web analytics
  

Fresh Graduate Menangis Menyambut Resesi

Kamis, 12 November 2020 12:21 WIB Netizen Maudy Destiani
Netizen, Fresh Graduate Menangis Menyambut Resesi, Fresh Graduate,Indonesia resesi,Mencari Kerja,Pandemi Corona

Ilustrasi. (Pixabay)

Maudy Destiani

Penulis lepas.

AYOBANDUNG.COM -- Menjelang akhir tahun 2020 yang amat tak terasa ini, negara tercinta dihadapkan dengan kenyataan bahwa resesi bukan lagi di depan mata, melainkan telah ikut berbaur menambah keruh kehidupan di tengah pandemi. Masyarakat sudah cukup sulit menerima kondisi ketika kebiasaan lama harus diubah secara total dengan berkiblat pada protokol kesehatan yang belum lama tercipta. Kini beban mereka lagi-lagi bertambah seiring dengan kabar bahwa perkembangan ekonomi di Indonesia terus menurun.

Mulanya pemerintah menjanjikan bahwa Indonesia tidak akan mengalami resesi. Namun lambat laun dampak pandemi yang berkepanjangan ini memaksa kita untuk menikmati situasi tersebut. Alhasil semua kalangan ikut merasakan betapa pedihnya menjalani keseharian di bawah bayang-bayang krisis ekonomi.

Sebelum mengungkap lebih lanjut, alangkah baiknya kita mengetahui terlebih dahulu apa itu resesi dan bagaimana dampaknya pada masyarakat. Resesi merupakan proses penurunan aktivitas ekonomi dalam dua kuartal berturut-turut dengan jangka waktu kurang lebih satu tahun. Dampak yang paling besar dari resesi ini adalah adanya pemutusan hubungan kerja (PHK) masal yang menyebabkan tingkat pengangguran dan kemiskinan semakin meningkat.

Indonesia kini sampai pada titik terendah. Dalam beberapa bulan terakhir dua kuartal telah dilalui dengan angka mencapai minus 5,32% di kuartal II dan minus 3,49% di kuartal III. Data ini didapat berdasarkan pernyataan Badan Pusat Statistik (BPS) yang juga menjadi penegas bahwa Indonesia resmi terkena resesi.

Mungkin bagi sejumlah kalangan menengah atas dapat mengantisipasi resesi ini dengan berbekal aset yang mereka miliki untuk menyambung hidup. Lantas bagaimana nasib masyarakat menengah ke bawah untuk dapat bertahan hidup di tengah derasnya ujian pandemi ini?

Meninggalkan masyarakat kalangan atas maupun bawah, mari kita alihkan perhatian sejenak pada para pemuda yang nasibnya tak kalah terdampak. Para pemuda yang baru saja menyelesaikan studi mereka dengan harapan dan perjuangan baru untuk menyambut kehidupan yang sebenarnya. Biasanya mereka menyandang gelar “Fresh Graduate yang menjadi penegas bahwa mereka telah menyelesaikan misi sebagai seorang mahasiswa.

Di tengah harapan tinggi para fresh graduate untuk segera mendapatkan pekerjaan, kenyataan bahwa negara ini terkena resesi menjadi mimpi yang amat buruk sekaligus mengikis harapan mereka. Jangankan kondisi resesi, mencari kerjaan di zaman sekarang dalam situasi normal saja sudah sulit.

Persaingan dalam mencari kerja bukan lagi dirasakan antar-sesama fresh graduate melainkan dengan para pekerja yang juga terkena dampak PHK. Lapangan kerja yang semakin sempit namun para pelamar yang semakin melonjak menimbulkan ketidakseimbangan. Alhasil, beberapa di antaranya terpaksa harus mengalah dengan membanting setir untuk bisa bertahan hidup.

Bagi sejumlah perempuan yang baru lulus bisa saja membantingkan setir dengan cara menikah dan membebankan perekonomian kepada pasangannya. Namun apa daya bagi seorang lelaki atau bahkan perempuan lainnya yang tetap bertahan menerjang kerasnya kehidupan demi menemukan sebuah pekerjaan. Mau tak mau, mereka dituntut untuk saling senggol menyenggol demi mendapatkan posisi sebagai seorang pekerja.

Lapangan kerja saat normal saja sudah cukup sempit, ditambah lagi dengan adanya resesi ini sudah terjawab bagaimana kondisinya. Fresh graduate harus membuka mata selebar-lebarnya dan melihat kenyataan bahwa banyak perusahaan yang melakukan PHK dibandingkan dengan menyediakan lapangan kerja. Untuk itu, PR mereka bukan hanya menggantungkan harapan untuk bisa bekerja di kantor A atau B, namun lebih kepada bagaimana cara mereka berkontribusi untuk menstabilkan perekonomian bukan malah menambah banyak jajaran para pengangguran.

