web analytics
  

Kemenparekraf Bangun Pariwisata Bali dari Mati Suri

Senin, 16 November 2020 18:56 WIB Aini Tartinia
Gaya Hidup - Wisata, Kemenparekraf Bangun Pariwisata Bali dari Mati Suri, Kemenparekraf,Pariwisata Bali

Pura Besakih di Kabupaten Karangasem, Bali. (Ayojakarta.com/Aini)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Pariwisata menjadi sektor andalan bagi masyarakat Bali dan juga menjadi penyumbang devisa yang besar bagi Indonesia melalui kedatangan para wisatawan.

Namun, seiring pandemi Covid-19 menyapa Tanah Air pada awal Maret 2020, kunjungan turis berangsur surut bahkan nyaris tak ada lagi wisatawan lokal dan asing yang datang.

Ida Bagus Prawira, 54 Tahun, seorang pria yang berprofesi sebagai pekerja paruh waktu di Travel Indigo ini mengaku Bali mengalami “mati suri” karena sama sekali tidak ada penghasilan di sektor pariwisata. Pasalnya, di bidang perhotelan, travel, cinderamata, mengalami kemunduran pesat karena pandemi.

“Sejak awal Maret lalu penerbangan domestik dan luar negeri ditutup, penurunan penghasilan saya sampai 90%. Bayangkan, sebulan biasanya dapat Rp10 juta, selama pandemi ini dapat Rp1 juta,” ujar pria yang kerap disapa Bli Wira ini kepada Ayojakarta, Minggu (15/11/2020).

Berdasarkan pengamatan Ayojakarta, saat berkunjung ke Krisna pada Sabtu (15/11/2020), salah satu toko oleh-oleh terbesar di Bali, pengunjung memang terlihat sedikit dan jumlah pegawai yang melayani dibatasi. Selain itu, jam operasional toko tutup lebih awal dari sebelumnya.

Contoh lainnya, saat berada di kawasan Pura Besakih, Karangasem, Bali toko cinderamata yang biasa menjual aneka pernak-pernik unik semuanya tutup dan hanya tersisa puluhan lonceng angin di luar toko yang ditinggalkan bergelantung di luar toko.

Bli Wira mengungkapkan, mau tak mau, masyarakat Bali menjalani alternatif lain yakni ada yang bertani sayur lalu menanam palawija, berdagang online, bahkan menjadi nelayan bagi mereka  yang tinggal di daerah pesisir pantai pun dilakukan agar dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Dia juga mengaku saat ini menempuh jalan alternatif dengan berjualan nasi kuning untuk menambah penghasilan yang hanya sedikit didapatkan dari Travel selama pandemi Covid-19.

“Kebetulan saya bisa bikin nasi kuning, lalu dijual online. Walaupun tidak sebanding pendapatan normal dahulu. Tapi, setidaknya sebagai basic need selama pandemi,”

Direktur Pemasaran Pariwisata Regional I, Vinsensius Jemadu, menyatakan pihaknya selalu berinovasi melakukan upaya untuk menarik minat wisatawan domestik agar kembali meramaikan Bali

“Webinar dengan pelaku pariwisata bali, reaktivasi pariwisata dengan tiga tahap: staycation, roadtrip dan antar pulau melalui kerjasama dengan online travel agent (OTA),” ujar Vinsensius dalam keterangan tertulis, Sabtu (14/11/2020).

Vinsensius menjelaskan upaya tersebut di antaranya kerjasama dengan maskapai penerbangan seperti Garuda Indonesia, Air Asia untuk mengundang key opinion leader (KOL) dan media. Lalu, kerjasama dengan Traveloka untuk menjual paket-paket dan promo hotel melalui “Epic Sale” atau “Great Sale” dan diskon, bahkan potongan voucher.

Selain berupaya menaikkan jumlah wisatawan, terdapat pula upaya insentif yang diberikan untuk pelaku usaha pariwisata yang terdampak pandemi Covid-19.

“Upaya yang dilakukan dengan memberi voucher discount kepada Travel Agent, Tour Operator dan UMKM (Usaha Mikro Kelas Menengah) di beberapa daerah di Indonesia dalam program insentif,” ujarnya.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers