web analytics
  

Wiranatakoesoemah Masuk Volksraad, Bandung Batal Jadi Ibu Kota

Selasa, 3 November 2020 09:10 WIB Netizen Hafidz Azhar
Netizen, Wiranatakoesoemah Masuk Volksraad, Bandung Batal Jadi Ibu Kota, Wiranatakoesoemah,Bandung Batal Jadi Ibu Kota,Peta Bandung,Sejarah Bandung,Bandung Baheula,Bandung Pisan

Peta Bandung Akhir Abad ke-19. (Dokumentasi Perpustakaan Nasioanal)

Hafidz Azhar

Penulis lepas, alumnus pascasarjana Kajian Budaya Unpad, Redaktur situmang.com

Tahun 1923, Bupati Bandung, Moeharam Wiranatakoesoemah diangkat menjadi anggota Volksraad oleh Pemerintah Hindia Belanda. Di hadapan dewan persidangan, ia berpidato dengan panjang lebar, dan menekankan dua permasalahan yang akan dihadapinya.

Pertama, mengenai politik di tanah jajahan. Kedua, tentang pergerakan rakyat kaum Pribumi.

Dalam situasi itu, Wiranatakoesoemah memandang kondisi zamannya dengan penilaian yang lebih baik dari masa sebelumnya. Hal ini didasarkan pada  pola interaksi orang Belanda dengan kaum Pribumi, yang mula-mula dianggapnya saling berseberangan, jarang bersentuhan hingga menunjukkan hubungan positif seiring berjalannya waktu. Meski demikian, ia pun mengakui suatu keberatan dalam soal lainnya, terutama pada urusan ekonomi, tentang kenaikan pajak dan usulannya dalam menaikkan gaji priayi (Kaoem Moeda 21 Juli 1923).

Dalam soal pajak ia menyatakan, bukan hanya dirinya yang terlalu keberatan, kewajiban  membayar pajak membebani pula kaum pribumi yang penghasilannya relatif kecil. Apalagi, iuran pajak tersebut terus mengalami kenaikkan. Baik pajak bumi, maupun pajak-pajak lainnya yang berpengaruh pada kelonjakan harga bahan makanan. Dengan alasan itu ia mengusulkan, perlunya mendatangi rakyat kecil yang notabene berprofesi sebagai petani.

Untuk mengetahui berapa besaran pajak yang dibayar oleh kelompok petani itu dan disesuaikan dengan kapasitas garapan yang mereka kerjakan agar tidak terlalu memberatkan (Kaoem Moeda 20 Juli 1923).

Selain urusan pajak, Wiranatakoesoemah juga menyoroti kekurangan gaji priayi. Sebagai kalangan menak yang menjabat bupati, Moeharam terlihat bersikuku dalam mengupayakan tambahan gaji itu.

Menurutnya, upah yang didapatkan dari pemerintah tidaklah cukup untuk menutupi segala keperluan rumah tangga. Ia mengitung gaji rata-rata yang diterima oleh wedana sebesar f 120, sedangkan untuk asisten wedana sebesar f 84. Jumlah tersebut tidak sebanding dengan pengeluaran, apalagi untuk kalangan priayi yang tidak memiliki penghasilan sampingan. Lazimnya, uang tersebut habis digunakan untuk membayar utang, selain dikeluarkan untuk kebutuhan sehari-hari (Kaoem Moeda 21 Juli 1923).

Lika-liku yang dihadapi Moeharam memang begitu rumit. Kiprahnya dalam anggota dewan terlampau banyak halangan.

Tahun 1924, usulannya tidak terpilih karena dianggap bertentangan dengan pihak lain. Salah satu upaya yang tidak disetujui itu antara lain, mengenai kenaikan gaji kelompok priayi. Bagi para pengikut Moeharam perlakuan ini begitu disesalkan. Mereka menilai, jika Moeharam telah melakukan yang terbaik untuk rakyatnya dalam mengupayakan kerja kerasnya yang ia nyatakan dalam pidatonya pertama kali. Bahkan, surat kabar berbahasa Belanda, Het Nieuws van den dag, ikut mencampuri ketidaksetujuan itu seraya membuat pernyataan hinaan, seperti yang digambarkan Obor edisi Maret 1924.

Tapi anoe teu moepakat mah kana todjoean andjeunna, pada ngarewa, oenggal njarios dina Volksraad oge sok loba bae noe ngabantah, malah soerat kabar Het Nieuws van den dag mah bari ngahinakeun, ana ngabantah kana toedjoean Kandjeng Dalem teh (Namun yang tidak sepakat dengan tujuan beliau itu, kebanyakkan merasa tidak suka, setiap berbicara dalam Volksraad juga selalu banyak yang membantah, bahkan surat kabar Het Nieuws van den dag seraya menghinakan, sewaktu mereka membantah tujuan Kanjeng Dalem itu)”.

Tahun selanjutnya kerja Moeharam di dewan rakyat semakin tak ada harapan. Saat wacana Bandung menjadi ibu kota Jawa Barat muncul, ia berupaya keras agar disahkan oleh para anggota dewan.

Awalnya, Pemerintah Hindia Belanda mengumumkan bahwa akan ada perubahan dalam struktur kewilayahan. Untuk Pulau Jawa dan Madura dibagi menjadi 17 keresidenan dengan dikepalai oleh residen. Namun, pemerintah telah membagi Pulau Jawa (Madura) ke dalam tiga wilayah provinsi, yaitu, Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat. Lalu untuk wilayah Jawa Barat terdapat empat keresidenan: Banten, Batawi Priangan dan Cirebon dengan dipimpin oleh satu orang gubernur provinsi. Adapun dari keempat residen itu terdapat beberapa Kabupaten yang akan ditetapkan, seperti Serang, Pandeglang, Lebak, Betawi (Batavia), Mr. Cornelis, Bogor, Karawang, Sukabumi, Cianjur, Bandung, Sumedang, Garut, Tasikmalaya, Cirebon, Kuningan, Indramayu dan Majalengka (Obor edisi Juli 1924).

Sebelum penentuan wilayah ibu kota disahkan, terjadi silang pendapat yang cukup alot di antara anggota dewan.

Pada sidang Volksraad 18 Juli 1925, dua orang Belanda yakni, Kerkamp dan Helsdingen, saling bertolak argumen terkait rancangan pemerintahan yang sedang dikaji saat itu. Kerkamp justru menolak dengan tegas seraya mencela, sedangkan Helsdingen menerimanya dengan gembira (Darmokondo edisi Saptu 15 Agusutus 1925). Sayangnya, jumlah anggota yang tergabung dalam Volksraad itu, mayoritas orang-orang Belanda yang menginginkan ibu kota Pasundan berada di Batavia. Pada akhirnya, keputusan dewan menetapkan, bila ibu kota Jawa bagian barat  berada di kawasan Betawi. Maka, pada bulan Agustus 1925, wilayah Bandung yang diupayakan oleh Wiranatakoesoemah sebagai bupati Bandung batal untuk menjadi ibu kota. Pengumuman itu dikabarkan juga oleh surat kabar Darmokondo 25 Agustus 1925.

“Sebagaimana telah dikabarkan, regen Bandoeng poenja porstel jang menghendaki soepaja Bandoeng mendjadi tempat kedoedoekannja goebernoer provinsi ‘Pasoendan’ dalam volksraad telah diterima baik, hingga waktoe boepati Bandoeng poelang kembali dari Betawi ke Bandoeng, disana ia soedah disamboet dengan kehormatan jang gembira. Sekarang goepernoer-djenderal dengan dimoepakati oleh Raad van Indie (Dewan Hindia) soedah tetapkan soeatoe oendang, bahwa dalam raad provinsi itoe bakal doedoek anggota dari bangsa Bp. Dan dari bangsa Belanda sama djoemlahnja, jaitoe masing-masing 20 orang dan Betawi dioendjoek sebagai iboe kota dari provinsi Djawa Barat alias ‘Pasoendan’ itoe”.

Setelah tersiar berita mengenai batalnya Bandung menjadi ibu kota Pasundan, bermacam respon muncul ditujukan kepada Wiranatakoesoemah.

Meski sang bupati disambut hangat oleh masyarakat pascakedatangannya dari Betawi, tapi kekalahan telak yang ia dapatkan di Volksraad dimanfaatkan dengan jeli oleh kelompok merah.

Pada Soerapati 8 Agustus 1925, salah satu tulisan di surat kabar itu menggunakan judul yang begitu mengejek. Kaum Komunis merayakan kekalahan Moeharam di Betawi dengan ejekan khas kepada sang bupati. Mereka menyebut bahwa, “Gouverneur Tjitjing di Bandoeng? Moeharam Wiranatakoesoemah Njieun Reclame? Api-api Rajat Milu Soeka? Antjoen…Ngegel Tjoeroek! Teu Pajoe…Alias Keok! (Gubernur bertempat di Bandung? Moeharam Wiranatakoesoemah Bikin Reklame? Pura-pura Rakyat Ikut Senang? Malu…sambil gigit telunjuk! Gak Laku…Alias Kalah!.)

Tentu saja, ejekan dan celaan tersebut didengar oleh sang bupati. Tapi sayangnya, surat kabar Obor sudah tidak lagi beroperasi sampai akhir 1924. Biasanya, para pengikut Wiranatakoesoemah kembali melancarkan serangan dengan argumen yang galib mereka nyatakan melalui Obor.

Namun, di luar urusan polemik ini, terdapat persoalan yang tentu sangat mengganjal.

Moeharam telah gagal sebagai anggota Volksraad. Dua usulan yang ia kehendaki, juga tidak diinginkan oleh forum dewan rakyat. Ditambah, satu pukulan telak yang mengentakkan, dengan batalnya Bandung menjadi ibu kota yang diidam-idamkan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Andres Fatubun

terbaru

Bagaimana Nasib Perekonomian Indonesia Tahun 2021?

Netizen Rabu, 27 Januari 2021 | 14:35 WIB

Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah Indonesia untuk menghadapi pandemi Covid-19 dalam bidang ekonomi

Netizen, Bagaimana Nasib Perekonomian Indonesia Tahun 2021?, nasib ekonomi Indonesia tahun 2021,Pandemi Covid-19,Data BPS tentang pertumbuhan ekonomi Indonesia,Menteri Keuangan Republik Indonesia Sri Mulyani,Program Penanganan COVID-19

Bahaya Merokok ketika Sedang Berjualan Makanan dan Naik Kendaraan

Netizen Selasa, 26 Januari 2021 | 09:44 WIB

Merokok di tempat umum, terlebih banyak anak-anak atau bayi di sana, tentu bukan hal yang bijaksana dan sangat menggangg...

Netizen, Bahaya Merokok ketika Sedang Berjualan Makanan dan Naik Kendaraan, bahaya merokok,Merokok,merokok di tempat umum,perokok yang egois

Mengapa Netizen Dibutuhkan oleh Media?

Netizen Selasa, 26 Januari 2021 | 09:28 WIB

Netizen dapat turut membantu menyampaikan sekaligus menyebarkan pentingnya nilai-nilai ke-Indonesiaan.

Netizen, Mengapa Netizen Dibutuhkan oleh Media?, netizen,pengelola media online,posisi netizen,media butuh netizen

Kenapa Gedung Kongres Mudah Digeruduk?

Netizen Senin, 25 Januari 2021 | 18:25 WIB

Bila dilihat dari puncak monumen George Washington, gedung Kongres  lebih megah dibanding tiga icon di kawasan inti Wash...

Netizen, Kenapa Gedung Kongres Mudah Digeruduk?, gedung kongres amerika,Donald Trump,senator as,dpr,senat

Bonus Demografi di Tengah Pandemi

Netizen Senin, 25 Januari 2021 | 12:05 WIB

Di tengah maraknya pandemi COVID-19, Indonesia saat ini ternyata sedang mengalami era “Bonus Demografi”.

Netizen, Bonus Demografi di Tengah Pandemi, Sensus Penduduk 2020,Bonus Demografi,Pandemi Covid-19,penduduk usia produktif

Siapa Peduli Angkot?

Netizen Senin, 25 Januari 2021 | 11:35 WIB

Tidak dapat dipungkiri bahwa keberadaan angkot saat ini sudah tergeser oleh keberadaan ojek online.

Netizen, Siapa Peduli Angkot?, Angkot,Sopir Angkot,fungsi angkot,Ojek Online (Ojol),angkot terdesak ojek online

Pesona Nepal van Java Majalengka: Feature Ecomuseum “Kampung Cibuluh”

Netizen Senin, 25 Januari 2021 | 11:08 WIB

Desain rumah yang tersusun secara teratur serta pemandangan hijau yang disajikan menjadikan kampung ini sebagai Nepal-ny...

Netizen, Pesona Nepal van Java Majalengka: Feature Ecomuseum “Kampung Cibuluh”, Kampung Cibuluh Majalengka,Pesona wisata kampung Cibuluh Majalengka,Kampung Cibulung mirip suasana Nepal,Kampung Cibuluh di kaki Gunung Ciremai,Potensi wisata Kampung Cibuluh

Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi COVID-19

Netizen Senin, 25 Januari 2021 | 10:06 WIB

Mewujudkan ketahanan pangan berkelanjutan menjadi isu dan agenda prioritas dalam berbagai pertemuan yang diselenggarakan...

Netizen, Ketahanan Pangan di Tengah Pandemi COVID-19, Ketahanan Pangan,ketahanan pangan di masa pandemi,isu ketahanan pangan,jaminan ketersedian pangan

artikel terkait

dewanpers