Sudah jelas bahwa tekanan fresh graduate di masa pandemi ini sangat berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya. Tuntutan mereka bukan lagi berupa skill untuk menunjang pekerjaan, melainkan skill untuk dapat mempertahankan diri dari status pengangguran. Ide-ide cemerlang dari mereka sangat diperlukan guna mengurangi angka kemiskinan. Beratnya beban yang dipikul oleh lulusan pandemi ini membuat stres tak keruan.

Umumnya, kita tentu menginginkan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang kita pelajari di bangku universitas. Dengan begitu ilmu-ilmu yang telah dipelajari dapat diaplikasikan dalam dunia kerja sehingga lingkup perkuliahan dan pekerjaan dapat berkesinambungan. Namun lain cerita jika kondisinya seperti saat ini.

Apabila kita tetap menjungjung tinggi jiwa idealis serta ego untuk mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan apa yang kita inginkan, maka kita akan dihadapkan dengan dua kemungkinan. Pertama, peluang keberhasilannya jauh lebih sedikit dibandingkan dengan kegagalannya. Kedua, kita harus berhadapan dengan situasi yang menghantui sekaligus mengancam kita untuk menjadi salah satu bagian dari beban negara yakni pengangguran. 

Dikatakan sebagai beban negara karena pada dasarnya entah itu dalam situasi normal, krisis ataupun resesi, banyaknya pengangguran tentu mempersulit keadaan. Resesi yang mengakibatkan pengangguran atau pengangguran yang memperpanjang resesi keduanya bukan suatu hal yang tepat untuk saling menyalahkan.

Keberadaan fresh graduate di tengah resesi tidak sepenuhnya menjadi mimpi buruk. Meski kondisi perekonomian negara sedang terpuruk, bukan berarti para pemuda fresh graduate juga kehilangan harapannya. Sesulit apapun kondisi saat ini, menjadi pengangguran bukanlah pilihan akhir bagi para fresh graduate. Namun kembali lagi, pilihan tersebut bergantung pada pola pikir masing-masing.

Jika kita lebih peka dalam membaca situasi, mungkin kita akan berpikir langkah apa yang harus dilakukan untuk menghindari status pengangguran dalam situasi resesi. Biasanya ide-ide cemerlang akan muncul ketika kita berada dalam kondisi penuh tekanan. Namun lain lagi jika kita hanya menggantungkan satu harapan sebagai seorang pekerja di perusahaan tertentu. Manakala keinginan tersebut tak tercapai, akan sulit bagi kita membangun harapan baru tanpa adanya perencanaan.  

Mengantisipasi perekonomian bagi para fresh graduate dapat dilakukan salah satunya dengan cara menurunkan idealisme dan ego untuk dapat bekerja di mana saja. Jangan hanya karena gengsi lantas menyia-nyiakan lowongan pekerjaan yang ada. Selagi pekerjaan tersebut dapat dilakukan sesuai dengan kemampuan, maka apa salahnya untuk mencoba dan menjadikannya sebagai batu loncatan.

Beralih perihal materi, rata-rata fresh graduate memiliki ekspetasi tinggi terhadap salary yang didapatkan ketika mereka berhasil menjadi seorang pekerja. Keinginan untuk mendapat penghasilan yang baik tentunya bukan hanya impian para fresh graduate saja. Setiap orang tentu ingin mendapat penghasilan yang dapat menunjang kebutuhan hidup mereka.

Sah-sah saja apabila fresh graduate memiliki standar tersendiri untuk memperhitungkan berapa banyak keuntungan yang akan mereka dapatkan ketika menjalani profesi tertentu.  Namun dapat kita ingat bahwa kesuksesan tidak akan didapat secara instan. Apalagi jika kita menentukan standar salary namun tidak dibarengi dengan kemampuan yang mumpuni. Hal tersebut tidak akan membuahkan hasil apapun.

Kembali lagi pada topik antara fresh graduate dengan kondisi resesi yang saat ini sedang dialami oleh semua kalangan. Meski resesi tengah melanda negara kita dan kenyataan bahwa PHK lebih banyak dibandingkan dengan lapangan kerja, kita tidak boleh meratapi nasib begitu saja. Mental dan kreatifitas pemuda saat ini sedang diuji dan dinantikan kontribusinya. Sehingga menyerah jelas bukanlah sebuah pilihan.

Jangan hanya terpuruk pada bayangan resesi yang memiliki dampak besar terhadap perekonomian. Kekhawatiran bukan hanya dirasakan oleh fresh graduate saja, melainkan seluruh kalangan baik itu atas maupun bawah. Namun jangan biarkan rasa khawatir itu sebatas pikiran yang tidak didampingi dengan tindakan. Tetap optimis karena kita semua tahu bahwa hasil yang baik didapat berdasarkan perjuangan yang melelahkan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers