web analytics
  

Upaya Jadi 'Aki-aki Jagjag', Lawan Covid-19 dengan Bersepeda

Selasa, 10 November 2020 12:43 WIB Rizma Riyandi
Bandung Raya - Bandung, Upaya Jadi 'Aki-aki Jagjag', Lawan Covid-19 dengan Bersepeda, Akjag,Komunitas Sepeda,Protokol Kesehatan

Komunitas Aki-aki Jagjag bersepeda di wilayah Cikoneng, Bojongsoang, Kabupaten Bandung. (Ayobandung.com/Rizma Riyandi)

BOJONGSOANG, AYOBANDUNG.COM -- Pagi-pagi sekitar pukul 09.00 WIB, rombongan pesepeda dengan kaos berwarna kuning, oranye, dan hitam tampak asyik menyusuri jalan. Mereka telah menggowes pedal lebih dari 10 km.

Meski begitu, wajah para pesepeda yang merupakan bapak-bapak paruh baya itu tak terlihat letih. Mereka bahkan tampak ceria, saling bersenda gurau satu sama lain.

Selain topi dan sarung tangan, para pesepeda juga memakai masker. Kain penutup mulut yang melintang di wajah itu berfungsi untuk menghalangi debu jalan. Di sisi lain, di masa pandemi Covid-19, masker memang diwajibkan bagi siapapun yang beraktivitas di luar rumah. Salah satunya untuk mencegah penularan corona.

Kelompok pesepeda yang terdiri atas 10 orang ini semuanya laki-laki. Mereka adalah bapak-bapak yang rata-rata berusia setengah abad. Karena itu, tak heran jika komunitas olahraga ini menamakan kelompok mereka dengan sebutan 'Aki-aki Jagjaj' atau disingkat 'Akjag'. Jika diartikan ke dalam Bahasa Indonesia berarti Kakek-kakek Sehat.

Ketua Akjag Dede Rahman menuturkan, komunitasnya rutin bersepeda setiap minggu. Rute sepeda yang mereka lalui berbeda-beda setiap pekannya. Namun untuk kali ini, Minggu (8/11/2020), Akjag memulai jalur sepeda dari Baleendah-Buah Batu-Kiaracondong-Ciganitri-Cikoneng.

"Kita sepedahan rutin setiap minggu. Sebelum pandemi Covid-19 juga kita sudah sepedahan. Ya selain hobi, supaya sehat juga," kata Dede kepada Ayobandung.com saat ditemui di Cikoneng.

Menurutnya, aktivitas bersepeda saat pandemi tentu mewajibkan kelompoknya melakukan berbagai penyesuaian. Selain memakai masker, anggota Akjag jadi lebih hati-hati saat memilih tempat pemberhentian untuk istirahat.

"Kalau sebelum pandemi mah mau berhenti di mana saja juga tidak masalah. Sekarang kan tidak boleh. Kalau mau berhenti untuk istrirahat harus dilihat dulu tempatnya. Sesuai anjuran pemerintah kan kita harus jaga jarak, jadi tidak boleh berhenti di tempat yang ramai," kata Dede.

Dede mengakui, hal tersebut memang membuat aktivitas bersepeda jadi tidak leluasa. Namun, demi kebaikan bersama, komunitasnya tetap harus menerapkan protokol kesehatan.

Meski begitu, berbagai prosedur protokol kesehatan tidak membuat komunitasnya berhenti bersepeda. Pasalnya olahraga dengan bersepeda justru baik untuk kesehatan dan dapat meningkatkan kekebalan tubuh.

"Alhamdulillah, kita enggak ada yang kena corona. Dan, jangan sampai kena corona," ujar Dede.

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers