web analytics
  

CERITA ORANG BANDUNG: Yoyo, Generasi Terakhir Tukang Cukur 'DPR' Taman Cilaki Bandung

Jumat, 30 Oktober 2020 13:14 WIB Nur Khansa Ranawati
Bandung Raya - Bandung, CERITA ORANG BANDUNG: Yoyo, Generasi Terakhir Tukang Cukur 'DPR' Taman Cilaki Bandung, Cerita Orang Bandung,Di bawah Pohon Rindang,Cukur Rambut Bandung,Taman Cilaki Bandung,Taman Cibeunying

Yoyo Sukarya (53) tukang cukur terakhir yang membuka lapaknya di bawah pohon depan Taman Cilaki, Kota Bandung (ayobandung/Nur Khansa)

SUMUR BANDUNG, AYOBANDUNG.COM -- Sekitar dua dekade lalu, area Taman Cilaki Bandung tidak hanya ramai disambangi warga untuk bersantai di bangku-bangku taman. Melainkan juga untuk memangkas rambut.

Kala itu, jasa pangkas rambut 'DPR' alias Di bawah Pohon Rindang masih lazim dijumpai di berbagai titik di Kota Bandung, tak terkecuali di taman yang saat ini dikenal dengan nama Taman Kandaga Puspa tersebut. Bermodalkan peti berisi peralatan cukur, cermin yang digantung di pohon dan sebuah bangku, sejumlah area di taman tersebut disulap menjadi salon selama beberapa jam.

Yoyo Sukarya (53) saat ini adalah satu-satunya penjaja jasa cukur di Taman Cilaki yang masih setia menanti pelanggan di bawah teduh pohon. Berbeda dengan dua puluhan tahun lalu, pelanggannya saat ini memang terbilang sedikit.

20201026-123928

Ia mengawali profesinya tersebut di tahun 1998, bermodalkan kemampuan cukur rambut yang diperolehnya di kampung halaman. Yoyo adalah warga Kota Bandung yang berasal dari Limbangan, Garut, dan mewarisi ilmu cukur rambut dari sang ayah.

Yoyo muda kala itu adalah satu dari sekitar delapan orang pencukur rambut 'DPR' di dalam Taman Cilaki. Usianya memang termasuk yang paling muda di antara tukang cukur lainnya.

"Tahun 1998 itu ramai, orang mau cukur rambut di sini harus antre. Ketika saya mulai nyukur rambut, sudah ada 8-9 tukang cukur lain. Memang kebanyakan usianya di atas 50 tahun, saya yang paling muda waktu itu," ungkap Yoyo saat ditemui Ayobandung.com di sela istirahatnya belum lama ini.

Ia mengatakan, tukang cukur rambut saat itu masih diperkenankan masuk ke dalam area taman. Taman Cilaki pun disebut belum dipagari seperti saat ini. Setelah tiga tahun menjalani profesinya, salah seorang tukang cukur di kawasan tersebut meninggal dunia.

"Setelah itu ada yang meninggal lagi, lalu taman dipagari dan kami nyukur rambut di luar (taman). Sampai sekarang nyukur di luar itu sudah 13 tahun. Ada empat orang masih buka jasa cukur di luar," ungkapnya.

Area tempatnya menggelar jasa cukur saat ini berada di area luar trotoar Taman Kandaga Puspa, berada di tengah para penjual barang loak. Tidak jauh dari kawasan Taman Cibeunying.

Satu persatu, seiring berjalannya waktu, teman seprofesinya harus tutup usaha. Ada yang berhenti karena sakit, pulang kampung dan meneruskan usaha lain, ada pula yang berhenti karena tutup usia. Rekan terakhirnya meninggal dunia 10 bulan lalu, menyisakan lapak kosong di sebelah tempat cukurnya.

"Jadi sekarang tinggal saya sendiri. Tadinya menunggu ada tukang cukur lain untuk buka usaha di sebelah (lapak) saya, tapi tidak ada yang berminat. Jadinya dipakai oleh yang jualan (barang loak)," ungkapnya.

