web analytics
  

Mahasiswa Jerman Non-Muslim Menikmati Gerakan Salat

Minggu, 1 November 2020 08:50 WIB Administrator
Umum - Internasional, Mahasiswa Jerman Non-Muslim Menikmati Gerakan Salat , salat,sholat,non muslim,islam,ibadah,masjid,Jerman,eropa

Suasana Salat Jumat di Masjid Raya Bandung, Kota Bandung, Jumat (11/9/2020). Masjid Raya Bandung tetap menggelar Salat Jumat dengan menerapkan protokol kesehatan wajib menjaga jarak, memakai masker, serta masjid tidak diisi penuh selama salat berjamaah. Sejauh ini belum ada imbauan dari pemerintah kota atau provinsi untuk memberhentikan sementara salat berjamaah di masjid. (Ayobandung.com/Ryan Suherlan/Magang)

LENGKONG, AYOBANDUNG. COM -- Manfaat dan khasiat salat ternyata ikut dirasakan juga oleh kalangan non-Muslim. Sebagaimana dialami Lukas, mahasiswa asal Jerman

Nama lengkapnya Lukas Maximilian von Rantzau. Dia adalah mahasiswa Dresden University, Jerman, yang sedang mengikuti program student exchange di Universitas Muhammadiyah Malang, pada 2010 lalu.  

Dalam program di bawah naungan Erasmus Mundus External Cooperation Window (EMECW) yang didanai oleh Komisi Uni Eropa itu, Lukas dan beberapa teman lainnya dari Eropa selama satu semester mengikuti kuliah di berbagai jurusan di UMM.    

Kisah ini disampaikan Dosen UMM Nasrullah, sebagaimana dikutip dari dokumentasi Harian Republika. Lukas meminta diajari cara salat. Maunya semua ritual salat ditunjukkan tanpa ada yang terlewatkan. 

Mulai cara berwudhu, hingga gerakan gerakan salat dari takbiratul ikram sampai salam. Tak hanya itu, dia pun beberapa kali mempraktekkan sholat sebagai makmum di musala kantor Biro Kerjasama Luar Negeri (BKLN) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM). “Saya menikmati gerakan-gerakan sholat. Bagus sekali,” kesannya.

Pelajaran salat tentu tidak termasuk dari mata kuliah yang diprogram  Lukas. Selain dia memang non-Muslim, dia mengambil jurusan Hubungan Internasional, bukan Tarbiyah atau Syari’ah. Tetapi keingintahuannya tentang salat sering timbul karena melihat gerakan gerakan salat yang membuatnya terkagum. “Ini seperti meditasi. Tadi saya capai sekali, setelah ikut salat jadi lumayan rileks,” ujar Lukas usai mengikuti Salat Zuhur, Rabu (27/10/2020). 

Keingintahuan Lukas hanya sebatas arti gerakan bagi kebugaran fisiknya. Dia hanya bisa menilai, jika dilakukan lima kali sehari, tentu salat akan menyehatkan tubuh.

“Saya mengajak dia berdiskusi kecil tentang substansi sholat. Saya kemukakan beberapa saja yang mudah dipahaminya agar tidak terlalu membebani kognisinya, karena dia baru belajar bahasa Indonesia. Saya hanya menyampaikan beberapa hal,” tulis Nasrullah.  

Nasrullah pun menjelaskan beberapa hal terkait salat kepada Lukas. Pertama, kenapa salat harus lima waktu. Kita hidup di bawah irama waktu yang tak menentu. Kadang ritme kita cepat, kadang lambat. Kadang kita lupa waktu jika bekerja, atau emosi sedang memuncak. Maka waktu salat akan mengingatkan kita agar kembali menghadap Allah SWT, menyerahkan segala sesuatunya kepada Yang Maha memiliki Waktu.

Lihatlah, betapa Allah mengatur lima waktu salat itu dengan sangat indah. Subuh ketika kita bangun, zuhur ketika kita sedang puncak-puncaknya bekerja, asyar saat tenaga kita mulai melemah. Lalu maghrib di waktu kita berkumpul dengan keluarga, dan isya sebelum kita meninggalkan semua aktivitas di hari itu.

Kedua, sholat tak hanya soal gerakan fisik. Mata batin kita juga bergerak mendekatkan diri kepada-Nya. Kita meninggalkan segala sesuatu yang bersifat duniawiyah. Ritual berwudhu adalah membersihkan diri agar batin kita lebih siap menghadap. 

Jadi bukan hanya untuk kebersihan tubuh semata-mata. Gerakan takbiratul ihram, rukuk, sujud tak semata-mata berolahraga, tetapi membuat irama hati sebab sesungguhnya kita amatlah kecil di hadapan Yang Maha Akbar.

Ketiga, tidak ada status sosial yang melekat dalam salat. Islam mengajarkan agar sebelum salat berjamaah shaf-shaf diluruskan, dirapatkan. Ini bermakna, sesungguhnya Islam itu rapi dan terorganisasi mengikuti pemimpin (imam)-nya. Islam bukan sebuah crowded group atau kelompok kerumunan yang terpecah-pecah dan bicara sendiri-sendiri. Meski demikian, tak ada status sosial yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Yang ada adalah kesejajaran, equalitas, sebab siapapun yang melakukan salat tak dipandang pejabat atau keturunan ningrat, semua berbaris dengan gerakan rukuk dan sujud yang sama. Tak ada previlage untuk siapapun, misalnya dengan dispensasi yang pejabat tidak usah rukuk atau sujud.

Keempat, ini yang terpenting, Allah mengajarkan sesungguhnya di dalam salat itu mengandung dimensi teologis sekaligus sosial. Sholat dimulai dengan menganggungkan nama Allah, “Allahu Akbar”.

Lalu diakhiri dengan salam, mendoakan umat Islam yang ada di sekitar kanan-kiri kita: “Assalamu’alaikum warahmatullah….”. Rupanya Allah tidak memonopoli agar salat itu untuk-Nya semata-mata, tetapi juga untuk umat manusia agar selamat sejahtera di muka bumi dan di akhirat nanti. Maka tak heran, ajaran sholat juga diberi frame yang keras oleh Allah melalui surat Al-Ma’un.

Editor: Editor Ayobandung

artikel terkait

dewanpers