web analytics
  

Musim Hujan dan Covid-19, Pebatik Cirebon Buat Jas Hujan APD

Rabu, 11 November 2020 19:06 WIB Erika Lia
Bisnis - Finansial, Musim Hujan dan Covid-19, Pebatik Cirebon Buat Jas Hujan APD, Ekonomi & Bisnis,Berita Cirebon,batik,Alat Pelindung Diri (APD),COVID-19

Jas hujan etnik APD yang memanfaatkan kain batik dan tenun sebagai aksen pada beberapa bagiannya. (Ayocirebon.com/istimewa)

LEMAHWUNGKUK, AYOCIREBON.COM -- Terinspirasi alat pelindung diri (APD) yang ramai muncul selama pandemi, seorang pelaku usaha batik Cirebon membuat jas hujan dan menamainya Etnik APD.

Etnik, sebab jas hujan yang dibuat dari bahan waterproof ini menambahkan aksen kain bermotif batik maupun tenun pada beberapa sisinya. Kain yang digunakan sendiri merupakan perca yang dinilai dibuang sayang.

"Dulu namanya jas hujan batik dan tenun. Tapi berhubung sekarang sedang pandemi, namanya saya ubah jadi jas hujan etnik APD karena mirip APD juga," ungkap Monic Adriani, si pelaku usaha jas hujan etnik kepada Ayocirebon.com, Rabu (11/11/2020).

Jas hujan itu sendiri menjadi salah satu kreasi yang dibuatnya sebagai pelaku usaha kain batik Cirebon. Pemilik toko Kanoman Batik di Jalan Kanoman, Kelurahan/Kecamatan Pekalipan, Kota Cirebon ini pula mengembangkan batik peranakan yang menggambarkan budaya Tionghoa.

Jas hujan etnik APD sebenarnya dibuat Monic sejak 2018. Ketika itu, dia hanya berniat mencoba berkreasi dengan memanfaatkan sisa-sisa kain batik dan tenun.

Semula, dia mengamati pemakaian jas hujan ponco yang dinilainya merepotkan akibat terlalu lebar. Tak jarang, jas hujan model ini kerap berkibar terbawa angin, terutama kala hujan lebat, hingga berpotensi membahayakan pemakainya.

"Dari situ, saya bikin jas hujan yang tidak terlalu lebar, tapi tetap melindungi pemakainya," terang ibu satu anak ini.

Tak hanya fungsional, Monic pun mempertimbangkan faktor estetika. Perempuan ini menghendaki sang pemakai tetap modis selama mengenakannya.

Di awal waktu, produksi jas hujan etnik APD tak seintens belakangan ini. Dia hanya memproduksi 1 jas hujan untuk mengetes pasar.

"Awalnya coba-coba jahit 1 buah dulu dan dibeli orang. Ternyata dari situ banyak yang suka," ujarnya.

Jumlah permintaan pun meningkat, terlebih tahun ini. Rerata pelanggannya asal Jakarta maupun Medan, bahkan ada pula dari Qatar.

Namun, Monic terkendala bahan waterproof yang tak selalu ada. Monic berkeras menggunakan bahan yang terbaik agar air hujan tak sampai tembus ke dalam tubuh pemakainya.

Karena itu, kebanyakan jas hujan yang diproduksi berdasarkan pesanan konsumen. Secara umum, dia memang tak memproduksi dalam jumlah banyak, tak lebih dari 100 buah/tahun, mengingat bahan yang sulit didapat sehingga prosesnya pun memakan waktu.

"Biasanya, sekali produksi 20 buah jas hujan dengan 5 motif (batik dan tenun) berbeda. Untuk 1 motif, saya siapkan 5 buah jas hujan," tuturnya.

Pasca Covid-19 merebak, dia menambahkan masker sebagai bonus yang melengkapi jas hujan. Motif kain pada masker dibuat senada dengan aksen batik dan tenun pada jas hujan.

Sejauh ini, dirinya menerima respons positif dari para konsumen. Selain manfaatnya sebagai jas hujan, mayoritas konsumen menyukai desain maupun aksen batik dan tenun sebagai keunikan jas hujan etnik APD ini.

Mengingat aksen batik dan tenun tercipta dari kain sisa, konsumen tak bisa menentukan motif kain yang terjahit pada jas hujan. Namun begitu, jas hujan etnik APD ini bersifat uniseks, baik laki-laki maupun perempuan dapat memakainya.

"Konsumen menyampaikan jas hujan ini unik dan lucu. Apalagi produksinya tak banyak, sehingga bisa dibilang limited edition," bebernya.

Meski bersifat uniseks, tak semua orang bisa memakainya. Monic menyebut, jas hujan yang dibuatnya hanya memiliki ukuran lingkar dada maksimal 110 cm.

"Banyak juga permintaan untuk membuat ukuran jumbo. Tapi bagi saya, secara estetika enggak bagus, jadi memang dibuat dengan ukuran yang limited (terbatas) juga," tandasnya.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers