web analytics
  

Kisah Warga Indramayu Umrah di Tengah Pandemi

Rabu, 4 November 2020 19:43 WIB Erika Lia
Umum - Regional, Kisah Warga Indramayu Umrah di Tengah Pandemi, Umrah,Pandemi Covid-19

Ahmad Munsit Abdulillah asal Kabupaten Indramayu saat menjalani ibadah umrah di tanah suci saat pandemi Covid-19 belum usai. (Erika Lia)

INDRAMAYU, AYOBANDUNG.COM -- Ibadah umrah kembali dibuka Pemerintah Arab Saudi sejak Covid-19 mewabah. Di antara para jemaah asal Indonesia yang berangkat ke tanah suci, seorang warga Kabupaten Indramayu, Ahmad Munsit Abdulillah menjadi salah satu jemaah yang pertama menjalaninya.

Rasa syukur terus diucapkan Munsit atas kesempatan itu. Perjalanan ini, meski berlangsung di tengah pandemi, menjadi kali pertama bagi dirinya berangkat ke Mekah dan Madinah dalam rangka ibadah personalnya.

"Iya, saya jadi jemaah pertama (dari rombongan Indonesia) yang mulai umrah. Masya Allah, rasanya luar biasa, apalagi sedang pandemi," ungkapnya melalui sambungan telepon, Rabu (4/11/2020).

Munsit menjadi salah satu dari 2 orang warga Kabupaten Indramayu yang berangkat pertama ke tanah suci pada masa pandemi. Sedianya, dia dijadwalkan berangkat pada 2 November 2020.

Namun, sebab ada kekosongan pada rombongan yang berangkat pada 1 November 2020, Munsit pun beroleh kesempatan berangkat lebih awal dari jadwal.

Pertama kali menginjakkan kaki di tanah suci, dia mengaku sempat meneteskan air mata sebab terharu. Dia merasakan kali itu sebagai sebuah momen epik yang tiada duanya.

Padahal, sebelum pandemi, Munsit kerap melakukan perjalanan ke Mekah maupun Madinah untuk mengantar dan membimbing para jemaah umrah dan haji yang menggunakan jasanya sebagai agen travel.

Munsit diketahui menjabat sebagai Direktur PT Raudhatul Mutaallimin Kepolo Darul Falah Tour & Travel Indramayu. Meski kerap bepergian ke tanah suci, perjalanannya kali ini dirasakannya berbeda karena pandemi telah membuatnya menahan kerinduan.

"Saya rindu sekali karena selama pandemi umrah dan haji tak diizinkan Pemerintah Arab Saudi," kata Munsit mengemukakan alasannya menangis saat tiba di tanah suci.

Munsit diketahui berangkat bersama rombongan umrah tahap ke-3. Rekan-rekan seperjalanannya merupakan agen-agen travel yang sengaja diberangkatkan lebih dulu.

Dia menjelaskan, keberangkatannya bersama rekan-rekan agen travel memiliki misi untuk mengamati situasi dan kondisi di tanah suci pasca kembali dibuka oleh otoritas setempat. Mereka harus menaruh atensi ihwal ibadah umrah dan haji yang berlaku selama pandemi belum usai.

"Jadi, nanti agen-agen travel umrah dan haji bisa membuat program yang sesuai kondisi di tanah suci selama pandemi ini bagi calon-calon jemaahnya. Dengan begitu, bimbingannya juga tidak membingungkan," terangnya.

Pandemi diakuinya telah membuat beberapa perubahan dalam pemberangkatan ibadah haji dan umrah. Munsit sendiri harus melalui proses pemeriksaan ketat sebelum akhirnya diizinkan berangkat.

Tak seperti sebelumnya, kali ini semua calon jemaah harus menjalani karantina di salah satu hotel di Jakarta, tepat sehari sebelum keberangkatannya. Mereka juga diwajibkan mengikuti tes usap (PCR) sebagai syarat dari Pemerintah Arab Saudi.

Bila seluruhnya rampung dan dinilai memenuhi syarat, mereka pun lantas diterbangkan ke Arab Saudi. Hasil tes usap negatif menjadi salah satu yang wajib dilampirkan bersama syarat lain berupa visa dan buku kuning.

Sebelum terbang, rombongan juga harus melalui pemeriksaan suhu tubuh maupun disinfeksi oleh petugas kesehatan. Perjalanan dari Jakarta hingga Arab Saudi sendiri memakan waktu 8-9 jam.

Sebelum sampai di Bandara Jeddah, pemeriksaan kondisi kesehatan pun kembali harus mereka lalui. Selain suhu tubuh, petugas kembali mengecek berkas-berkas yang rombongan bawa, termasuk di antaranya catatan hasil pemeriksaan tes usap.

"Di Bandara Jeddah, kami sempat disambut Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) dan Menteri Haji Arab Saudi," kisahnya.

Rombongan lantas diantar menuju Mekah menggunakan bus. Di Mekah, mereka harus kembali menjalani karantina dalam kamar hotel selama 3 hari, sebagaimana aturan pemerintah setempat.

"Kami dilarang keluar kamar selama karantina," cetusnya.

Sekalipun perjalanan ibadah kali ini tak mengalami perubahan dibanding sebelum pandemi, Munsit menyatakan tetap bersyukur dengan kesempatan itu. Terlebih menurutnya, rombongan mendapat perlakuan baik selama masa karantina.

Bagi Munsit, kerinduannya atas Baitullah telah mengalahkan segala kerumitan yang harus dijalaninya selama proses keberangkatan ke tanah suci berlangsung. Dengan perubahan-perubahan yang dialaminya, Munsit memandangnya sebagai pengalaman langka yang mengandung kesan mendalam.

"Alhamdulillah, umrah perdana bagi WNI ini sangat berkesan karena saya menahan rindu Baitullah sangat besar," tuturnya antusias.

Dia pun berharap pelayanan bagi para jemaah dipertahankan, bahkan lebih baik, selama Covid-19 masih berlangsung. Munsit sendiri secara pribadi menilai pelayanan yang diterimanya sudah sedemikian baik, terutama kala karantina.

Lebih jauh, dia mengharapkan doa semua pihak agar mereka dapat menjalankan ibadah dengan baik. Dia pun memanjatkan doa pandemi segera berlalu.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers