web analytics
  

Wisata Bandung Tempo Dulu

Minggu, 1 November 2020 14:47 WIB Tri Joko Her Riadi
Bandung Baheula - Baheula, Wisata Bandung Tempo Dulu, Wisata Bandung Tempo Dulu,Kwee Khay Khee,Sejarah Bandung,Boekoe Petoendjoek Djalan Boeat Pelesiran di Kota Bandoeng dan Daerahnja,Bandung Heritage,Sam Suhaedi Admawiria

Repro potret suasana kolam karang setra sebagaimana termuat dalam buku "An Invitation to Bandung Region" (1962). (AyoBandung.com/Tri Joko Her Riadi)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Membahas Kota Bandung, sulit bagi kita memisahkannya dari daerah-daerah tetangga di Bandung Raya. Kedekatan geografis, kultural, dan kesejarahan yang saling mempengaruhi selalu melampaui pembatasan administratif.

Membicarakan wisata Bandung juga tidak lepas dari lanskap Bandung Raya. Jejaknya bisa kita temukan dalam berbagai literatur yang menceritakan wisata Bandung tempo dulu. Termasuk buku-buku panduan wisata.

Dalam “Boekoe Petoendjoek Djalan Boeat Pelesiran di Kota Bandoeng dan Daerahnja”, yang diperkirakan terbit di dasawarsa pertama abad ke-20, Kwee Khay Khee merasa tidak cukup hanya menyinggung lokasi-lokasi menarik di dalam Kota Bandung. Ia sebut juga Lembang, Tangkuban Perahu, Cimahi, Pangalengan, Ciwidey, dan bahkan Garut.

Ketika mendeskripsikan Bandung, Kwee buru-buru menyebut deretan bukit dan gunung yang melingkarinya, mulai dari Burangrang dan Tangkuban Perahu di utara, Bukit Tunggul di timur, serta Gunung Tilu dan Malabar di selatan. Menurut Kwee, orang bisa menyaksikan pemandangan pegunungan ini secara sempurna dari Tegallega.  

Tentang Lembang, sang juragan bisnis percetakan itu menyebut beberapa lokasi menarik untuk dikunjungi, mulai dari kebun kina hingga perkebunan Junghuhn. Tidak lupa, Kwee mencantumkan secara rinci pilihan transportasi ke Lembang dari Bandung. Berkendara dokar, orang bisa mencapainya dalam tempo 1,5 jam.

“Dari atas goemoek (bukit) itoe orang bisa dapat meliat kota Bandoeng, dan djika tjoeatja cerah bisa djoega meliat Tjimahi dan Padalarang,” tulisnya dalam buku yang diterbitkan ulang oleh Katarsis Book Bandung pada Mei 2020 itu.

Tentang akses menuju Tangkuban Perahu, Kwee melukiskannya dengan sangat indah dan rinci. Ia sarankan orang berangkat pagi-pagi. Jalanan yang terpelihara baik, berikut pemandangan elok di bawah matahari yang tidak menyengat kulit, bakal membuat perjalanan tiada membosankan.

Turun dari dokar, orang harus melanjutkan perjalanan menuju kawah dengan naik kuda atau tandu. Butuh satu jam lamanya bagi pengunjung mencapai puncak.

“Ada poen kawah itoe terbagi mendjadi doea oleh soeatoe galeng di tengah jang terdiri dari seroepa batoe tjampoeran tjoering. Bagijan jang terketjil dinamai Kawah Ratoe dan dalamnja 250 meter, sedang jang besar namanja Kawah Oepas. Sepandjang dinding kawah itoe, jang sebelah kiri ada terdapat sebaris pohon-pohon dan tangkei-tangkei jang soedah berwarna item mendjadi areng, malah djika terliat jang satu lebih menakutken dari pada jang lain saolah-olah memedi,” begitu Kwee melukiskan apa yang ia lihat di Tangkuban Perahu.

