web analytics
  

S. Goenawan Menyamar Jadi Siti Anah

Kamis, 19 November 2020 14:34 WIB Netizen Hafidz Azhar
Netizen, S. Goenawan Menyamar Jadi Siti Anah, Istri Merdika,Bahasa Sunda,Majalah Bahasa Sunda,bahasa Melayu,Siti Anah,kelompok merah di Bandung,Hindia Belanda

Majalah Istri Merdika edisi ketiga tanpa tahun. (Hafidz Azhar)

Hafidz Azhar

Penulis lepas, alumnus pascasarjana Kajian Budaya Unpad, Redaktur situmang.com

AYOBANDUNG.COM -- Suatu waktu tahun 1923, sebuah majalah terbit di Bandung yang dikeluarkan satu minggu sekali. Dilihat dari namanya, majalah ini dikhususkan untuk kaum perempuan dengan nuansa kover yang sangat sederhana. Lazimnya, di sebelah atas kover, terdapat tanggal atau tahun terbit. Sedangkan untuk majalah ini, tidak ada sama sekali. Di sana, hanya terdapat sebuah nomor edisi untuk mengganti tahun dan tanggal keluarnya. Nama majalah itu, Istri Merdika.

Selain menggunakan bahasa Sunda, majalah ini terbit menggunakan bahasa Melayu. Redakturnya hanya satu orang, dikelola oleh perempuan bernama Siti Anah. Rasanya, nama ini mirip dengan mantan seorang gundik yang pernah terjerat kasus pembunuhan berencana sampai seluruh jagat Hindia Belanda dibuat geger. Ia adalah Nyi Anah. Mantan tersangka yang dibela mati-matian oleh kelompok merah di Bandung.

Istri Merdika memang ditujukan untuk kalangan istri. Majalah ini berisi tentang hal-hal remeh temeh seputar isu keluarga dan peran perempuan di tengah pergerakan masyarakat. Ada juga tulisan terkait politik. Meskipun tidak sebegitu masif sebagaimana yang ditunjukkan oleh media-media propaganda yang lain. Hebatnya, majalah ini dikelola oleh satu orang, dan terbit dengan dua format bahasa.

Tahun 1923, iklim politik di Hindia Belanda sedang tinggi-tingginya. Tidak sedikit vergadering massa digelar di tiap daerah, termasuk di Bandung. Setelah diumumkan kebijakan bezuining satu tahun sebelumnya, banyak organisasi pekerja mulai menunjukkan sikap perlawanan terhadap Pemerintah, yang puncaknya terjadi pada bulan Mei. Pemogokan terjadi di mana-mana, dan menyeret beberapa orang aktivis berhaluan komunis ditangkap dan dipenjara. Dua di antaranya, S. Goenawan bersama Moh. Sanoesi. Mereka ditangkap dan dibui, hingga menyebabkan media yang dikelolanya harus mati beberapa bulan. Anehnya, saat mereka ditahan di balik penjara beberapa waktu, majalah Istri Merdika yang diurus oleh Siti Anah itu ikut padam seketika. Tentunya, ini menjadi sebuah pertanyaan besar bagi sebagian kalangan. Terutama bagi surat kabar yang mempunyai sikap bertolak belakang dengan pergerakan kaum merah di Bandung itu.

Berdasarkan penyelidikan Preangerbode, nama Siti Anah hanyalah nama buatan untuk mengendalikan Istri Merdika di belakang layar. Nama tersebut diketahui merupakan nama samaran yang digunakan oleh S. Goenawan. Hal ini diduga karena meredupnya majalah Istri Merdika untuk sementara waktu, bersamaan dengan ditangkapnya S. Goenawan akibat keterlibatannya dalam menghasut buruh kereta api pada bulan Mei 1923. Dalam kejadian ini, Preangerbode edisi 8 Juni 1923, melaporkan sebagai berikut:

“Sudah beberapa lama ini surat  kabar Matahari yang di bawah arahan M. Sanusi sudah tidak muncul lagi. Anehnya, majalah mingguan Istri Merdika (perempuan merdeka) yang disebut-sebut diedit oleh Siti Anah, yang juga sebagai direktur dan pengurus mingguan ini, tidak terbit selama beberapa minggu. Dari sebuah korespondensi dalam majalah-majalah Melayu, sekarang tampak bahwa Siti Anah ini tidak lain adalah Pak Goenawan, yang dikenal sebagai salah satu pemimpin yang ditangkap sehubungan dengan pemogokan tersebut. Ini sepenuhnya menjelaskan bahwa majalah itu bukanlah ditampilkan oleh wanita. Juga menjadi jelas bagaimana citra paksa tentang gerakan perempuan di Priangan diperoleh. Namun informasi lebih lanjut menjelaskan bahwa banyak artikel yang diluncurkan dengan nama berbeda di Istri Merdika itu, juga berasal dari pena laki-laki para pemimpin itu”

Dalam propagandanya, S. Goenawan memang sering menulis dengan menggunakan nama pena yang berbeda-beda. Kadang menggunakan nama yang agak lucu, pernah juga ia menyamar dengan nama yang begitu menyeramkan. Seperti pengguanaan nama Si Petjoet atau Neraka dalam koran Matahari. Artinya, Siti Anah yang menurut penyelidikan Preangerbode itu adalah S.Goenawan, mungkin saja terbukti benar. Sebab, indikasi itu mengarah pada pembuktian, bahwa Goenawan sering menggunakan nama samaran di media-media yang berafiliasi dengan kaum merah. Meskipun tulisan-tulisan dalam Istri Merdika sedikit lebih lembut daripada tulisan S. Goenawan yang terdapat di koran-koran merah lainnya. Seperti kisah yang berjudul, Chatidjah: Hidji Parawan Miskin nu Geus Djadi Korban, yang ditulis oleh Siti Anah sendiri. Walaupun ada juga tulisan yang mengarah pada isu politik seperti judul, Pamarentah djeung Rahajatna, tanpa nama penulis.

Indikasi lain terkait dugaan bahwa Istri Merdika dikelola oleh S.Goenawan, dapat dilihat juga dari sajian iklan di bagian dalam majalah. Seperti promosi surat kabar Matahari yang ditampilkan beberapa kali. Atau, iklan mengenai Sekolah Sarekat Islam yang didirikan Tan Malaka. Walaupun, alasan ini tidak begitu kuat, tapi sekurang-kurangnya mereka yang mengamati majalah tersebut menangkap sebuah kejelasan, jika media itu berafiliasi dengan koran-koran kaum merah di Bandung. Apalagi, sebagai pengurus besar Sarekat Islam merah, S. Goenawan juga merangkap sebagai pengurus koran Matahari. Alasan ini, mungkin saja digunakan oleh Preangerbode atau kelompok lainnya untuk menyelidiki pergerakan majalah Istri Merdika yang dianggap sebagai media yang dikelola oleh S. Goenawan.

Lalu, bagaimana dengan penggunaan nama Siti Anah? Ini juga menjadi sorotan. Sebab, kita dapat mengembalikan ingatan pada kasus Nyi Anah yang sedang berlangsung di tahun-tahun itu. Ia adalah mantan gundik yang dituduh membunuh suaminya. Karena ia tidak terbukti bersalah, maka ia dibebaskan dari semua jeratan, yang awalnya, hakim memvonis hukuman mati bagi Nyi Anah. Hubungan antara kasus ini dengan Goenawan tiada lain adalah upaya dalam membela si perempuan yang tertuduh ini. Sampai dengan dibebaskannya, Goenawan dan kawan-kawan komunis yang lain menganggap bahwa mereka sangat berandil besar terhadap penyelesaian kasus ini. Maka, boleh jadi, nama Siti Anah yang digunakan itu, berangkat dari nama Nyi Anah yang sedang dibelanya itu. Kendatipun hal ini hanyalah sebuah dugaan. Karena tidak ada bukti secara jelas sebab-sebab Goenawan menggunakan nama Siti Anah. Sekalipun penyelidikan yang dilakukan Preangerbode dalam menafsirkan laju pergerakan majalah Istri Merdika yang berhubungan dengan S. Goenawan. Mungkin saja, itu hanya sebuah dugaan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers