web analytics
  

CERITA ORANG BANDUNG: Semangat Mengais Rezeki di Tengah Pandemi Lewat Bisnis Arwana

Sabtu, 7 November 2020 18:55 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, CERITA ORANG BANDUNG: Semangat Mengais Rezeki di Tengah Pandemi Lewat Bisnis Arwana, Cerita Orang Bandung,Ekonomi & Bisnis,arwana,jual ikan,Jual Beli Online,Pandemi Covid-19,bisnis bandung,kue balok,Saparua

Noor Yudistira (29) warga asal Dago, Kota Bandung yang banting setir berjualan Arwana akibat pandemi Covid-19. (Ayobandung.com/Nur)

COBLONG, AYOBANDUNG.COM -- Pandemi Covid-19 menjadikan banyak orang harus menghadapi masa sulit. Diberhentikan dari pekerjaan, kesulitan melanjutkan usaha lantaran sepi pembeli, dan sebagainya.

Kondisi kedua dialami Noor Yudistira (29), warga Kota Bandung yang sebelum pandemi melanda,menghidupi dirinya lewat usaha kue balok di Lapangan Saparua. Sebagaimana rekan-rekan sesama pedagang kaki lima di tempat yang sama, usaha Yudi perlahan tersendat.

Ia mengatakan, sejak akhir Maret 2020, warga yang mengunjungi lapangan olahraga di Jalan Ambon tersebut semakin sedikit. Baik untuk berolahraga maupun berburu kuliner di malam hari.

Hal tersebut seiring dengan mulai maraknya pemberitaan di media massa soal bahaya Covid-19. Pemerintah kala itu mulai mengimbau warga untuk lebih banyak menghabiskan waktu di rumah.

"Pelan-pelan mulai sepi, yang beli semakin sedikit. Malah pernah waktu itu semalaman sama sekali enggak ada yang beli. Semua juga kena dampak," ungkap Yudi ketika ditemui di kediamannya di Jalan Dago, Sabtu (7/11/2020).

Sehari-harinya, sejak sekitar dua tahun lalu, Yudi menjalankan usaha kue balok berdampingan dengan seorang rekannya yang berjualan susu murni. Yudi memiliki seorang pegawai yang bertugas melayani pembeli.

Setelah Lapangan Saparua selesai direnovasi pada awal 2020, para pedagang kaki lima yang biasanya berjualan di trotoar luar pagar akhirnya diperkenankan berjualan di dalam area Lapangan Saparua. Suasana yang lebih rapi tertata menjadikan area lapangan tersebut di malam hari menjelma tempat wisata kuliner murah meriah yang ramai didatangi warga, terutama anak muda.

Pendapatan kue baloknya pun diakui mengalami peningkatan kala itu. Namun, situasi tersebut tak berselang lama.

"Akhirnya setelah sepi, saya juga kesulitan bayar pegawai. Pendapatan udah enggak nutup. Setelah itu terpaksa diberhentikan," ungkapnya.

Tak hanya karyawannya yang diberhentikan, ia pun memutuskan untuk sementara berhenti berdagang kue balok karena pendapatan yang semakin merosot. Pikirannya sempat kalut selama beberapa waktu, sampai akhirnya sebuah akuarium yang terletak di ruang makan rumahnya mencuri perhatiannya.

"Kenapa enggak mulai serius berjualan ikan saja. Selama PSBB juga saya amati banyak orang yang nyari-nyari hobi baru. Salah satunya nyari ikan hias untuk hiburan,"ungkapnya.

Sejak 2019, Yudi mengatakan, dirinya memang telah memelihara beberapa jenis ikan. Salah satunya adalah jenis-jenis ikan predator. Namun, hal tersebut tak digarap secara serius, hanya bagian dari hobi di waktu luang.

Ia pernah beberapa kali menjual ikannya, namun tidak untuk berbisnis secara serius. Karena merasa sudah bosan dengan koleksinya, ia akan menjual ikan di dalam akuariumnya untuk dibelanjakan ikan lain.

"Setelah kue balok berhenti, saya mulai serius. Benar-benar diperhitungkan secara bisnis. Pokoknya harus dapat sumber pemasukan baru," tuturnya.

Pilihannya jatuh kepada ikan Arwana yang juga merupakan salah satu jenis ikan kegemarannya. Bermodalkan simpanan seadanya, Yudi mengambil resiko untuk membeli sejumlah ikan arwana jenis-jenis tertentu.

Ia kemudian menjualnya secara daring melalui akun media sosial Facebook. Dari sana, pembeli demi pembeli mulai bermunculan. Negosiasi dan transaksi terus terjadi. Pundi-pundi rupiah Yudi mulai terisi kembali.

"Di Juli kemarin, saya bikin brand sendiri bisnis ini, namanya Noor Arowana. Jualannya daring, lewat Facebook. Di sana bisa sekaligus jangkau komunitas-komunitas pecinta Arwana, jadi pembeli ada terus," ungkapnya.

Membaca Situasi

Ia tak menampik pandemi sempat membuatnya terpukul. Terlebih, di tahun ini dirinya juga hendak melangsungkan pernikahan yang harus tertunda, dan tak ayal membutuhkan dana lebih untuk menggelarnya kembali di lain kesempatan.

Namun, kehilangan pemasukan, pegawai dan harus menunda hari besar tidak serta-merta membuatnya patah arang. Ia mengatakan, selalu ada celah di situasi sesempit apapun.

"Memang sulit, apalagi kalau tabungan juga habis. Tapi harus tetap berpikir, cari peluang, jangan terlalu lama berdiam diri. Bersedih tentu boleh, tapi jangan jadi pembenaran hingga akhirnya tidak melakukan apa-apa," ungkapnya.

Siapa sangka, bisnis barunya yang dijalani di tengah keterbatasan tersebut saat ini bisa menghasilkan omzet berkali-kali lipat lebih besar dari pendapatan sebelumnya. Kuncinya adalah konsistensi dan jeli melihat situasi.

"Cari tahu apa yang sedang dibutuhkan atau digemari masyarakat saat ini, di tengah pandemi. Karena banyak kebiasaan baru muncul, kebutuhan baru muncul, hobi-hobi baru juga muncul. Itu bisa jadi peluang emas untuk dimanfaatkan," jelasnya.

Editor: Arditya Pramono

artikel terkait

dewanpers