Ia mengatakan, profesi tukang cukur 'DPR' saat ini memang kurang diminati. Banyaknya salon dan pangkas rambut pria menjadikan generasi muda tukang cukur Garut memilih untuk menyambung hidup di tempat-tempat tersebut.

Ia mengaku tidak tertarik untuk bergabung dengan salon ataupun tempat pangkas rambut pria. Ia menyebut telah merasa nyaman menjajakan jasanya di Taman Cilaki.

"Rezeki saya adanya di sini, jadi ya sudah saja tetap di sini. Selama saya masih kuat, masih sehat, saya akan terus buka cukur di sini," ungkapnya.

Saling Bantu

Perbincangan kami sempat terhenti ketika seorang pria datang tergopoh menyambangi lapak cukur Yoyo. Badannya dengan cepat menduduki kursi pelanggan yang sedari tadi kosong, menaruh kantong plastik hitam penuh buah mangga, dan meminta Yoyo untuk segera memangkas rambutnya.

"Geura, Yo, bisi kaburu hujan. (Cepat, takut hujan)," ungkapnya. Gesturnya menyiratkan bahwa dirinya telah melangsungkan proses cukur rambut di lapak Yoyo berkali-kali. Seorang pelanggan lama.

Sembari Yoyo menggunting rambut pelanggan tersebut, sang pelanggan berkeluh kesah soal dagangannya yang kini sulit laku. Ia adalah seorang pedagang buah yang berjualan tak jauh dari tempat Yoyo menggelar lapak.

Yoyo beberapa kali menanggapi cerita pelanggannya dengan senyum dan tawa. Tumpukan mangga dalam kantung plastik yang dibawa sang pelanggan tak lain merupakan bayaran yang diberikan untuk satu kali jasa cukur Yoyo.

"Ya memang begini. Tukang buah bayar pakai buah, tukang sayur kadang bayar pakai sayur. Enggak apa-apa, saling bantu saja," ungkapnya.

Hal itu jugalah yang membuatnya tetap memilih untuk bertahan di Taman Cilaki meski harus mengantongi penghasilan tak seberapa. Ada pelangan-pelanggan lama yang setia menggunakan jasa Yoyo untuk merapikan helai-helai rambut mereka.

"Dulu pun begitu, ketika tukang cukur di sebelah-sebelah saya meninggal, ya pelanggan mereka juga enggak datang lagi. Mereka (pelanggan) mungkin harus nyoba-nyoba tukang cukur lain yang cocok," ungkapnya.

Untuk satu kali cukur, ia mematok tarif Rp15.000. Namun, tak jarang ia hanya menerima kurang dari nominal tersebut. Terlebih ketika pandemi Covid-19 melanda, penghasilanya merosot berkali-kali lipat.

"Rata-rata biasanya sehari bisa nyukur 7-10 orang, sekarang paling hanya 2-3 orang. Pernah juga sih enggak ada sama sekali. Ada yang hanya bayar Rp10.000 tapi ya gimana, enggak saya tagih lagi," ungkapnya.
 

Uang penghasilannya tersebut digunakan Yoyo untuk menghidupi keluarga, terdiri dari seorang istri dan empat orang anak. Dua anak terbesarnya sudah kerja dan berpenghasilan, sehingga Yoyo kini perlu menopang hidup sang istri dan dua anak lainnya yang masih bersekolah. Salah satunya memerlukan atensi khusus karena tergolong ke dalam Anak Berkebutuhan Khusus.

"Cara mengatur uangnya ya dicukup-cukupin saja, saya ikut arisan di beberapa tempat. Jadi ada tabungan," ungkapnya.

"Intinya itu yakin saja kalau rezeki sudah ada yang mengatur dan tidak mungkin tertukar. Rezeki saya dan keluarga adanya di sini, lewat nyukur. Jadi saya akan terus di sini selama masih kuat," tutupnya.

Editor: Andres Fatubun
dewanpers