web analytics
  

Kriteria Duta UMK Jabar Harus Jelas, Bukan Umbar Omongan Kasar

Sabtu, 7 November 2020 21:12 WIB Dudung Ridwan
Umum - Regional, Kriteria Duta UMK Jabar Harus Jelas, Bukan Umbar Omongan Kasar, Duta UMK Jabar,Ade Londok,Ade Londok Bandung,UMK Bandung,UMK Bandung Barat

Ilustrasi. (Alexas_Fotos dari Pixabay )

BANDUNG, AYOBANDUNG.COM – Ade Nandar Ukandar atau lebih dikenal dengan nama “Ade Londok” kini sedang dalam ujian. Keviralannya bersama "Odading Mang Oleh" yang belum seumur jagung ternyata tak membuat semua orang senang. Ia dapat undangan dari mana-mana, tetapi ternyata ia juga dapat penolakan dari sebagian masyarakat yang tak suka akan tutur kata dan tingkah lakunya.

Pegiat sosial Kota Sukabumi, Kristiawan Saputra mengaku menjadi salah satu pihak yang menolak kedatangan Ade Londok ke kotanya. Bukan tanpa alasan, Kristiawan mengatakan Ade Londok kerap berkata kasar sehingga dikhawatirkan menjadi pengaruh buruk bagi anak-anak di Sukabumi.

"Saya melihat beberapa video Ade Londok itu tidak baik dan banyak ditiru anak-anak termasuk anak saya. Jadi saya kesal," katanya, dikutip dari suara.com, Kamis (5/11/2020)

Kristiawan mengaku mencoba mengampanyekan “tolak Ade Londok” di sosial media. Responsnya cukup positif. Banyak warga Sukabumi yang sejalan dengan pemikirannya.

Bahkan, Rumah Makan Mang Su'eb rela membatalkan undangan Ade Londok. Padahal pihak penyelenggara sudah menyetor sejumlah uang pada manajemen Ade Londok untuk uang muka.

Salah satu warga Sukabumi bernama Angga Perwira Sukmawinata bahkan menyampaikan penolakan itu berupa surat yang ditujukan kepada Gubernur Jabar di akun Facebook pribadinya. Angga menilai, Ade Londok kerap menggunakan bahasa yang kurang mendidik dan ditiru oleh anak-anak.

Popularitas Bukan Segala-galanya

Pengamat komunikasi dari UIN Bandung dan dosen Unikom, Dr. H. Mahi Hikmat, M.Si. ketika dihubungi Ayobandung.com, Sabtu, 11/7, menilai, duta mengandung makna utusan. Ia mempunyai tugas mewakili seseorang atau institusi tertentu.

“Jika seseorang ditunjuk menjadi duta, tentu saja ia harus memenuhi kriteria tertentu sesuai dengan konten institusi tersebut sekaligus harus beradaptasi dengan pihak-pihak yang merupakan pihak--bisa personal atau khalayak--yang nantinya akan ditemui,” katanya.

Menurut Hikmat, dalam kajian ilmu komunikasi--terutama terkait posisi duta—duta dapat dianalogikan sebagai komunikator atau secara aplikasi sebagai sebuah profesi seperti humas, maka kriteria yang harus dipunyai oleh seorang duta di antaranya:
1. Harus paham seluk-beluk institusi yang diwakili, baik aspek internal atau eksternal;
2. Terpercaya, terutama oleh pihak yang akan ditemui (punya kredibilitas positif)
3. Komunikatif dan adaptif dengan kondisi-lingkungan yang bakal dimasukinya
4. Memahami psikologi khakayak
5. Populer/Public Figure.

Terkait Ade Londok menjadi Duta UMKM Jabar, “Saya tidak tahu persis kapasitas Ade Londok apakah ia memiliki pemahaman tentang UMKM? Tapi andai pun belum tahu, ia harus diberikan diklat. Termasuk kriteria 2, 3, 4 saya tidak tahu pasti karena belum pernah ketemu dengan Ade Londok. Mungkin Ade punya bekal popularitas karena pernah viral dengan fenomena Odading Mang Oleh-nya.”

Tapi, kata Hikmat, popularitas bukan segala-galanya.

“Apalagi jika populernya, misalnya, tentang keburukan. Artinya ia tidak punya kredibilitas,” cetusnya.

Sehingga seseorang, siapa pun, termasuk Ade Londok yang sudah punya bekal potensial popularitas dapat menjadi duta, tetapi harus mengalami proses pematangan, misalnya melalui diklat dan seleksi sehingga pemenuhan kriterianya teruji.

Menurutnya, kita harus mengikis budaya instan, yang penting populer, terus tiba-tiba diangkat menjadi duta. Padahal, misalnya ia tidak tahu apa-apa. Akibatnya, yang menjadi korban akan banyak.

“Ya institusinya, ya publik, bahkan dirinya sendiri,” katanya.

Sejatinya, pemerintah atau institusi mana pun matang dalam mengeluarkan sebuah kebijakan, terlebih terkait kepentingan publik.

“Jangan grusa-grusu. Termasuk memilih Duta UMKM, keluarkanlah kebijakan yang matang sehingga tidak jadi polemik di masyarakat,” jelas Hikmat.

Ia menambahkan Jawa Barat merupakan gudangnya sumber daya manusia yang potensial. Ia mengusulkan ada lembaga yang tugasnya mengelola SDM tersebut akan terarah.

Bahasa Kasar Memperburuk Citra

Sementara itu, Tendy K. Somantri, pengamat bahasa, mantan Ketua Forum Bahasa Media Massa (FBMM) pusat, sejalan dengan apa yang dikatakan Hikmat.

“Yang namanya duta pasti ada kriteria. Nah, ketika ‘pengangkatan’ Ade Londok sebagai Duta UMKM sudah memakai kriteria yang jelas dan diakui oleh umum atau belum? Kalau tidak jelas, ya tidak semua masyarakat akan menerima. Jadi, harusnya ‘tong sagawayah’ dalam menunjuk duta,” ujar Tendy.

Mengenai bahasa Sunda kasar Ade Londok, tentu saja akan memperparah kondisi saat ini.

“Anak-anak yang sudah terbiasa berkata bahasa Sunda kasar akan menjadi lebih berani menggunakan bahasa Sunda kasar dan nantinya mereka hanya akan bisa berbahasa Sunda kasar,” kata Tendy.

Masih Banyak Figur yang Lebih Baik

Sementara, Nasrul Jatnika, dari komunitas Fikmin Basa Sunda, beranggapan, kalau untuk promosi boleh-boleh saja. Sebab warung dan produk punya dia sendiri. Itu pun tergantung publik yang akan menilainya.

“Tapi, kalau untuk menjadi Duta UMKM, saya kira Ade Londok kurang pas. Kan, urang Sunda mah terkenal ‘adab lanyap’. Bukankah kata 'anjay' juga jadi masalah. Apalagi ini diperjelas—anj***-go****,” beber Nasrul.

Menurut Nasrul, masih banyak figur yang pantas untuk menjadi Duta UMKM Jabar yang dalam usahanya lebih maju dan lebih kreatif. Takutnya, ada prasangka,

"Oh, geuning Perindustrian dan UMKM teh melindungi bahasa Sunda yang kasar seperti itu. Atuh hilang bahasa Sundanya,” tutur Nasrul.

 

Editor: Andres Fatubun
dewanpers