web analytics
  

Gunung Habitat Burung Bubut

Jumat, 20 November 2020 10:03 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Gunung Habitat Burung Bubut, burung bubut,bubut alangalang,Habitat burung bubut,hutan mangrove

Burung bubut besar dan burung bubut alangalang. (John Mackinnon, 1993)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

AYOBANDUNG.COM -- Suaranya yang berat, mengawali suara khasnya, but… but… but… but… pelan, berirama, lalu diulang beberapa kali. Setelah diam beberapa saat, lalu ada suara yang lebih keras dan cepat, but but but but but but but but…. Lalu diam. Terdengar seperti suara gesekan tali ke alat bubut tradisional, dengan putaran yang cepat. Kek kek kek kek kek kek kek kek…. Diam. Lalu terdengar lagi seperti putaran alat bubut yang berderit dengan cepat, meninggi, lalu menurun. Kuir… kuir… kuir… kuir… kuir… kuir…. Suaranya inilah yang menyebabkan burung ini dinamai burung bubut, karena suaranya terdengar seperti suara alat bubut tradisional yang sedang bekerja. Bukan suara mesin bubut yang digerakan dengan mesin, tapi alat bubut masa lalu.

Menurut Prof Dr Johan Iskandar, komunikasi melalui telepon genggam (17/11/2020), burung bubut yang sering teramati di Jawa Barat ada dua jenis, yaitu Centropus sinensis biasa disebut dudut, bubut, butbut, atau burung bubut besar, dan Centropus bengalensis disebut juga burung dudut, bubut, butbut, atau bubut alang alang.

Di Indonesia, terdapat enam jenis burung bubut, yaitu bubut alangalang, bubut besar, bubut hitam, bubut jambul, bubut kembang, dan bubut paruh hijau. Di Pulau Jawa tidak ada burung bubut paruh hijau, sehingga jumlahnya hanya ada lima jenis.

Habitat burung bubut yang dijadikan nama geografi, yaitu Gunung Bubut, terdapat hampir di setiap kabupaten di Jawa Barat, seperti di Cukanggenteng, Pasirjambu, Kabupaten Bandung, di Pabuaran dan di Karacak, Kabupaten Bogor, di Sukahayu, Rancakalong, Kabupaten Sumedang, di Sukaratu, Gekbrong, di Sukamulya, dan di Gelarpawitan, Kabupaten Cianjur, di Cintawangi, Kabupaten Karawang, di Nagrag, Cipatujah, Kabupaten Tasikmalaya, dan di Caringin, Kabupaten Garut. Ketinggian puncak-puncak tempat ini antara +250 m dpl sampai +1320 m dpl.

Burung bubut sering dijumpai di pesisir dekat hutan mangrove, di dataran rendah dengan vegetasi yang rapat, di tepi hutan, di semak-semak tepi sungai, di belukar sekunder, di semak-semak kecil, dan di pepohonan. Burung ini juga sering dijumpai mengais makanan di atas tanah.

Menurut John Mackinnon (1993), ukuran burung bubut besar (52 cm), dan bubut alang alang (42 cm). Kedua burung ini dengan ciri utama iris mata berwarna merah, paruhnya hitam melengkung tajam, dan kakinya berwarna hitam, dengan ekornya warna hitam panjang.

Bulu burung bubut besar, secara keseluruhan berwarna hitam, kecuali mantel bulu warna sayapnya yang coklat seperti biji buah saninten/berangan. Sedangkan warna bulu burung bubut alangalang, secara keseluruhan mirip dengan burung bubut besar, yang membedakannya, warna bulunya agak suram, terkesan kotor.

Tampilan burung ini terkesan sangar. Iris mata merah, paruh kuat melengkung, dan kuku kakinya tajam mencengkeram. Burung bubut bukan burung pemangsa, tapi pemakan ulat bulu, capung, belalang, jangkrik, kumbang, kupukupu, juga menyukai siput, lipan, katak, anakan burung, tikus kecil, bahkan menyukai ular kecil.

Antara bulan Januari sampai Maret, tapi ada juga yang sampai Mei, merupakan musim berkembang biak. Pada saat itulah burung bubut akan membuat sarang untuk bertelur. Sarangnya sering dijumpai di semak-semak di pinggir hutan atau di dalam hutan, di pinggir sungai, dan di hutan mangrove. Sarangnya ada yang dibuat di tempat yang sangat rendah, seperti di padang alangalang, di semak-semak yang lebat tapi sungai, dan di pohon yang tingginya antara empat sampai enam meter. Bentuk sarangnya seperti bola. Di dalam sarang itu terdapat telur berwarna putih dengan tanda kuning, jumlahnya antara tiga sampai empat butir.

Nama burung yang sudah menjadi nama geografi ini, semoga tidak hanya terabadikan dalam nama gunung, tetapi burung bubut terus hidup di alamnya dengan merdeka. Desakan kebutuhan akan lahan untuk menanam sayuran dalam jumlah besar untuk memasok industri makanan raksasa, telah mengubah wajah perbukitan, pinggir hutan menjadi kawasan pertanian musiman. Kenyataan yang tidak bisa dibantah, jumlah burung bubut semakin langka bersamaan dengan menghilangnya tempat hidupnya. Lingkungan perbukitan, pinggirhutan, padang alangalang, hutan mangrove, yang menjadi rumah bagi burung bubut, kini banyak yang sudah beralih fungsi, berganti menjadi kebun sayur, menjadi kawasan permukiman, kampus, pabrik, dan tambak.

Ketika otoritas negara tidak lagi mampu melindungi tanah airnya yang seharusnya dikuasainya, seperti gunung dan hutannya. Di beberapa tempat di negara lain, ada yang dapat dijadikan sebagai contoh yang berhasil, yaitu dengan mengorganisir dana untuk membeli lahan yang cukup luas, satu bukit, satu situ, satu kawasan pinggir sungai, dekat muara sungai, misalnya, lalu dirancang ulang sebagai kawasan konservasi, seasli mungkin, yang disesuaikan menjadi habitat burung bubut, misalnya, atau untuk konservasi satwa lainnya, yang memungkinkan semuanya dapat berjalan dengan baik. Semoga!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers