web analytics
  

Dituduh tak Bertuhan, S. Goenawan Ajak Debat Redaktur Kaoem Moeda

Senin, 16 November 2020 13:37 WIB Netizen Hafidz Azhar
Netizen, Dituduh tak Bertuhan, S. Goenawan Ajak Debat Redaktur Kaoem Moeda, Sarekat Islam Merah,S Goenawan,Padmawiganda,Kaoem Moeda,Preangerbode

Pertemuan anggota dewan di Bandung tahun 1926. (Dok. Leiden University Libraries Digital Collections)

Hafidz Azhar

Penulis lepas, alumnus pascasarjana Kajian Budaya Unpad, Redaktur situmang.com

AYOBANDUNG.COM -- Pengurus besar Sarekat Islam Merah afdelling Bandung, S. Goenawan, mengajak debat terbuka kepada Padmawiganda, setelah menuduhnya sebagai orang tak bertuhan. Padmawiganda, redaktur koran Kaoem Moeda itu telah membuat geram S. Goenawan hingga ia menantangnya dengan keras. Bahkan, bukan hanya Padmawiganda yang jadi sasaran, pemimpin redaksi Preangerbode pun tidak lepas dari kecaman, karena diduga sama-sama terlibat untuk menyerang Goenawan.

Menurut pengakuan Goenawan, bahwa Padmawiganda terhitung sudah mencaci makinya sampai tiga atau empat kali lewat media yang dikelolanya. Hal ini, rupanya mengakibatkan Goenawan hilang kesabaran, sehingga patut untuk membuat Padmawiganda menyadari kekeliruannya itu. Maka, melalui koran Matahari S. Goenawan mulai memproklamirkan dan menabuh gendang berperang sebagai bentuk perlawanan untuk menyerang balik redaktur koran berbahasa Melayu itu.

“Toean Padmawiganda, Redacteur Kaoem Moeda, Soendanees penoelis Kaoem Moeda, keok, Bodor Kaoem Moeda, soedah 3-4 kali ini mengeloearkan hampedoenja boeat mentjoetji maki pada saja S. Goenawan dikatakannja bahwa saja tida bertoehan, bahwa saja boekan Islam dan lain-lain perkataan jang melanggar peri kesopanan! Pangkal dari ini tjoetji makian ialah sebenarnja asal dari perkara Pangeran Soemedangweg jang soedah diprotest oleh P.C.P.A. maka setjara lakoe jang rendah, tiga toean-toean itoe laloe menjerang diri saja setjara persoonlijk. Sekarang tjoekoeplah soedah boeat datang pada gilirannja!” (Matahari edisi tahun 1922).

Sebagai yang dicap anti-bertuhan, Goenawan tampak tidak segan dan ingin memperlihatkan kepada masyarakat, jika salah satu tudingan Padmawiganda tersebut hanyalah suatu kebencian personal. Dengan sikap gentle yang ditunjukkannya, dia ingin agar Padmawiganda segera menjawab ajakannya untuk menggelar debat terbuka. Atau, bila perlu, Goenawan akan mengundang dan menghadirkan banyak masyarakat Bandung supaya dapat menilai siapa yang salah di antara kedua orang yang terlibat perselisihan sebelumnya.

“Jangan dari belakang! Marilah kita berhadap-hadapan, setjara laki-laki, baik siang maoepoen malam, mari lekas kita adakan sadja Openbare debat Vergadering, oendanglah semoea poebliek Bandoeng boeat toeroet menjaksikan, biar tahoe siapakah di antaranja empat orang (Padmawiganda, Soendanees, Keok dan S. Goenawan) jang tidak bertoehan dan tida beragama Islam! Sebab ini ada mengenai perkara agama, baik kita adakan di masigit sama sekali! Toean Padma lekaslah djawab biar saja ada tempo membikin bulletin mengondang sekalian poeblik Bandoeng.” (Matahari edisi tahun 1922).

Sementara itu, ajakan untuk pertemuan terbuka di hadapan umum, berlaku juga kepada pengurus redaksi koran Preangerbode, B. Daum. Konon, B. Daum, turut serta bersama Padmawiganda untuk mengolok-olok Goenawan dan menampilkan tudingan-tudingan yang sangat tendensius. Setelah kejadian yang menyeret dua redaktur itu kepada kasus Pangeran Sumedang sebelumnya.

“Toean B. Daum, Hoofdredacteur Preangerbode Bandoeng: Setjara laki-laki, setjara sopan, lekas djawab permintaan saja jang termoeat dalam Matahari nomer doea kapan? Hari mana? Siang atau malam? Boeat toean bertoekar fikiran dengan saja? Saja sendiri dalam tempat jang terang! (Openbare debat vergadering) dari perkaranja Pangeran Soemedangweg jang toean poen soedah toeroet menggonggong mentjoetji maki saja! Pertahankanlah keyakinan toean dari perkara ini nanti! Saja toenggoe dengan lekas soepaja saja ada tempo boeat mengondang poeblik Bandoeng. Bilamana balasan toean datang nanti saja saja akan minta idinnja pembesar negeri di Bandoeng. Boeat memberi tempat di Aloen-aloen sama sekali. Djangan menggonggong dari belakang!” (Matahari edisi 1922).

Sebagimana telah disebutkan, bahwa perlakuan buruk yang datang dari Padmawiganda maupun pihaknya yang lain adalah imbas dari kebijakan kontroversial yang dilakukan Pangeran Sumedang. Dalam perkara ini, Pangeran Sumedang dianggap telah melukai hati masyarakat Pribumi, yang salah satunya, melawan rakyat dengan cara konsolidasi bersama Pemerintah Hindia Belanda dan kelompok-kelompok yang anti pada gerakan revolusi. Akhirnya, beberapa organisasi massa yang dihadiri oleh utusan SI, N.I.P. dan I.S.D.P., lalu memperotes sikap Pangeran Sumedang itu. Dengan menekankan empat poin berikut:

“1) Pangeran Soemedang almarhoem diseboet menoeroet pikiran kami selaloe melawan kehendak Rajat dan mengawani pemerentahan asing 2) Ia tida mengerti dan tida pertjaja pada pergerakan kaoem Rajat dan mentjela pikiran hati mereka 3) Ia mesti dianggap soeatoe Regeerings ambt. (kantor pemerintahan) tjap koeno (oede stempel) jang memikirkan dan mendjalankan kewadjibannja seperti aristocratie (orang terpeladjar), tida memperhatikan kehendak Rajat, atau sama sekali tida memandang mereka itoe 4) Sebab itoe Rajat sedikitpoen tida soeka memperingati orang terseboet diatas” (Matahari 3 Agustus 1922).

Meski buntut kejadian yang menyebut-nyebut Pangeran Sumedang itu mereda, nampaknya, rengrengan Padmawiganda tidak kapok menimbulkan perkara lain dengan kelompok Goenawan Cs.

Sebagai media kaum merah, rengrengan Matahari tentu tidak bisa tinggal diam dengan adanya serangan dari pihak yang dianggapnya musuh. Mereka membalasnya dengan mengolok-olok Padmawiganda dan kelompok-kelompok yang berada di sebelah kanan Kaoem Moeda.

Seperti pada Matahari 9 September 1922, kali ini, kisruh terjadi antara Si Petjoet, dengan koran Kaoem Moeda. Konon, surat kabar yang dinahkodai Padmawiganda itu, telah mengutip tulisan salah seorang kelompok komunis. Sehingga Si Petjoet yang dalam hal ini digunakan S. Goenawan sebagai nama samaran, menyindir Kaoem Moeda karena menurutnya mereka harus mengakui dirinya sebagai pengikut komunis ketimbang mengekor pada organisasi bentukan pemerintah Hindia seperti P.E.B. Tak ada jawaban dari pihak Kaoem Moeda mengenai persoalan ini. Begitupun dengan tantangan berdebat yang dilayangkan S. Goenawan kepada Padmawiganda.

Tidak ada keterangan yang menyebutkan, jika Padmawiganda menjawab atau menerima tantangan debat terbuka itu. Pantas saja, Goenawan Cs. menyebut Padmawiganda sebagai “Toean Keok”, yang juga berarti Tuan Kalah.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers