web analytics
  

Balada Mahasiswa Tingkat Akhir di Masa Pandemi Covid-19

Rabu, 18 November 2020 20:52 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Umum - Pendidikan, Balada Mahasiswa Tingkat Akhir di Masa Pandemi Covid-19, Mahasiswa Tingkat Akhir,Pandemi Covid-19,Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Ilustrasi -- Mahasiswa Tingkat Akhir. (Pixabay)

SUKAJADI, AYOBANDUNG.COM -- Pandemi Covid-19 yang merebak hingga kini membuat mahasiswa tingkat akhir kian merana. Sebenarnya, mereka sudah tidak bisa legawa lagi dengan masalah serius yang didatangkan dari virus berbahaya, covid-19. 

Sejak pertengahan Maret lalu segala aktivitas pendidikan termasuk, perkuliahan berlangsung secara online. Namun balada bagi mahasiswa tingkat akhir ini rupanya tak sampai di sana. 

Beberapa mahasiswa tingkat akhir saat ini tengah dibuat kalang kabut karena kesusahan untuk bisa langsung terjun ke lapangan untuk pengambilan data penelitian. Salah satunya dialami Ajeng Aidatul Fiqriah, Mahasiswa program studi Pendidikan Kewarganegaraan dari Universitas Pendidikan Indonesia (UPI).

"Berkuliah di tingkat akhir saat kondisi lagi pandemi, pikiran itu makin gak menentu karena pandemi covid-19 ini belum kelihatan ujungnya. Kekhawatiran pasti ada ketika kondisi seperti ini, apalagi kita sedang mulai menyusun skripsi dengan prosesnya yang serbaonline," kata Ajeng kepada Ayobandung.com, Rabu (18/11/2020).

Ajeng juga mengatakan, tugas akhirnya menjadi terhambat akibat sulitnya berkonsultasi dengan dosen. Selain rencana penelitian yang terganggu, ada kekhawatiran waktu yang terbuang membuat membengkaknya biaya kuliah yang bakal menjadi masalah tersendiri dalam beberapa bulan ke depan.

"Untuk penelitian pun jadi terhambat karena gak bisa melakukan penelitian secara langsung. Apalagi sekarang agak kesulitan untuk mahasiswa tingkat lahir untuk melakukan penelitian karena beberapa instansi lebih mengetatkan prokes juga," ucap Ajeng.

Gadis berlesung pipit itu juga mengungkapkan, hingga saat ini masih rutin melakukan bimbingan secara daring dengan dosen. Namun, mayoritas diskusi yang dilakukannya hanya melalui virtual baik dari aplikasi meeting online, pesan singkat, atau email. Kondisi tersebut, diakui Ajeng, dirasa kurang efektif karena terbatasnya waktu diskusi. Menurutnya, metode bimbingan virtual ini tidak sebebas bimbingan tatap muka karena keterbatasan sesi diskusi. 

"Situasi kayak gini itu makin mempersulit karena sudah mah harusnya kita lagi di masa program-program akhir gitu, yang harusnya banyak sekali melakukan bimbingan dan arahan. Tapi saat ini arahannya hanya bisa dilakukan secara online. Jadi hasil dari yang disampaikan itu terkadang kurang maksimal, kurang bisa terpahami dengan baik, karena hanya bimbingan secara online saja tanpa melihat instruksi yang jelas," ungkapnya.

Bukan hanya itu, Ajeng juga mengakui progres penelitiannya hingga mata kuliah praktikum terhambat. Padahal Ajeng mengatakan, dalam mata kuliah praktikumnya adalah kewajiban menghadiri persidangan di setiap pekannya. Namun karena kebijakan social distancing dan kuliah dari rumah mata kuliah praktikum tersebut urung terlaksana.

"Untuk mata kuliah praktikum harus ke tempat dan biasanya harus ada tatap muka dan ada arahan dari dosen secara langsung. Saya sendiri ada praktik Hukum Acara jadi kita harusnya melaksanakan simulasi sidang yang benar-benar menghadirkan suasana sidang tapi gak jadi," kata mahasiswa semester tujuh itu.

Ajeng juga merasa, beban mahasiswa di tingkat akhir kian banyak. Apalagi khusus untuk program studinya, mata kuliah Kuliah Kerja Nyata (KKN) disatukan dengan Program Pengalaman Lapangan (PPL) dalam semester yang sama. Padahal banyak model pembelajaran yang membutuhkan pemahaman mendalam dengan bimbingan intens dengan dosen. 

"Contoh, saya di jurusan kependidikan, untuk melakukan penelitian ke sekolah susah karena sekarang sekolah online, tidak ada tatap muka. Jadi agak sedikit takut untuk lulus tidak tepat waktu melihat kondisi kayak gini, karena proses dari sistem perkuliahannya sendiri jadi agak ngaret untuk perencanaan program kuliah di tingkat akhir ini," katanya.

Meski begitu, mahasiswa berusia 21 tahun itu tetap optimistis untuk berusaha menyelesaikan perkuliahannya dengan tepat waktu. Salah satunya dengan mencari alternatif yang sedianya bisa membantunya lulus tempat waktu. 

"Memang harus putar otak lagi, tapi kalau misalnya nanti lulus dan masih kondisi covid-19, sangat disayangkan sih. Ada kekhawatiran juga kalau masih pandemi susahnya cari lapangan pekerjaan karena banyak perusahaan yang mengalami kerugian atau penutupan peluang lapangan kerja, jadi agak sedikit dihantui kekhawatiran," ujarnya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers