web analytics
  

Susuri Ciliwung, Bima Arya Ungkap Banyak Limbah dari Pabrik Tahu

Kamis, 12 November 2020 12:01 WIB Husnul Khatimah
Umum - Regional, Susuri Ciliwung, Bima Arya Ungkap Banyak Limbah dari Pabrik Tahu, Ekspedisi Ciliwung,Wali Kota Bogor Bima Arya,Sungai Ciliwung,Sampah Ciliwung

Wali Kota Bogor Bima Arya bersama Komunitas Peduli Ciliwung (KPC) mengarungi sungai Ciliwung sejauh kurang lebih 75 kilometer dari Sukaresmi, Kota Bogor hingga ke Pintu Air Manggarai, DKI Jakarta, menggunakan perahu karet. (dok. Humas Pemkot Bogor)

BOGOR, AYOBANDUNG.COM -- Wali Kota Bogor Bima Arya bersama Komunitas Peduli Ciliwung berhasil menuntaskan ekspedisinya dalam waktu 16 jam dalam pengarungan Sungai Ciliwung sepanjang 70 kilometer menggunakan perahu karet.

Pintu Air Manggarai, Jakarta, menjadi titik akhir ekspedisi Bima Arya dan tim setelah sebelumnya melintasi wilayah mulai dari Kota Bogor, Kabupaten Bogor, dan Kota Depok.

Tidak sekadar pengarungan, ada misi yang ingin disampaikan dalam kegiatan tersebut. Bima mengaku sepanjang perjalanan pihaknya banyak mencatat titik pembuangan sampah dan limbah. 

"Jadi, titik warga yang buang sampah di sungai kita catat. Dari Bogor sampai Depok ada 34 titik. Tapi dari Depok sampai Manggarai itu ada ratusan titik," ungkap Bima Arya, Rabu (12/11/2020).

Ia juga mengungkapkan, mayoritas limbah di Ciliwung berasal dari pabrik tahu. Pabrik-pabrik yang membuang limbahnya sembarangan itu berjumlah belasan di sepanjang Ciliwung.

"Kemudian ada limbah yang dibuang langsung ke sungai, kebanyakan pabrik tahu. Dari Bogor sampai Depok ada 11 (pabrik tahu), dari Depok sampai Jakarta ada belasan juga,” katanya.

Bima Arya menyatakan bahwa Ciliwung ini adalah urusan bersama.

"Ketika dari Depok ke Jakarta itu airnya semakin bau, semakin cokelat, semakin banyak kiri kanannya itu timbunan sampah, baik yang dibawa banjir maupun sampah dari warga yang tinggal di sepanjang aliran sungai,” ujar Bima.

Di Kota Bogor, lanjut Bima, sudah melakukan sejumlah program terkait lingkungan. Selain menerapkan program pengurangan penggunaan kantong plastik di retail modern, juga membentuk Satgas Ciliwung. 

“Kelihatannya kita perlu banyak dibantu juga di wilayah Depok. Karena kalau Depok sampai Jakarta ini tergarap, banjir Jakarta akan jauh lebih berkurang,” terang Bima. 

Selain itu, kata Bima, ada hal jauh lebih penting lagi, yakni membangun infrastruktur untuk membentuk kultur. Menurutnya, perlu pembangunan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) di sejumlah kampung agar masyarakatnya tidak membuang sampah sembarangan.

“Kan tidak mungkin melarang orang buang sampah tapi tempat sampahnya tidak ada, melarang warga buang air tapi IPAL-nya tidak dibangun," jelasnya.

Ekspedisi tersebut diikuti 12 perahu karet dari Bogor ke Depok yang berisikan para penggiat lingkungan, seperti Komunitas Peduli Ciliwung dan Satgas Ciliwung serta didukung oleh Federasi Arung Jeram Indonesia (FAJI) dan unit rescue dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers