web analytics
  

Tipu Penjual dengan Bukti Transfer Palsu, 2 IRT di Bandung Ditangkap

Selasa, 17 November 2020 15:23 WIB Fichri Hakiim
Bandung Raya - Bandung, Tipu Penjual dengan Bukti Transfer Palsu, 2 IRT di Bandung Ditangkap, Penipuan Belanja Online,Adobe Photoshop,bukti transfer palsu

Subdit Cyber Polda Jabar mengungkap kasus penipuan dengan motif bukti transfer palsu. Tersangka mengubah dan mengedit bukti transfer palsu yang dibuat sedemikian rupa agar menyerupai aslinya. (Ayobandung.com/Fichri Hakiim)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Subdit Cyber Polda Jabar mengungkap kasus penipuan dengan motif bukti transfer palsu. Tersangka mengubah dan mengedit bukti transfer palsu yang dibuat sedemikian rupa agar menyerupai aslinya.

Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Erdi A Chaniago mengatakan, tersangka melalukan transaksi pembelian pakaian melalui Whatsapp dan mengirimkan bukti transfer palsu. Barang pesanan sudah dikirim, namun uang tidak diterima oleh penjual. Salah satu perusahaan yang menjadi korban adalah PT Giordano Indonesia.

Tersangka melakukan manipulasi bukti transfer dengan cara menggunakan aplikasi croping pada ponsel. Selanjutnya, hasil croping disatukan atau digabung dengan menggunakan aplikasi Adobe Photoshop.

"Perkaranya ketika bulan Mei ada yang melapor terkait masalah penipuan. Modus operandinya mengirimkan bukti transfer fiktif terkait pesanan yang di pesan, buktinya diedit melalui aplikasi Adobe Photoshop. Bukti transfer itu dibuat mirip sedemikian rupa dan dikirim kepada suatu perusahaan yang dia pesan barangnya," ujarnya di Polda Jawa Barat, Selasa (17/11/2020).

Erdi menambahkan, tersangka tak hanya menipu tapi juga mencuri. Tersangka berinisial VA dan VI yang merupakan kakak beradik itu bekerja sebagai ibu rumah tangga di Kota Bandung.

"Modus pencurian dilakukan dengan memesan terlebih dahulu dengan penjual dan menentukan lokasi bertemu. Lalu, setelah bertemu dan mengambil barang, pelaku berdalih ingin mengambil uang terlebih dahulu, namun tak kunjung kembali dan melarikan diri. Dengan menipu dan mencuri, dua pelaku ditaksir mendapat keuntungan senilai Rp750 juta," katanya.

Pelaku melakukan aksi penipuan dan pencurian sejak tahun 2012 secara bergantian. Dalam beraksi, pelaku kerap berganti nomor ponsel.

"Hasil barang curian ataupun penipuan tidak dijual oleh pelaku, melainkan dipakai sendiri. Barang yang sudah didapat oleh pelaku tidak dijual lagi, tetapi dipakai atau diberikan ke tetangga. Ya untuk dinikmati sendiri," katanya.

Tercatat, 92 orang menjadi korban dalam kasus penipuan dan pencurian tersebut. Perusahaan ternama yang menjadi korban bukan hanya berada di Kota Bandung, melainkan ada juga di Medan, Surabaya dan Semarang.

"Setelah pelaku mengirimkan bukti transfer palsu, kemudian barang dikirim ke pelaku. Setelah barang dikirim lalu perusahaan tersebut menghubungi lagi pelaku, tapi pelaku memblokir nomor perusahaan itu." jelas Erdi.

Polisi turut mengamankan barang bukti berupa ponsel hingga pakaian. Akibat perbuatannya, dua pelaku disangkakan dengan Pasal 51 juncto Pasal 35 UU RI Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang UU Informasi Teknologi Elektronik dengan ancaman pidana maksimal 12 tahun.

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers