web analytics
  

Balong Gede dan Situ yang Hilang

Jumat, 6 November 2020 15:20 WIB Netizen T Bachtiar
Netizen, Balong Gede dan Situ yang Hilang, Balong Gede,Sejarah Bandung,Balonggede,Situ Bandung,Gunung Sunda

Balong yang luas di selatan rumah Bupati (Koleksi Leiden University)

T Bachtiar

Anggota Kelompok Riset Cekungan Bandung.

AYOBANDUNG.COM -- Ada foto tak bertahun yang memberikan gambaran, ada kolam yang tenang dan luas, yang di tepiannya ada babancong (gazebo) dan pendopo yang terlihat besar. Di bawah foto ditulis keterangan, Sebelah selatan rumah Bupati, Bandung.

Ada dua hal yang memperkuat dugaan, bahwa kolam itulah yang kemudian oleh masyarakat dinamai Balong Gedé, kolam yang luas, yang kemudian menjadi toponim kawasan tersebut, Balonggdé. Pertama karena ada tulisan dalam foto, Sebelah selatan rumah Bupati, Bandung, dan kedua, dalam peta Bandung tahun 1921, di selatan rumah Bupati Bandung dan di sebelah utara Pungkurweg itu sudah dibuat jalan, tapi belum diberi nama. Baru pada peta Bandung tahun 1927 jalan itu sudah diberi nama Balonggedeweg.

Rumah Bupati-Di selatannya ada balong gede-Bandung (Peta Tahun 1927)

 

Balong yang luas itu menjadi ciribumi bagi masyarakat, yang berada di selatan kantor pemerintahan Kabupaten Bandung. Dan masyarakat saat itu yang ada urusan ke kantor Kabupaten Bandung, lebih memilih masuk dari pintu belakang di sebelah selatan kantor, daripada dari bagian depan di sebelah utara. Bagian pungkur atau belakang itu pun kemudian menjadi toponim Pungkur. Oleh masyarakat Bandung kawasan Balong Gedé itu dijadikan sebagai titik temu untuk berkumpul, sebelum mereka menuju kantor. Nama kolam yang luas ini menjadi penanda, sehingga menjadi tempat yang selalu diucapkan. Lama kelamaan, artinya bergeser, dari kolam yang luas menjadi nama geografi, Balonggedé.

Nama geografi Balonggedé kini menjadi nama kelurahan di Kota Bandung mencakup kawasan yang luasnya 55 ha, yaitu Kelurahan Balonggedé. Kelurahan ini di selatan dibatasi oleh Jalan Pungkur, berbatasan dengan Kelurahan Pungkur dan Kelurahan Ciateul, di utara dibatasi Jalan Asia Afrika, berbatasan dengan Kelurahan Braga, di sebelah timur dibatasi Ci Kapundung, berbatasan dengan Kelurahan Cikawao, dan di sebelah barat dibatasi Jalan Oto Iskandar Di Nata, berbatasan dengan Kelurahan Karanganyar.

Balonggedé merupakan contoh, bahwa semula ada kolam yang luas, yang dijadikan lanskap kantor Kabupaten Bandung dan rumah bupati. Tentu, banyak tempat yang cekung, yang sudah dikeringkan sebelum peta tahun 1921 dibuat, tapi ada yang abadi menjadi toponim, tanpa diketahui berapa luas ranca atau situ-nya.

Pada zaman kolonial, di dasar Cekungan Bandung terdapat banyak daerah yang ronabuminya nyangkorah, mariuk, cekung. Daerah-daerah yang cekung inilah yang kemudian ditata sesuai karakter alamnya, dijadikan tempat penampungan air dari daerah sekitarnya. Situ yang dikelilingi tegakan pohon tinggi, dapat mengatur iklim mikro di kawasan itu, dan menjadi rumah tetap dan rumah singgah bagi burung dan serangga. Seperti yang sekarang menjadi Taman Lalulintas, misalnya, pada zaman kolonial, berupa situ, yang memberikan kesejukan bagi kantor yang ada di sekelilingnya. Demikian juga di beberapa tempat lainnya, daerah-daerah yang cekung itu dimanfaatkan sebagai kolam-kolam penampungan air hujan.