Tentang Patuha dan Kawah Putih, Kwee menulis bahwa wisata ke kawasan ini belum populer. Aksesnya yang sulit membuat sedikit saja orang yang mau berkunjung ke sana. Sebagian aksesnya berupa “hoetan-hoetan jang masih gelap”. Perjalanan di atas kuda memakan waktu enam jam, disusul perjalanan kaki beberapa jam.

“Akan tetapi baik poen perdjalanan itoe sangat soesah dan banjak rintangannja, sasoedahnja bakal mendapat ganti kasenangan jang tiada terhingga, sebab apabila soedah berdiri di atas Patuha, orang lantas dapat pengliatan djaoeh pada goenoeng-goenoeng, djoerang-djoerang d.l.l. baik di bilang soeatoe odjoeng pemandangan jang baik di dalam antero tanah Priangan,” tulis Kwee.

Tentang Bandung sendiri, Kwee menulis panjang-lebar tentang Hotel Homann. Saking larisnya, ia menyarankan orang yang mau menginap di sini agar memesan jauh-jauh hari. Acara pelesir di dalam kota bisa dilakukan dengan menumpang kendaraan milik hotel yang bisa disewa. Kwee menyodorkan 8 alternatif jalur pelesir dengan titik berangkatnya di Hotel Homann.

Untuk Wisatawan Luar Negeri

Pada 1962, terbit buku “An Invitation to Bandung Region: Opal of the Orient” karangan Sam Suhaedi Admawiria. Kalau Kwee menulis panduan pelesir ke Bandung terutama untuk para pembaca di daerah panas seperti Surabaya, Pasuruan, dan Probolinggo, Sam membuat panduan wisata ini dengan kiblat ke Ibu Kota Jakarta. Lihatlah sampul buku ini: sebuah sketsa rute perjalanan dari Jakarta ke Bandung via Bogor dan Puncak.

Buku setebal 109 halaman ini dibuat dwibahasa, Inggris dan Indonesia. Beberapa foto klasik ditampilkan di halaman-halamannya, mulai dari Alun-alun Bandung dengan kolam airnya, Hotel Homann dan Preanger, hingga Villa Isola dan kolam renang Karangsetra.

Gaya bercerita di buku “An Invitation to Bandung Region” ini mirip dengan buku “Boekoe Petoendjoek Djalan Boeat Pelesiran di Kota Bandoeng dan Daerahnja”. Dimulai dari pengenalan titik-titik wisata di dalam kota, deskripsi berlanjut ke daerah-daerah tetangga. Lembang dan Tangkuban Perahu lagi-lagi ditempatkan di awal. Kali ini dilengkapi dengan penjelasan tentang legenda Sangkuriang.

Yang menarik, buku panduan wisata ini menampilkan juga beberapa produk budaya khas Bandung, dari seni hingga kuliner. Peuyeum dan oncom dikenalkan kepada pembaca untuk dicicipi dalam kunjungannya ke Bandung.

Karena menyasar turis mancanegara yang diandaikan datang melancong dari Jakarta, buku “An Invitation to Bandung Region” dilengkapi dengan panduan percakapan Inggris-Indonesia. Ada juga satu bab khusus membahas “etika luar negeri”, mencakup sopan-santun dalam perkenalan, pesta makan, makan malam, serta jamuan tak resmi.

Lebih dari Katalog

Pada 1994, Paguyuban Pelestarian Budaya Bandung (Bandung Society for Heritage Conservation), atau lebih dikenal sebagai Bandung Heritage, menerbitkan buku dengan seluruh teksnya dalam Bahasa Inggris “All Araound Bandung: Exploring the West Java Highlands”. Setebal 159 halaman, buku karangan Gottfried Roelcke dan Gary Crabb ini dicetak dengan kertas mengkilat.

Alur bercerita buku ini lagi-lagi sama dengan dua buku panduan wisata yang terbit sebelumnya. Penulis memulai kisahnya dengan mengenalkan beberapa titik menarik di dalam Kota Bandung. Ada tiga rute jalan-jalan yang ditawarkan: pusat kota, taman-taman, serta ITB (Institut Teknologi Bandung) dan sekitarnya.

