web analytics
  

Islamophobia dan Perang Pengemasan

Kamis, 5 November 2020 08:45 WIB Netizen Ridwan Rustandi
Netizen, Islamophobia dan Perang Pengemasan, Islamophobia dan Perang Pengemasan,Islamophobia,Ridwan Rustandi

Winger Liverpool, Mohamed Salah melakukan sujud syukur pada laga Liga Inggris 2020/2021 kontra Leeds United di Anfield, Sabtu (12/9/2020). (Shaun Botterill / POOL / AFP)

Ridwan Rustandi

Ridwan Rustandi - Dosen Fakultas Dakwah dan Komunikasi UIN SGD Bandung, Aktivis Sosial dan Komunitas.

European Islamophobia Report (EIR) tahun 2016 melaporkan bahwa trend ketakutan terhadap Islam dan muslim di Eropa berada pada kisaran 60%. Dua dari 10 negara-negara di Eropa menyatakan setuju kalau imigrasi muslim ke Eropa harus dihentikan. Hal ini mengingat setiap tahunnya populasi umat Islam di Eropa terus bertambah. Polandia berada pada prosentase 71%, Austria 61% dan Prancis 60% yang menyatakan ketidaksetujuan tentang adanya imigran muslim di Eropa. Dari laporan EIR di atas, Enes Bayrakli dan Farid Hafez (2016) menyatakan bahwa Islamophobia di Eropa berkaitan dengan sikap dan tindakan yang "Anti-Muslim, Anti-Islam dan Anti-Semit".

Sementara itu, Pew Research Center tahun 2020 memproyeksikan bahwa populasi umat Islam di Eropa setiap tahunnya kian meningkat. Misalnya, di Prancis, populasi umat Islam diprediksi akan mencapai angka 40% dari total populasi penduduknya. Sampai tahun 2019, umat Islam di seluruh dunia mencapai angka 1,8 Miliar penduduk, dengan jumlah tersebut umat Islam menempati urutan kedua sebagai umat terbesar setelah umat Kristen. Bahkan pada tahun 2075, Pew Research Center meramalkan tingkat pertumbuhan umat Islam di dunia mencapai 3,8 miliar orang. Dimana, dengan jumlah tersebut umat Islam akan menjadi umat terbesar pertama di dunia pada medium 2050-2075.

Elite Politik dan Narasi Media Massa

Mengapa trend Islamophobe terus berkembang? Siapa aktor di balik Islamophobe ini? Dan bagaimana seharusnya kita bersikap? Memasuki abad ke-20, trend Islamophobia di Eropa semakin menguat berkat dukungan media massa. Media packaging menampilkan Islam dan umat Islam dengan persepsi dan impresi yang kasar, barbar (liar), intoleran, jorok, eksklusif dan bahkan teroris. Misalnya di Inggris, media massa memberitakan penyerangan terhadap rumah ibadah Umat Islam (Masjid) hampir setiap hari. Peristiwa WTC 911 seolah menjadi momentum untuk semakin vulgar menyatakan kebencian dan bahkan perang terhadap Islam. Dalam konteks media, kebencian ini berbalut ketakutan dengan diksi "Islam dan umat Islam dipandang membahayakan, menjadi musuh yang harus diberantas dan ajarannya mengajarkan peperangan".

Kalau kita amati pemberitaan media massa hari ini, bahwa apa yang dilakukan Emanuel Macron (Presiden Prancis) bukan pertama kalinya. Sejak 2017 banyak pernyataan kontroversial yang ia sampaikan berkaitan dengan Islam dan imigran muslim di Prancis. Bahkan kalau kita telusuri, figur-figur seperti Macron banyak kita temui di beberapa negeri barat lainnya. Misalnya, Marine Le Pen (Pimpinan Partai Front Nasional Prancis) yang menjadi motor penggerak anti Islam di negara Prancis, Geert Wilders (Ketua Partai Kebebasan Belanda) yang sejak satu dekade terakhir menyuarakan kebenciannya terhadap Islam melalui Parlemen Belanda, Pamella Geller yang dikenal dengan sebutan Ratu Anti Islam di negeri Paman Sam, Sam Bacille (Sutradara berdarah Mesir-AS) yang kerap memproduksi film-film bernuansa Islamophobia. Innocence of Muslims pada tahun 2012 merupakan salah satu bentuk kampanye yang dilakukannya melalui film, George Bush (mantan Presiden AS) melakukan invansi ke Afghanistan dengan dalih keamanaan internasional dan Donald Trump (Presiden AS) yang gemar menyuarakan kebenciannya terhadap imigran muslim di Amerika.

Figur-figur di atas, sejak satu dekade terakhir memiliki jejak rekam dalam menyuarakan Islamophobe di barat.

