web analytics
  

BANDUNG HARI INI: Museum Kota Bandung Kapan Tuntasnya?

Sabtu, 31 Oktober 2020 16:46 WIB Tri Joko Her Riadi
Bandung Raya - Bandung, BANDUNG HARI INI: Museum Kota Bandung Kapan Tuntasnya?, Museum Kota Bandung,Sejarah Bandung,Bandung 30 Oktober

Suasana di hari peresmian Museum Kota Bandung. (AyoBandung.com/Irfan Al-Faritsi)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Ketika gagasan membangun Museum Kota Bandung dilontarkan oleh Wali Kota Ridwan Kamil setidaknya sejak sekitar tahun 2014, yang ada hanyalah optimisme belaka. Semua yang baik-baik yang dibayangkan dan diharapkan kesampaian.

Museum di seberang jalan kompleks Balai Kota Bandung ini digadang-gadang menjadi museum multimedia yang unik dan satu-satunya di Indonesia. Beragam koleksi berharga akan dipamerkan. Bahkan pernah muncul wacana memulangkan sekian banyak benda bersejarah terkait Bandung dari Leiden, Belanda.

Namun dalam perjalanannya, pembangunan dan pengelolaan Museum Kota Bandung jauh betul dari mulus. Banyak sekali tikungan dan halangan, mulai dari rentetan gagal lelang hingga tudingan salah kelola keuangan.

Setelah beberapa kali tertunda, pada 30 Oktober 2018, tepat hari ini dua tahun lalu, Museum Kota Bandung diresmikan oleh Oded M. Danial yang dilantik sebagai Wali Kota Bandung menggantikan Ridwan Kamil sebulan sebelumnya. 

“Bagi saya museum adalah etalase kota, tidak hanya bicara soal sejarah dan fosil peninggalan purba. Tetapi lebih dari itu, kita bisa melihat perkembangan seni dan budaya teknologi di sebuah kota dari museumnya,” kata Oded di hari peresmian.

Peresmian ini bukan berarti menuntaskan kerumitan pembangunan dan pengelolaan museum. Sampai hari ini masih banyak ketidakjelasan dan kesimpang-siuran terkait keberadaan museum ini. Ditambah lagi hantaman pandemi Covid-19 yang menghambat operasional ruang publik sekaligus membatasi mobilitas warga.

Yang paling dirugikan dari semuanya adalah publik, terutama warga Kota Bandung.

Jas Merah

Ridwan Kamil mengklaim, inisiatif pembangunan Museum Kota Bandung merupakan perwujudan penghargaan pada sejarah kota. Bandung, dengan sejarahnya yang panjang dan kaya, selayaknya memiliki banyak museum untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa pentingnya.

Sebelum merintis pembangunan Museum Kota Bandung, Ridwan sebagai wali kota telah membangun dua ruang publik baru di kompleks Balai Kota, yakni Taman Sejarah dan Anjungan Perencanaan Bandung (Bandung Planning Gallery).

“Di zaman saya, saya ingin menerjemahkan nasihat Bung Karno: Jas Merah, jangan sekali-sekali melupakan sejarah. Sudah beres 100% untuk Taman Sejarah dan Planning Gallery. Sifatnya pembangunan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Ini namanya Museum Kota Bandung untuk kota sehebat Bandung yang selama ini tidak punya museum yang komprehensif,” kata Ridwan ketika meninjau pembangunan museum di eks kantor Dinas Pemuda dan Olahraga Kota Bandung, di Jalan Aceh, Selasa (19/9/2017), sebagaimana termuat dalam rilis Humas Pemkot Bandung.

Dalam acara peninjauan itulah, Ridwan menyebut bahwa sebagian isi museum bakal didatangkan dari Leiden, Belanda. Akan ada 3000-an foto dan dokumen yang diizinkan untuk diduplikasi dan dipajang untuk kepentingan edukasi.

Judul rilis Humas Pemkot Bandung itu begitu optimistisnya: “Segera Hadir, Museum Kota Bandung”. Namun kita semua kemudian tahu, hingga tahun berganti museum yang ditunggu-tunggu itu belum juga kelar dikerjakan. Sampai Ridwan Kamil selesai menjabat wali kota, Museum Kota Bandung belum juga diresmikan.

Dua Gedung

Museum Kota Bandung berdiri di dua gedung. Yang di depan merupakan bangunan cagar budaya tipe A bekas Sekolah Taman Kanak-Kanak (Frabelschool) oleh Loge Sint Jan, kelompok Vrimerselarij (Freemasonry) Bandung. Setelah dinasionalisasikan, gedung yang dibangun 1925 ini berberapa kali berganti fungsi. Sebelum jadi museum, ia digunakan sebagai kantor Dispora Kota Bandung. Di gedung ini, ditampilkan sejarah Kota Bandung dan sejarah pergerakan kebangsaan.

Gedung kedua merupakan bangunan baru setinggi tiga lantai yang berdiri di belakang gedung pertama. Di sini, dipamerkan produk budaya Kota Bandung, mulai dari agama, seni, sosial, budaya, ekonomi, hingga teknologi. Komposisinya: 60% foto, 20% dokumen dan arsip, 10% grafis, serta 10% artefak lain.

Benda-benda koleksi dan materi museum berasal dari berbagai sumber sejarah, baik peninggalan sejarah yang ada di masyarakat maupun materi sejarah dari museum-museum di Indonesia dan Belanda. Bahkan disebut-sebut sudah ada pembicaraan tentang rancangan kerja sama tentang pengembangan materi sejarah dengan museum di Belanda.

Ketua Tim Pendiri Museum Kota Bandung Hermawan Rianto menyatakan, museum ini akan dikelola secara profesional oleh para kurator. Mereka berasal dari berbagai disiplin ilmu, mulai dari ilmu agama, sejarah, teknologi, hingga budaya.

“Kehadiran Museum Kota Bandung ini sebagai museum budaya yang diperuntukkan sebagai wadah kajian pengembangan sejarah untuk generasi selanjutnya,” tutur Hermawan di hari peresmian museum.

Dana APBD Rp 25 Miliar

Pembangunan Museum Kota Bandung menelan duit rakyat tidak sedikit. Jejaknya bisa kita lihat di situs Layanan Pengadaan Secara Elektronik (LPSE) Kota Bandung. Kita juga akan tahu bahwa beberapa paket lelang tidak berjalan mulus. Beberapa harus melewati fase evaluasi ulang dan lelang ulang.

Sedikitnya ada 6 paket lelang terkait Museum Kota Bandung yang tercantum di situs LPSE Kota Bandung dengan menggunakan dana APBD 2015, 2016, dan 2016. Nilai total Harga Perkiraan Sendiri (HPS) mencapai Rp 25 miliar.

Paket lelang pertama dalam APBD 2015 adalah Belanja Konsultasi Perencanaan Museum. Nilainya Rp 359 juta.

Paket lelang kedua, berjudul Belanja Jasa Konsultasi Pengawasan, menggunakan dana APBD 2016 senilai Rp 275 juta.

Paket lelang ketiga masih di APBD 2016, judulnya Belanja Konstruksi Pembangunan. Nilainya menjadi yang terbesar di antara semua paket lelang terkait Museum Kota Bandung, mencapai Rp 12 miliar. Paket lelang ini harus melewati tahap evaluasi ulang.

Paket lelang keempat masih di APBD 2016 dengan nilai Rp 3,5 miliar. Judul paketnya Peningkatan Pembangunan Sarana dan Prasarana Pariwisata atau Belanja Barang Museum. Paket ini harus ditender ulang.

Di tahun anggaran 2017, terdapat tiga paket lelang. Yang pertama, Belanja Jasa Konsultasi Rancangan Perangkat Lunak, bernilai Rp 2,4 miliar. Paket ini harus dievaluasi ulang.

Paket berikutnya, Belanja Modal Peralatan dan Mesin, senilai Rp 2,9 miliar harus ditender ulang.

Yang terakahir, paket lelang lagi-lagi dijuduli Belanja Modal Peralatan dan Mesin. Nilainya semakin besar, mencapai Rp 5,1 miliar. Lelang ini harus menjalai tahap evaluasi ulang.

Selain menggunakan dana APBD, pembangunan dan pengelolaan Museum Kota Bandung juga disokong oleh dana Coorporate Social Responsibility (CSR) Bank bjb. 

Editor: Tri Joko Her Riadi

artikel terkait

dewanpers