Secara lebih luas, Cekungan Bandung itu seperti baskom raksasa, dari lereng-lereng bagian dalamnya air meteorik diresapkan ke dalam bumi, kemudian ke luar secara teratur di mata-mata air. Sampai pada periode letusan-letusan mahadahsyat Gunung Sunda antara 210.000-105.000 tahun yang lalu, seperti dikemukakan oleh Moch. Nugraha Kartadinata (2005), telah membendung aliran Ci Tarum purba di utara Padalarang. Kemudian secara evolutif, air sungai meluap ke berbagai sisinya, membentuk danau raksasa dari Cicalengka sampai Rajamandala. Sekitar 90.000 tahun danau Bandung purba menggenang, baru bobol atau bedah 16.000 tahun yang lalu (MAC Dam, 1996).

Setelah 16.000 tahun, dasar Cekungan Bandung tidak sepenuhnya kering, tapi menyisakan lahan basah yang luas yang dikenal dengan sebutan ranca dan situ. Di Cekungan Bandung, terdapat nama tempat yang memakai kata ranca: 96 dan kata situ: 18, jumlah keseluruhannya: 114 (T Bachtiar dan Dewi Syafriani, 2016). Dalam Peta Bandoeng-Zuid 1931, terdapat 45 situ yang ukurannya besar (T Bachtiar, 2020). Semua situ itu kini tinggal nama, dan sudah berubah menjadi nama geografi, tempat hunian masyarakat Bandung.

Malik Arrahiem (2020), mendata situ yang ada pada Peta Topografi tahun 1931, Lembar Bandung Selatan. Menurutnya terdapat 73 tubuh air (situ, ranca, balong), dengan beberapa situ yang luas, seperti: Situ di daerah Gumuruh (luasnya: 6,57 ha), Situ Tarate (luas: 2,32 ha), Situ Gunting (luas: 1,54 ha), dan Situ Hiang (luas: 1,84 ha). Luas keseluruhan situ: 50,053 ha. Dengan asumsi kedalaman situ 2 meter, maka seluruh situ mampu menampung air sedikitnya 1.000.000 m kubik.

Luas keseluruhan situ setara dengan 70 x luas lapangan sepak bola (105 x 68 m=7.140 m²), mampu menampung air baku sebanyak 1.000.000.000 liter. Bila mengacu pada jumlah pemakaian air rumah tangga perkotaan sebanyak 144 liter/hari/orang, maka air sebanyak itu dapat memenuhi kebutuhan warga kota sebanyak 6.944.444 orang, cukup untuk memenuhi kebutuhan air baku bagi sebagian besar penduduk di Kabupaten Bandung, Kota Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat, yang jumlah keseluruhan penduduknya 8 juta jiwa.

Betapa luas dan besar manfaatnya situ alami itu setelah diperbandingkan dengan kolam-kolam penampungan, kolam retensi, yang dibangun saat ini, seperti kolam retensi Bima yang luasnya 2.500 m2, kolam Retensi Cipamokolan luasnya 2.000 m2, dua kolam retensi di Jalan SOR GBLA, Gedebage luasnya 8.000 m2, dan kolam retensi Cieunteung luasnya 4 ha.

Bagaimana situ-situ itu satu-satu menghilang? Ketika awal pembangunan kota ini, dibangunlah gedung-gedung, jalan raya, rel kereta api, dan kebutuhan bangunan lainnya di pusat Kota Bandung, telah menarik banyak penduduk dari luar kota Bandung. Terjadi perpindahan penduduk, bahkan pada zaman kolonial sering dengan sengaja mendatangkan banyak orang dari suatu daerah, yang penduduknya mempunyai keterampilan pertukangan atau perdagangan yang baik. Maka mereka akan mengelompok membangun babakan, perkampungan kecil baru yang warganya berasal dari satu daerah asal yang sama. Babakan Tarogong, misalnya, warganya berasal dari Tarogong, Kabupaten Garut. Urbanisasi itu semakin tidak terbendung pascakemerdekaan, terutama karena alasan keamanan, dan pembangunan daerah yang gencar mulai tahun 1970-an.

