web analytics
  

Kisah Pembelajaran Luring dan Daring di SDIT Permata

Minggu, 1 November 2020 11:29 WIB Adi Ginanjar Maulana
Bandung Raya - Ngamprah, Kisah Pembelajaran Luring dan Daring di SDIT Permata, SDIT Permata,pembelajaran jarak jauh (PJJ),Pembelajaran Daring,AKB,Ubah Laku,Jurnalisme Ubah Laku

SDIT Permata di Kampung Pangheotan, Desa Mandalamukti, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat. (Ayobandung.com/Adi Ginanjar Maulana)

CIKALONG WETAN, AYOBANDUNG.COM -- Permasalahan jaringan internet, kemampuan orang memiliki gawai, kuota, hingga sarana lainnya membuat pembelajaran di masa pandemi Covid-19 menjadi terhambat.

Di sisi lain, kegiatan belajar mengajar (KBM) harus tetap berjalan seperti biasa terlebih saat ini sudah memasuki di masa adaptasi kebiasaan baru (AKB).

Namun, hal itu tidak menjadi rintangan yang besar bagi SDIT Permata di Kampung Pangheotan, Desa Mandalamukti, Cikalong Wetan, Kabupaten Bandung Barat.

SDIT menggelar pembelajaran daring dan guru keliling (luring) sebagai proses KBM di masa AKB. Luring dan daring dilakukan masing-masing 3 hari dalam sepekan.

Kepala SDIT Permata Permata Neneng Nurbayani mengatakan, selama pandemi Covid-19 pihaknya menjalani rutinitas dua strategi pembelajaran.

Meskipun, kata dia, jarak antara sekolah dan rumah siswa ada yang jauh hingga 4 kilometer.

"Jarak rumah siswa ada yang 4 kilometer ke sekolah. Ini menjadi tantangan sendiri bagi guru dalam melakukan luring," katanya kepada Ayobandung.com, Minggu (1/11/2020).

Kendati demikian, menurutnya, hal tersebut menjadikan hal ibadah bagi proses KBM. Dalam setiap luring, para siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Satu kelompok berisi 5-6 orang.

Tentunya, dalam pembelajaran luring siswa dan guru menerapkan protokol kesehatan dengan menjaga jarak dan menggunakan face shield.

Jumlah siswa saat ini mencapai 101 orang, yang mana setiap kelasnya mulai dari satu sampai enam terdiri dari 15-20 siswa. "Jumlah guru ada 6 orang, cukup untuk luring," katanya.

Di samping itu, kata dia, dalam proses daring pun sama. Setiap siswa dibagi ke dalam beberapa kelompok. Sebab, tidak semua siswa memiliki gawai dan kuota internet.

"Memang ada bantuan kuota, tapi siswa yang tidak punya gawai jadi terhambat. Ditambah jaringan sering terganggu di daerah sini," ujarnya.

Dia mengharapkan, KBM bisa lebih efektif di dalam kelas. Sebab, interaksi siswa dan guru bisa secara langsung.

"Minimal pembelajarannya dengan mengikuti AKB. Tapi, itupun perlu sarana dan prasarana yang tentunya perlu diberikan pemerintah," katanya.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers