web analytics
  

Atasi Covid-19, Epidemiolog: Jangan Terlalu Berharap Pada Vaksin

Sabtu, 21 November 2020 13:25 WIB Nur Khansa Ranawati
Umum - Nasional, Atasi Covid-19, Epidemiolog: Jangan Terlalu Berharap Pada Vaksin, vaksin,Vaksin Covid-19,COVID-19,Pandemi Covid-19,protokol kesehatan covid-19,prokes

Ilustrasi -- Vaksin Covid-19. (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Saat ini, pemerintah tengah berupaya menyusun skema pemberian vaksin Covid-19 bagi masyarakat. Kerjasama dengan sejumlah produsen vaksin luar negeri telah dijalin, dan vaksin ditargetkan dapat mulai diberikan pada awal tahun depan.

Meski demikian, hal tersebut tidak serta-merta menjamin masyarakat Indonesia lantas terbebas dari Covid-19. Pasalnya, ada sejumlah prasyarat yang harus dipenuhi sebelum vaksin dapat bekerja melindungi mayoritas populasi di suatu daerah.

"Satu hal yang perlu diingat, ekspektasi terhadap vaksin jangan terlalu tinggi. Walaupun efektivitas vaksin-nya tinggi, kita harus ingat bahwa pendistribusiannya tidak bisa langsung meluas," ungkap epidemiolog Universitas Padjajaran, Panji Fortuna, saat dihubungi Ayobandung.com, Jumat (20/11/2020).

Distribusi yang bertahap tersebut, ia mengatakan, akan membuat proses pembentukan herd immunity warga Indonesia terhadap virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 menjadi perjalanan panjang. Dengan skema distribusi bertahap, ia mengatakan, diperlukan waktu setidaknya satu tahun hingga herd immunity terbentuk.

"Vaksin diharapkan bisa memberi perlindungan langsung terhadap virus untuk orang yang diberi vaksin, dan perlindungan tidak langsung untuk orang yang tidak diberi vaksin, ini yang dinamakan herd immunity," ungkapnya.

"Paling tidak 60%-80% masyarakat harus sudah diimunisasi agar herd immunity terbentuk. Sedangkan persediaan vaksin tidak bisa langsung mencapai 80% populasi, mungkin perlu waktu satu tahun," jelasnya.

Dalam selang waktu tersebut, ia mengatakan, vaksin hanya akan bekerja melindungi populasi terbatas yang telah mendapat imunisasi. Pembentukan herd immunity pun, ia mengatakan, akan semakin lama bila presentase efektivitas vaksin-nya kecil.

"Saat vaksin datang nanti, yang bisa diimunisasi kan baru sedikit orang. Sehingga kalaupun efektivitasnya tinggi, perlindungan langsungnya hanya akan terjadi pada orang yang diimunisasi. Ini tidak lantas menghentikan pandemi,"  ungkapnya.

Oleh karenanya, ia mengatakan, selama proses pendistribusian vaksin berjalan, pemerintah harus tetap memberlakukan aturan pengendalian Covid-19 sebagaimana biasanya. Pembatasan kegiatan warga, pengetesan massal dan penerapan protokol kesehatan harus tetap dilaksanakan.

"Ekspektasi kita harus diatur. Kalau efektivitasnya kecil apalagi, dampaknya makin tidak kelihatan. Jadi vaksin itu jangan menjadi pengganti strategi (untuk mengatasi Covid-19), tapi jadi pelengkap. Kalau sebelumnya sudah melakukan testing, tracing, isolasi dan lain-lain, maka harus tetap dilakukan," jelasnya.

Editor: Arditya Pramono

artikel terkait

dewanpers