web analytics
  

Cerita Kupat Tahu Mangunreja Bertahan hingga Generasi Ketiga

Sabtu, 31 Oktober 2020 19:36 WIB Irpan Wahab Muslim
Umum - Regional, Cerita Kupat Tahu Mangunreja Bertahan hingga Generasi Ketiga, Kupat Tahu Mangunreja,kuliner tasikmalaya

Kupat Tahu Mangunreja, Tasikmalaya (AyoBandung.com/Irpan Wahab Muslim)

 

TASIKMALAYA, AYOBANDUNG.COM -- Kupat Tahu Mangunreja adalah salah satu produk kuliner terkenal dari Tasikmalaya. Makanan ini dijajakan di jalan raya Tasikmalaya-Garut KM 2 tepatnya di Desa Toblongan, Kecamatan Mangunreja.

Kupat Tahu Mangunreja sudah ada sejak tahun 1955. Waktu itu makanan khas ini dijual dengan cara ditanggung berkeliling kampung oleh sepasang suami istri Usman dan Oci. Dua sejoli ini bahkan berjalan kaki menjajakan kupat hingga perbatasan kecamatan setiap hari. Begitulah nama Kupat Tahu Mangunreja terkenal luas oleh masyarakat.

Generasi selanjutnya yang meneruskan usaha Kupat Tahu Mangunreja adalah Maman dan Tirah. Mereka memulainya sejak tahun 1980-an. Meski berganti tangan pengelola, namun cita rasa tetap terjaga. Rahasis bumbu hingga pengolahan tetap berasal turun terumun.

Saat ini pengelola Kupat Tahu Mangunreja dipegang oleh generasi ketiga yakni Lala Nurlaela.  Kupat tahu ini pun semakin diminati masyarakat karena mempunyai cita rasa berbeda. Rempat-rempah bahan dasar bumbu dipastikan berkualitas bagus. Mulai dari bawang daun, kacang tanah, parutan kelapa, cabe, garam, gula aren, asem, hingga santan.

3 Jam Ditumbuk

Namun ada perbedaan dalam pengolahan kacang tanah. Untuk membuatnya halus, kacang tanah tidak diblender melainkan ditumbuk setengah halus. Pengolahan bumbu kacang ini pun memakan waktu 3 jam.

"Mulai cara memasak kupat dan bambu itu turun-temurun. Saya generasi ketiga. Tidak ada perubahan cita-rasa sedikit pun karena masih memegang kualitas, " ujar Lala, Sabtu (31/10/2020).

Lala menambahkan, untuk mengembangkan usaha dan menampung para pembeli yang datang, pihakya membuka kios Kupat Tahu Mangunreja baru yang berjarak kurang dari 20 meter dari lokasi penjualan yang lama.

"Jadi kita ingin menampung banyak pembeli. Kadang kalau akhir pekan sering penuh. Makanya kita buka satu lagi warung, " ujar Lala.

Editor: Tri Joko Her Riadi
dewanpers