Savoy Homann

Kamis, 19 November 2020 13:08 WIB Rahim Asyik
Bandung Baheula - Baheula, Nyonya Homann, Pemilik Hotel Savoy Homann, Nyonya Homann,Hotel Savoy Homann,delpher,Jacoba van Hogezand,Hotel Homann Bandung

Foto Hotel Homann, (Bongenaar Studio, Verf en Kunst, 1939)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Banyak sekali tulisan tentang Hotel Savoy Homann menyebutkan majunya hotel legendaris di pusat Kota Bandung itu akibat pengelolaan tangan dingin pemiliknya, Nyonya Homann. Buku Gids voor Bandoeng (terbit tahun 1908) dan Boekoe Penoendjoek djalan boeat plesiran di kota Bandoeng dan daerahnja yang terbit setelahnya, misalnya, menyebutkan kemajuan Hotel Homann tak lepas dari ”baiknja perawatan jang terpegang oleh directrice jaitoe njonja Homann.”

Namun siapa Nyonya Homann, sulit sekali melacak jejaknya. Penelusuran terhadap koran-koran lama di situs delpher sedikit sekali membuahkan hasil. Pencarian dengan kata kunci Homann atau Mevrouw Homann misalnya, lebih banyak menghasilkan lema tentang advertensi hotel itu. Ada juga informasi tentang pembagian dividen dan pertunjukan musik.

Sementara informasi mengenai personal pengelolanya alias Nyonya Homann hampir nihil. Disebut hampir karena sebetulnya ada juga, meski serba sedikit. Ada misalnya iklan keluarga mengenai pernikahan A Homann dengan J van Hogezand. Informasi yang agak panjang tentang Nyonya Homann muncul berupa obituari di koran Bataviaash Nieuwsblad terbitan 24 Maret 1917 dan di De Preanger-bode terbitan 26 Maret 1917. Dari informasi yang tersebar-sebar itulah disusun riwayat hidup singkat Nyonya Homann berikut ini.

Nyonya Homann terlahir dengan nama Jacoba van Hogezand di Batavia (Jakarta) pada 18 Maret 1838. Tidak disebutkan siapa nama kedua orang tuanya. Pada umur 18 tahun atau tahun 1856, Jacoba menikah dengan Van Gent, seorang kapten infanteri di ketentaraan Hindia Belanda. Pasangan itu menetap di Semarang dan dikaruniai dua orang anak laki-laki.

Nyonya Homann Menjanda Dua Kali

Pada 1871, saat usianya 33 tahun, Nyonya Homann terpaksa harus hidup menjanda lantaran suaminya meninggal dunia. Dalam obituari berjudul ”Mevrouw Homann” di kedua koran di atas disebutkan bahwa setelah ditinggal suaminya, Nyonya Homann kembali ke Batavia dan tak lama kemudian pindah ke Bandung. Ditinggal dengan uang pensiun kecil dan harus menanggung kehidupan kedua anaknya yang masih kecil, Nyonya Homann membangun penginapan sederhana (commensaen-huis) di Katja-katja Wetan, tak jauh dari Simpang Lima (orang Bandung menyebutnya Parapatan Lima).

Saat itu, bisnis pesanggrahan memang tengah berkembang di Bandung seiring dengan semakin ramainya perjalanan orang melalui Jalan Raya Pos (Grote Postweg). Pesanggarahan-pesanggrahan umumnya dibangun di sekitar pos-pos penggantian kuda. Hotel Preanger misalnya, didirikan di bekas pesanggrahan yang dibangun alakadarnya. Demikian sederhananya bangunannya sehingga mereka yang menginap di pesanggrahan itu harus rela tidur berdesak-desakan.

Dalam kedua koran itu juga disebutkan bahwa di Bandung inilah Jacoba berkenalan dengan A Homann, seorang pengusaha kaya di Padalarang. Pernikahan keduanya selanjutnya menjadi kombinasi yang sangat bagus lantaran dengan demikian Hotel Homann bisa dipindahkan lebih ke pusat kota, ke tempatnya sekarang di Jalan Asia Afrika 112, sekaligus lebih dekat ke pos penggantian kuda.

Informasi tentang perkenalan dengan A Homann terjadi di Bandung ini jelas keliru. Soalnya di koran De Locomotief yang terbit pada 26 Februari 1874 muncul iklan mengenai pernikahan antara A Homann dengan J van Hogezand yang dibubuhi dengan keterangan janda dari NJ van Gent. Pernikahan keduanya berlangsung di Semarang tanggal 25 Februari 1874 atau tiga tahun setelah Nyonya Homann ditinggal mati suami pertamanya.