Ketika mengisahkan tempat-tempat wisata di luar kota, Roelcke dan Cribb mengulang apa yang dilakukan oleh Kwee dan Sam. Pengenalan dimulai dari Bandung utara, terutama Lembang dan Tangkuban Perahu-nya.

Yang beda dari buku ini adalah pengenalan, meski hanya sekilas, kawasan barat. Penulis menyebut berbagai titik layak kunjung, mulai dari Goa Pawon hingga Waduk Jatiluhur dan Pelabuhan Ratu. Jangkauan pengenalan yang demikian luas juga diberikan untuk sisi lain Bandung, mulai dari Cirebon hingga Pangandaran.

“Kami merasa All Around Bandung lebih dari sekadar katalog tempat-tempat untuk dikunjungi. (Buku) Ini sumbangan bagi penghargaan dan pemahaman tentang Bandung, lingkungan, dan masyarakatnya,” tulis H.E.K. Ruhiyat, Ketua Bandung Heritage, di halaman Pengantar.

Bukan Bandung, tapi Bandung Raya

Tiga buku panduan wisata Bandung tempo dulu memiliki benang merah yang begitu kuat tentang posisi Kota Bandung di tengah kawasan Bandung Raya. Pelesiran ke Bandung berarti juga pelesiran ke Bandung Raya. Ke Lembang, Ciwidey, dan daerah-daerah elok lainnya.

Pengelolaan dan pengembangan wisata di Bandung, agar lebih optimal lagi, dengan demikian tidak bisa dilepaskan dari daerah-daerah di sekitarnya. Penyekatan dan pembatasan berdasarkan urusan administratif lebih banyak merugikan. Yang satu merasa dimanfaatkan oleh yang lain. 

Temuan tentang wisata Bandung tempo dulu ini bisa kita pakai untuk meneropong banyak urusan lain yang menyangkut manusia di Bandung hari ini.  Mengelola transportasi, misalnya. Kemacetan yang menjadi masalah menahun di Bandung tidak bisa dilihat dari kaca mata administratif. Tidak sedikit jumlahnya orang yang bekerja di Bandung tinggal di Cimahi atau Baleendah dan Soreang. Kebijakan pengembangan transportasi publik harus melibatkan juga daerah tetangga: kota Cimahi, Kabupaten Bandung, dan Kabupaten Bandung Barat.

Mengurus sampah tidak beda. Sudah sekian tahun terakhir Bandung mengirim 1.200 ton sampah setiap hari ke Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sarimukti di Kabupaten Bandung Barat. Kalau orang Lembang membuang sampah ke selokan, air membawanya ke sungai yang melintasi Kota Bandung. Jika tak diangkut petugas kebersihan di Bandung, sampah itu akan berlayar hingga ke Sungai Citarum di Kabupaten Bandung. Dalam volume besar, tumpukan sampah itu bisa memicu banjir di dataran rendah di daerah tetangga itu.

Pengelolaan lingkungan hidup sama halnya. Tidak bisa lagi pemerintah dan semua pemangku kepentingan lain hanya bicara tentang wilayah masing-masing. Apa yang terjadi di Kota Bandung, entah banjir bandang atau cileuncang, tidak bisa dilepaskan dari apa yang ada di Kabupaten Bandung, Kota Cimahi, dan Kabupaten Bandung Barat. Demikian juga sebaliknya.

Ancaman bencana banjir bandang dan genangan di Bandung, misalnya, tidak bisa dipisahkan dari laju alih fungsi lahan yang makin tidak terkendali di bentang alam yang ada di wilayah utara, biasa disebut Kawasan Bandung Utara (KBU). Ratusan hektare lahan yang mestinya jadi daerah penyangga itu secara administratif ada di kabupaten atau kota tetangga.

Ironisnya, salah satu faktor pendorong utama perusakan lingkungan di utara Bandung ini, barangkali juga masalah sampah dan kemacetan, adalah bisnis wisata.

Editor: Tri Joko Her Riadi
dewanpers