Dalam amatan saya, Islamophobia di AS dan Eropa terjadi karena adanya keberpihakan dari elite-elite politik yang kontra terhadap Islam dan umat Islam serta pengemasan media massa (baik atas dasar kepentingan pemilik, kaum agamawan dan pelaku media) yang melakukan kampanye-kampanye anti Islam dan imigran Muslim. Gerakan elite politik dan media massa tersebut dilakukan secara massif, sehingga berhasil menampilkan wajah Islam dan umat Islam yang intoleran, ekstremis dan teroris. Sementara di akar rumput (grassrooth), dari beberapa survei yang dilakukan (EIR dan Pew Research), justru minat dan kesukaan masyarakat barat terhadap agama Islam dan Umat Islam menunjukkan trend yang cukup positif. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, misalnya karena kesukaan terhadap figuritas tertentu dan upaya masyarakat dalam mencari ketenangan hidup. Faktanya, sampai tahun 2019 populasi umat Islam di Eropa semakin meningkat. Lima urutan negara Eropa yang memiliki peningkatan populasi Muslim terbesar adalah Rusia, Jerman, Prancis, Inggris dan Italia.

Data ini menunjukkan bagaimana trend Islamophobia berbanding terbalik dengan trend peningkatan populasi muslim di AS dan Eropa. Dengan begitu, penulis berasumsi bahwa Islamophobe menjadi bukti tentang adanya narasi dan citra kebencian terhadap Islam dan umat Islam yang dibingkai dengan diksi ketakutan, kemudian di politisasi oleh elite-elite politik tertentu dan pada akhirnya berkecambah Karena adanya framing yang dilakukan oleh media massa. Pada titik inilah, Islamophobia menjadi core isu yang dikemas oleh media massa melalui perangkat pengemasan tertentu baik dari sisi teks, narasi, metafor, slogan, pemaknaan, grafis dan visual images.

Balasan Kebaikan dan Perang Pencitraan

Atas nama Islam dan kemanusiaan universal, kita harus mengecam segala tindakan yang menghina, mencela dan menistakan nilai-nilai sakralitas ajaran Islam. Termasuk mengutuk berbagai tindakan yang menistakan simbol-simbol ajaran Islam. Namun, pada saat yang bersamaan, kita pun mesti menempatkan tindakan ketidaksenangan kita dengan meneladani perangai mulia Rosulullah Saw. Ada keharusan agar kita semakin menguatkan iman dan imunitas kita, ada pula keharusan untuk menampilkan sikap ketidaksenangan kita terhadap berbagai penistaan. Jangan sampai keburukan yang kita terima, dibalas dengan keburukan lagi. Niscaya hal seperti itu akan memunculkan keburukan yang lebih.

Riset Alrababa'h, Marble, Mousa dan Siegel berjudul “Can Exposure to Celebrities Reduce Prejudice? The Effect of Mohamed Salah On Islamophobic Behaviours and Attitude” yang dilakukan pada tahun 2019 menyimpulkan bahwa trend Islamophobia di Inggris cenderung menurun sejak Mohamed Salah, salah seorang pemain klub sepakbola Liverpool yang berdarah Mesir dan beragama Islam, menampilkan keterampilan sepakbola yang memukau dan sikap (attitude) sebagai seorang muslim yang memuaskan bagi para penggemarnya. Riset ini menempatkan bahwa kesukaan dan/atau perubahan persepsi masyarakat Inggris terhadap Islam salah satunya didorong karena adanya figur-figur muslim yang mampu menarik perhatian mereka melalui kompetensi, kepribadian, keteguhan keyakinan dan tindakannya. Identitas dan kepribadian Mohamed Salah menjadi salah satu rolemodel dalam menurunkan tindakan kebencian dan ketakutan terhadap Islam dan umat Islam di Inggris.

Selain apa yang ditampilkan Salah di Inggris, fenomena serupa terjadi di Rusia dan seluruh masyarakat dunia. Baru-baru ini kita dibuat berdecak kagum oleh kehadiran seorang atlet MMA dunia asal Rusia, Khabib Nurmagomedov, yang ia juga seorang muslim. Dengan perangai dan kepribadiannya, ia mampu menampilkan citra Islam yang ramah, damai dan berkemajuan. Bahkan salah satu postingannnya sempat viral yang menyatakan bahwa "mereka (non-muslim) tidak membaca Al-quran dan tidak membaca hadist (untuk tahu Islam), tetapi mereka membaca dirimu. Maka jadilah cerminan Islam yang baik". Khabib Numagomedov mampu menarik perhatian masyarakat dunia dengan kemampuannya, prestasinya, identitasnya, akhlaknya dan keteguhannya dalam memegang dan mengamalkan ajaran Islam.

Dua figur di atas, baik Salah maupun Khabib menjadi prototipe bagaimana sebuah pesan keislaman dapat ditampilkan melalui keterampilan dan kepribadiannya. Keduanya, dipandang mampu memberikan pengaruh terhadap persepsi Islam di dunia barat. Inilah doktrin Islam dan teladan yang ditampilkan oleh Rosulullah Saw. Sikap kita, boleh tidak senang, boleh mengecam dan mengutuk, tapi jangan sekali-kali menampilkan kebrutalan, membalas dengan dendam dan keburukan. Dalam sudut pandang media, upaya yang harus terus dilakukan oleh umat Islam adalah mengisi medium media massa dengan pesan-pesan keislaman. Abad digital dengan pola connective action dapat menjadi alternatif gerakan yang sustainable, terorganisir dan sistemik. Perang pengemasan, perang citra dan imagologi bahasa agama di ruang mayantara harus dilakukan untuk merubah persepsi masyarakat barat terhadap Islam. Perubahan persepsi itu harus dilakukan baik pada sisi kognitif, afektif dan konatif. Perubahan persepsi itu pula harus sampai memberi kesan positif tentang Islam, umat Islam dan peradaban Islam.

Islam dibangun di atas fondasi akhlak dan kecerdasan umat Islam dalam menyampaikan risalah-risalah Islam. Pesan-pesan kebaikan Islam harus mampu merubah pengetahun, meyakinkan dan memotivasi tindakan objek dakwahnya. Dalam konteks global, mengecam tindakan melalui pernyataan sikap oleh pemimpin negara Islam dan bermayoritas penduduk muslim, boikot produk, aksi-aksi jalanan, memutuskan hubungan diplomatik serta slacktivisme dengan kampanye digital dapat menjadi alternatif. Hanya saja, perlu dibangun kesepahaman antara muslim dan pemimpin muslim dari hulu ke hilir. Sehingga gerakan protes ini tersistematisasikan, berkelanjutan dan berdampak secara sistemik.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Andres Fatubun

terbaru

Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi

Netizen Jumat, 5 Maret 2021 | 09:25 WIB

Pandemi Covid-19 yang melanda Indonesia genap berusia setahun. Sejak ditemukan kasus perdana di awal Maret tahun 2020, h...

Netizen, Sektor Infokom Tumbuh Pesat di Tengah Pandemi, Infokom,COVID-19,PSBB

Kapan Situ Aksan Ada?

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 14:25 WIB

Dalam Peta Topografi tahun 1904-1905, tempat yang kemudian menjadi Situ Aksan, masihlah perkampungan kecil.

Netizen, Kapan Situ Aksan Ada?, Sejarah,Kota Bandung,Topografi,Desa,Abad ke-20,Bandung Baheula

Tiga Terjemahan Pertama

Netizen Kamis, 4 Maret 2021 | 10:20 WIB

Pada 1872, Raden Kartawinata sudah bisa menerbitkan tiga judul terjemahan dari bahasa Belanda.

Netizen, Tiga Terjemahan Pertama, raden kartawinata,Sunda,Jawa,Bahasa,Penerjemah,Belanda,R.H. Moeh. Moesa,K.F. Holle,buku,Literatur,Literasi

Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 14:15 WIB

Ada yang bilang bahwa industri dosa sejatinya merupakan usaha mentransfer dana publik ke tangan swasta dengan cara yang...

Netizen, Mencabut Industri Dosa Berkedok Perpres Investasi Miras, Minuman Keras (Miras),Perpres investasi miras,Presiden Joko Widodo,Indonesia,Investasi,World Health Organization (WHO),Papua,minuman beralkohol

Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif

Netizen Rabu, 3 Maret 2021 | 13:40 WIB

Pada era tahun 90-an, jalan-jalan atau gang-gang kecil di daerah Cicadas juga terkenal dengan sebutan gang "sarebu punte...

Netizen, Gang 'Sarebu Punten' Itu Disulap Jadi Kampung Kreatif, Cicadas,Desa Kreatif,Bandung,Gang ,Kampung Kreatif

Khawatir Kini Kina Tinggal Nama

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 15:00 WIB

Pohon kina peninggalan tahun 1855 itu sudah sangat tua, keadaannya sudah dalam posisi bungkuk atau miring, dan kini suda...

Netizen, Khawatir Kini Kina Tinggal Nama, Kina,Pohon,Bandung,Chincona,Chincon,Franz Wilhelm Junghuhn,Karl Justus Hasskarl

Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 13:50 WIB

Kita tidak boleh hanya menekankan kebenaran berbahasa yang diukur oleh kebakuan KBBI, tetapi harus memperhatikan situasi...

Netizen, Virtual Police, Polisi Bahasa Gaya Baru, Polisi,Bahasa,Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI),Santun

Mengenal Wawacan dan Putri Sekar Arum

Netizen Selasa, 2 Maret 2021 | 10:54 WIB

Wawacan berjudul ‘Putri Sekar Arum’ jadi penanda utama bahwa, bahasa, sastra, dan budaya Sunda masih hidup

Netizen, Mengenal Wawacan dan Putri Sekar Arum , Putri Sekar Arum,Bahasa Sunda,Wawacan,Puisi Sunda
dewanpers