Perkenalan Nyonya Homann dengan bisnis perhotelan pun tampaknya tidak terjadi saat di Bandung. Iklan di koran De Locomotief terbitan tahun 1880 dan 1881 sudah banyak memunculkan nama Hotel Bodjong di Semarang dengan keterangan A Homann dan untuk selanjutnya diberi nama Hotel Homann dengan keterangan Bodjong. Kemungkinan besar, hotel yang semula bernama Bodjong ini diambil alih oleh Homann dan selanjutnya berganti nama menjadi Hotel Homann. Namun tak jelas nasib Hotel Homann di Semarang ini selanjutnya.

Iklan pernikahan Nyonya Homann (J Van Hogezand) dengan A Homann di koran De Locomotief, 26 Februari 1874. Pasangan itu menikah di Semarang tanggal 25 Februari 1874. (delpher.nl)

Iklan mengenai pernikahan A Homann ini menjadi menarik bila dikaitkan dengan waktu didirikannya Hotel Homann di Bandung. Sejauh ini penulis belum memperoleh informasi akurat mengenai kapan Hotel Homann didirikan. Inggit Fadillah dalam skripsinya yang berjudul Perkembangan Hotel Savoy Homann Bandung (1871-2000), dengan mengutip sumber dari Proyek Pembinaan dan Pelestarian Kepurbakalaan Jawa Barat (terbit 1989) menyebut berdirinya Hotel Homann dapat diketahui lewat akte Eigendom No. 47 tanggal 7 Juni 1880, dan akte Eigendom No. 104 tanggal 31 Oktober 1889.

Tak diketahui apa isi kedua eigendom berbeda tahun itu. Namun sebagaimana tertera di judul skripsinya, sejarah Hotel Homann dimulai pada 1871. Kalau 1871 itu merujuk pada tahun didirikannya Hotel Homann, maka hotel itu sudah ada sebelum Nyonya Homann menikah dengan A Homann. Informasinya jelas berbeda dengan yang ditulis dalam obituari, juga yang muncul dalam buku Gids voor Bandoeng.

Nyonya Homann Mendirikan Hotel Montagne di Lembang

Nyonya Homann diceritakan mengelola Hotel Homann sampai sekitar tahun 1908. Buku Gids voor Bandoeng tampaknya jadi semacam kado perpisahan sekaligus legacy terhadap jasa besar Nyonya Homann dalam membesarkan hotelnya itu. Buku Gids voor Bandoeng ini memang diterbitkan oleh AC Nix & Co dengan mitra utama Hotel Homann.

Mengapa Nyonya Homann berhenti mengelola hotelnya. Kemungkinan besar karena usianya. Saat itu, Nyonya Homann terbilang sepuh, sudah berumur 70 tahun. Sementara suaminya, A Homann, juga tak bisa membantu lantaran sudah lebih dulu meninggal dunia. Di sisi lain, entah mulai kapan, manajemen Hotel Homann membuka diri dengan sistem kemitraan. Pada 1908 itu, Hotel Homann sudah bukan 100% milik kedua pasangan itu, melainkan sudah menjadi milik sejumlah pemegang saham. Dengan demikian, setiap tahun dilakukan semacam rapat umum pemegang saham yang diiringi dengan pembagian dividen.

Lepas dari kesibukan di Hotel Homann, Nyonya Homann menetap di Lembang (yang sekarang termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Bandung Barat). Dia membeli sebuah vila di kawasan yang tenang dan dingin itu. Mungkin karena orangnya memang tak bisa diam, vila itu tak lama kemudian berubah fungsi menjadi hotel. Namanya Hotel Montagne dan dikelola oleh CNJ van Gent, anak Nyonya Homann dari suami pertamanya.

Obituari Nyonya Homann di koran De Preanger-bode tanggal 26 Maret 1917. (delpher.nl)

Obituari itu juga menceritakan, salah satu yang menjadi ciri khas Nyonya Homann adalah seringnya dia bepergian ke luar negeri. Tujuannya dua. Pertama, untuk memperluas wawasannya akan bisnis perhotelan. Kedua, untuk rekreasi. Kebiasaan itu terus dilakukannya kendati fisiknya sudah menurun lantaran usia.

Awal 1917, saat umurnya 79 tahun, Nyonya Homann berangkat ke Eropa. Orang-orang dan kerabat dekat sudah mengingatkannya akan kondisi kesehatannya. Akan tetapi, Nyonya Homann tetap memutuskan untuk berangkat. Pada Maret 1917, Nyonya Homann kembali ke Hindia Belanda dengan menumpang kapal Wilis. Di atas kapal itu Nyonya Homann dikabarkan sakit sampai malaikat maut menjemputnya. Dengan demikian, perjalanan itu menjadi perjalanan terakhir Nyonya Homann.

Editor: Andres Fatubun
dewanpers