web analytics
  

Digitalisasi Budaya Sunda Harus Dibarengi Produksi Konten Baru

Kamis, 19 November 2020 18:23 WIB Dudung Ridwan
Bandung Raya - Bandung, Digitalisasi Budaya Sunda Harus Dibarengi Produksi Konten Baru, Budaya Sunda,Penggiat Budaya Sunda,seni dan budaya sunda,Pers Sunda

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat, Hilman Hidayat. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM --  Budaya dan pers berbahasa Sunda menghadapi tantangan yang pelik karena semakin sedikit orang ataupun pihak yang mau melestarikannya secara serius. 

Hal tersebut mengemuka dalam Sawalamaya “Merumuskan Strategi Kebudayaan Sunda: Strategi Penthahelix Digitalisasi Budaya” yang digelar Panitia Pra Kongres Sunda 2020 secara virtual, Kamis, (19/11/2020). 

Sawalamaya yang dipandu Doni Purnama Alamsyah itu menghadirkan sejumlah pembicara, di antaranya Ketua Pusat Digitalisasi dan Pengembangan Budaya Sunda Unpad Ganjar Kurnia dan Ketua PWI Jawa Barat Hilman Hidayat.

Ganjar Kurnia mengutip Undang-Undang No 5 Tahun 2017 tentang kemajuan kebudayaan. Di dalamnya disebutkan negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia. Disebutkan pula bahwa kebudayaaan adalah investasi untuk membangun masa depan dan peradaban bangsa.

“Jadi, membangun memelihara kebudayaan itu bukan beban. Tapi investasi,” kata Ganjar Kurnia.

Selanjutnya, keberagaman kebudayaan daerah merupakan kekayaan dan identitas bangsa yang sangat diperlukan untuk kemajuan kebudayaan nasional Indonesia di tengah dinamika perkembangan dunia. Kebudayaan nasional tergantung dan ditopang oleh kebudayaan daerahnya.

“Kalau kebudayaan daerah tidak dikembangkan, kebudayaan nasional akan menjadi tidak ada artinya,” jelasnya.

Daya hidup kebudayaan akan ditentukan oleh masyarakat pendukungnya. Artinya kebudayaan Sunda ke depan mau maju atau mundur; mau hilang atau tidak; bahasanya mau ada atau tiada tergantung kepada orang Sundanya sendiri.

Mun urang Sunda geus hare-hare ka bahasana. Geus era mun disebut urang Sunda. Geus era ngomong bahasa Sunda. Atawa lamun nyebut Sunda, sieun disebut sukuisme, kita tunggu saja hilangnya budaya dan bahasa Sunda,” kata Ganjar Kurnia dengan sedikit emosional.

Oleh karena itu, betapa pentingnya melakukan perlindungan berupa digitalisasi, inventarisasi, pengamanan, pemeliharaan, penyelamatan, dan publikasi budaya Sunda.

Pusat Digitalisasi Kebudayaan Sunda (PDKS) yang dipimpinya melakukan semua itu--penyelamatan, analisis, dan penyebaran data kebudayaan Sunda kepada masyarakat di era digital.

“Kebudayaan Sunda memiliki arsip-arsip penting yang terkandung dalam media cetak, buku-buku, rekaman audio, dan dokumen lainnya,” katanya.

Budaya Sunda, katanya, pernah memiliki 300 jenis kesenian daerah. Hanya saja sebagian besar sudah hilang, sementara yang masih hidup dan berkembang diperkirakan hanya tingga 30-40 jenis saja.

Digitalisasi bermanfat untuk membangun karakter, meningkatkan ketahanan budaya, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, meningkatkan pengaruh bangsa Indonesia di dunia internasional.

Tantangan Pers Sunda

Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Jawa Barat, Hilman Hidayat, mengatakan selain mengarsipkan atau mendigitalisasi konten-konten lama, kita pun harus memproduksi jurnalistik dan konten-konten yang baru.

"Jika konten lama terdata secara digital, tetapi tidak memproduksi yang baru akan percuma,” katanya.

Menurut Hilman, pers berbahasa Sunda dan atau pers Sunda yang saat ini masih bertahan tinggal sedikit. Penerbitan pers Sunda pernah mengalami zaman keemasan antara tahun 1930-1960.

Hal itu diperkuat dengan data dari Dewan Pers. Saat ini media online jumlahnya hampir 55 ribu, tetapi yang berbahasa Sunda hampir tidak ada.

“Cek saja ke Dewan Pers, hampir tidak tumbuh,” katanya.

“Kalau tidak ada pers berbahasa Sunda, siapa yang bisa memotret konstruksi realitas masyarakat dengan kacamata orang Sunda? Kebanyakan dari mereka wartawannya sudah pensiun. Dan tidak tumbuh lagi. Dari 1.200 wartawan PWI, wartawan dari pers Sunda makin sedikit,” jelas Hilman.

Hal yang mengkhawatirkan, menurutnya, anggota PWI yang berada di pinggiran Jabodetabek kebanyakan bukan dari Jawa Barat, tapi dari wilayah Sumatra.

“Bagaimana  memotret orang yang banyak Sundanya, tapi dari kacamata budaya lain?,” katanya.

“Saya tidak yakin kalau ingin berbicara tentang kebangkitan budaya Sunda, tapi tanpa didukung media yang kuat. Memang banyak blog atau situs yang berbahasa Sunda. Tapi yang berbasis jurnalistik dan terverifikasi Dewan pers sangat sedikit. Lama kelamaan pers Sunda bakal hilang," jelas Hilman. 

Menurutnya, pekerjaan rumah kita bersama adalah membikin pers Sunda yang kuat untuk melestarikan bahasa Sunda meskipun nilai ekonominya hampir tidak ada.

“Kita jangan melihat ke belakang terus, tapi harus melihat ke depan dengan memproduksi konten-konten berbahasa Sunda,” katanya.

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers