web analytics
  

CERITA ORANG BANDUNG: Aan Merdeka Permana Penulis yang Tak Pernah Kekeringan Ide

Jumat, 13 November 2020 10:32 WIB Dudung Ridwan
Bandung Raya - Bandung, CERITA ORANG BANDUNG: Aan Merdeka Permana Penulis yang Tak Pernah Kekeringan Ide, Aan Merdeka Permana,CERITA ORANG BANDUNG,Kang Aan,Penulis di Bandung

Jurnalis dan sastrawan Aan Merdeka Permana (ayobandung/Dudung Ridwan )

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM – Tak sulit untuk menemukan rumah Kang Aan, sapaan akrab, penulis Aan Merdeka Permana. Kalau dari arah Cicaheum, teruslah hingga tiga kilometer lagi ke arah timur. Pas tikungan sebelum tanjakan Sukamiskin, berhentilah. Ada gang kecil ke kiri. Sebuah gang sempit, yang cukup untuk satu motor.

Rumah-rumah berhimpitan di kanan kiri. Semakin ke dalam, semakin menanjak, dan semakin menyempit seperti leher botol. Kalau ada motor yang datang dari arah berlawanan, tampaknya salah satu harus berhenti mengalah. Nah, sekira 150 meter, tanyakan nama Pak Aan Wartawan, pasti orang-orang akan menunjukkan rumahnya.

Ketika Ayobandung.com datang pada Kamis, (13/11/2020), Kang Aan sudah menunggu dengan bercelana pendek di rumahnya yang sempit. Garis-garis tua tampak dari wajahnya, tapi tak menghilangkan keramahan ketika ia menyambut dengan tawa khasnya. Tak lama kemudian, istri Kang Aan menyodorkan dua cangkir teh panas.

Tak banyak yang berubah dari rumah yang berada di Kampung Kertasari Kelurahan Karangpamulang Kecamatan Mandalajati, Kota Bandung. Dulu, kampung ini terkenal dengan sebutan Kampung Newblek. Hampir 5 tahun lebih penulis terakhir berkunjung ke rumahnya.

Di ruang kerja sekaligus ruang tamu itu penuh dengan buku dan naskah-naskah garapannya. Kursi sofa kesayangan Kang Aan masih ada. Kursi Sofa itulah tempatnya setiap hari duduk mengetik, menulis artikel, menulis naskah buku, dan lain-lain. Tapi, terasa ada yang hilang.

“Mana komputer nu baheula?” tanya penulis.

“Wah, geus butut. Diganti ku laptop ieu. Tapi, ieu ge nu incu,” jawab Kang Aan yang pada tahun 2020 ini genap berusia 70 tahun.

Dari sofa di rumah sempit warna merah itulah lahir, sejumlah karya. “Saya tidur setelah Isya. Bangun pukul 2 malam. Mulai duduk di sofa itu. Buka laptop. Terus mengetik hingga ketemu Isya lagi. Saya baru beranjak kalau salat, mandi, makan. Begitu setiap hari,” kata Kang Aan.

Menurut Kang Aan, kalau ditanya sudah berapa banyak karya yang dihasilkan--saking banyaknya--ia lupa. “Kalau dikira-kira, ya sekitar 150 novel. Kalau carpon atau cerpen lebih dari 1.000 judul. Belum dihitung, satu novel itu ada yang 12 seri seperti misalnya Silalatu Gunung Salak,” kata Kang Aan.

Soal kualitas karya-karyanya, bagi Kang Aan itu bukan tujuan utama. Terserah ia mau disebut sastrawan atau bukan. Terserah ia mendapat cibiran atau sanjungan dari pengamat sastra. “Semua karya saya, saya serahkan kepada pembaca yang menilai. Saya percaya, setiap penulis mempunyai pasarnya sendiri. Ada yang suka buku-buku sastra. Begitu pun karya saya ada pembacanya sendiri. Yang penting saya bisa terus menulis. Sebab, kabisa saya ngan cuma menulis. Dapur saya ngebul karena saya menulis,” katanya.

Meskipun begitu, di antara karyanya Sasakala Bojong Emas meraih penghargaan “Hadiah Samsudi Rancage” pada tahun 2009 dari Yayasan Kebudayaan Rancage. Kang Aan sendiri meraih penghargaan Anugerah Budaya Nusantara dari Partai Amanat Nasional Tahun 2017.

Sejumlah karya-karya Kang Aan di antaranya, buku Sunda: Silalatu Gunung Salak; Sasakala Bojong Emas; Pasukan Siluman H. Prawatasari; Sriman Sriwacana Palangka Raja; Rambut Kasih; Misteri Rawa Onom; Rusiah Pelet Marongge; Saritem.Buku Bahasa Indonesia: Senja Jatuh di Pajajaran; Kunanti di Gerbang Pakuan; Memburu Kitab Karatuan Sunda; Dendam Surawisesa; Gadis Tionghoa; Pangeran Nusantara Jaya.

IMG-20201113-WA0004

Bakat yang Diturunkan dari Ayahnya

Menurut Kang Aan, ia menulis sejak SMP. Mungkin bakatnya itu diturunkan dari ayahnya yang suka menulis naskah drama di Gang Masjid, Cicadas. Selain itu, sejak SD, Kang Aan memang suka menonton drama Sunda di Cicadas. Dari menonton drama itulah, ia mengenal Pajajaran. Prabu Siliwangi. Dan ia mulai senang bercerita. Dari situlah, bakat menulisnya tumbuh.

Tulisan pertamanya tahun 1964-an berupa sajak dimuat di rubrik “Pertemuan Kecil” asuhan Saini KM di Pikiran Rakyat. “Waktu itu saya bangga sekali. Tulisan saya berjejer dengan sastrawan Yayat Hendayana dan Wahyu Wibisana,” kata Kang Aan.

Setelah itu, carponnya dimuat di majalah Mangle. Temanya bukan tentang anak-anak, melainkan  tentang kesengsaraan seorang guru. “Carpon itu sebenarnya bercerita tentang ayah saya yang merupakan seorang guru,” kenangnya.

Lalu, pergilah Kang Aan bersepeda mengambil honor ke majalah Mangle. Si sekretaris redaksinya, bertanya kepada Aan kecil mana surat kuasanya? Aan kecil waktu itu bingung surat kuasa apa sebab dia sendiri yang menulis carpon itu. Rupanya si sekred tidak percaya bahwa carpon itu dibuat oleh Kang Aan yang masih SMP.

Setelah itu, tulisan demi tulisan mengalir. Tahun 1974 Abdullah Mustafa, yang bekerja di Mangle, meminta Kang Aan untuk magang, membantunya di Mangle. Di Mangle, Kang Aan hanya bisa bertahan empat tahun.

Lalu, Kang Aan tahun 1978 pindah menjadi Redaktur Pelaksana koran Sipatahoenan. Kantor Sipatahoenan bertempat di Jalan Sumatra. Kini, kantor Paguyuban Pasundan. “Di Sipatahoenan gajinya lebih besar, tetapi lebih capek karena berupa koran harian. Jadi, harus kerja setiap hari,” kata Kang Aan. Di Sipatahoenan, Kang Aan digembleng oleh penulis-penulis besar.

Sama, di Sipatahoenan Kang Aan bertahan empat tahun hingga tahun 1982. Setelah itu, berbagung dengan Galura bersama Us Tiarsa, baik sebelum atau sesudah diambil alih oleh Pikiran Rakyat. “Di Pikiran Rakyat jadi tenaga magang selama 13 tahun. Tapi, setiap tulisan yang dimuat dibayar. Jadi gajinya terasa besar,” kata penulis yang tak lulus dari Akademi Bahasa Asing Jurusan Bahasa Jepang ini.

Di Grup Pikiran Rakyat, selain di Galura, juga membantu Kabar Priangan di Tasikmalaya. Pensiun di PR tahun 2007. Lalu, mendirikan Ujung Galuh yang karena kurang modal hanya bertahan 22 nomor.

Ide Menulis Tak Pernah Kering

Kang Aan setiap hari menulis. Tak peduli apakah tulisannya bakal dimuat/diterbitkan atau tidak. Yang penting menulis. Entahlah, idenya selalu ada. Tak pernah kering. Kalau tidak dituliskan hari itu, besok takut lupa. Katanya, di dalam pikiran ini antre berbagai ide yang belum tertuliskan. “Malah, saya takut mati karena belum semua ide ini tertuliskan semua,” kata Aan berseloroh.

Kang Aan tak pernah menawarkan tulisan ke penerbit, apalagi setelah ia pensiun dari Pikiran Rakyat. Ia fokus mendirikan Penerbit CV Pajajaran Mandiri untuk menampung tulisan-tulisannya. Lalu, buku-bukunya ia jual sendiri melalui facebook. “Ada saja pembelinya. Kebanyakan dari luar daerah,” katanya. Tapi ada juga  penerbit lain yang datang. Ia tinggal menyodorkan naskah yang sudah ada. “Saya tidak menawarkan tulisan ke koran. Suka tidak dikasih tahu apakah itu terbit atau tidak. Malah, tahunya kata orang. Kecuali kalau redakturnya yang minta, saya kasih.”

Menurutnya, ia pernah menulis tiga novel dalam dua hari. Ketika itu ada yang pesan buku banyak. Pembelinya berjanji akan membeli semua judul bukunya, termasuk di antaranya buku yang baru dibuat berupa judulnya saja. “Saya menulis tiga novel selama dua hari. Dua hari itu, saya ngagudrud we ngeutik. Tidak beranjak dari kursi sofa. Untung setiap novel isinya tak terlalu panjang, berupa novelet. Ya, 70 halamanan lah,” jelasnya.

Selama 50 tahun jadi penulis, ia tidak pernah merasa kaya. “Tapi, keluarga saya tidak mati karena kurang makan,” katanya mengakhiri.

Editor: Andres Fatubun
dewanpers