Awalnya, ketika membangun rumah-rumahnya di pinggiran situ, dan membiarkan situnya tetap ada, maka tempat itu dinamai Cisitu. Karena orang terus berdatangan, sementara di sana masih banyak genangan air, air dialirkan dalam parit-parit, berjalan harus meloncat-loncat, makan dinamailah Ciluncat. Bila paritnya sudah dipasangi cukang, jembatan kecil dan pendek, dinamailah Cicukang. Orang yang bermukim semakin banyak, maka situ mulai diurug, dinamilah Situsaeur. Tanah urugan kalau terkena air, pastilah licin, maka kawasan itu dinami Sukaleueur. Proses pembangunan kota dan menghilangnya situ dan ranca, sebagian terabadikan dalam nama geografi.

Situ-situ yang hilang pastilah luasannya jauh lebih luas lagi dari data yang tertera dalam peta. Dan, situ itu semakin terasa manfaatnya bukan ketika situ ada, namun ketika situ itu sudah menghilang, yang manfaatnya tak tergantikan!

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Hobi Bagaikan Harta Karun

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:40 WIB

Setiap pekerjaan pasti merasakan suka dan duka. Tetapi, dengan dasar hobi, pekerjaan jadi terasa lebih menyamankan.

Netizen, Hobi Bagaikan Harta Karun, Hobi,Harta Karun,Pekerjaan,Menulis

Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 15:10 WIB

Jika kita terlalu percaya diri maka akan nampak arogan. Di lain sisi, jika tidak punya kepercayaan diri sama sekali maka...

Netizen, Confident Humility, Hal yang Rumpang pada Masa Kini, Confident Humility,Hal yang Rumpang,Masa Kini,Filosofi  Hidup,Kepercayaan Diri,Kerendahan Hati

Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung

Netizen Jumat, 7 Mei 2021 | 14:30 WIB

Bila ditelusuri, nama-nama geografi itu mengabadikan perkembangan kota, seperti halnya yang terjadi di Kota Bandung.

Netizen, Sawahkurung, Sawah Terakhir di Pusat Kota Bandung, Sawahkurung,Sawah Terakhir,Pusat Kota Bandung,Sejarah,Geografis

Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:36 WIB

Berbicara soal seks memang selalu menuai kontroversi dan selalu menjadi topik yang sensitif.

Netizen, Pendidikan Seksual Bukan Hanya Tentang Seks dan Kontrasepsi, Pendidikan Seksual,Seks,kontrasepsi,Oran Tua,Anak,Sex education

Ketika Rumahku Bukan Istanaku

Netizen Kamis, 6 Mei 2021 | 15:00 WIB

Apakah rumah memang tempat yang aman?

Netizen, Ketika Rumahku Bukan Istanaku, Rumahku Bukan Istanaku,Catatan Kelam Perempuan,Stress,KDRT,KDRT Secara Seksual,Perceraian

Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 14:23 WIB

Walaupun secara resmi Sony sudah menarik peredaran ponselnya di tanah air, peminat dari ponsel ini justru tidak pernah s...

Netizen, Sony Xperia, 'Limbah Jepang' yang Tak Pernah Sepi Peminat, Sony Xperia,Ponsel,Teknologi,smartphone,Jepang

Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang

Netizen Rabu, 5 Mei 2021 | 10:18 WIB

Apa saja kontribusi yang diberikan oleh Kartawinata selama menjadi anggota Perhimpunan Batavia?

Netizen, Anggota Perhimpunan Batavia Menulis Adat Bengang, Anggota Perhimpunan Batavia,Adat Bengang,Raden Kartawinata,Bataviasch Genootschap voor Kunsten en Wetenschappen (BGKW)

Mengapa Mudik?

Netizen Selasa, 4 Mei 2021 | 12:55 WIB

Meski kini pemerintah melarang mudik. tradisi mudik ini tidak akan pernah berhenti pada satu generasi.

Netizen, Mengapa Mudik?, Mudik,Larangan Mudik,Mengapa Mudik?

artikel terkait

dewanpers