web analytics
  

Membangkitkan Budaya Literasi di Kota Bandung

Jumat, 30 Oktober 2020 07:13 WIB Netizen Deffy Ruspiyandy
Netizen, Membangkitkan Budaya Literasi di Kota Bandung, Literasi,Minat Literasi,Bandung Hari Ini

Sejumlah anak membaca dan menggambar di Perpustakaan Alam Malabar, Kampung Sukanagara, Desa Mekarsari, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung, Selasa (19/2/2019). (Dok Ayobandung.com)

Deffy Ruspiyandy

Penulis Artikel dan Penulis Ide Cerita di SCTV.

AYOBANDUNG.COM -- Budaya literasi di negeri ini belumlah bisa dikatakan berkembang secara baik. Tak mengherankan jika kemudian kebiasaan membaca dan menulis menjadi kurang disukai kebanyakan orang. Kalaupun ada tidaklah begitu banyak sehingga dua hal tersebut bagi masyarakat bukanlah prioritas utama, padahal kondisi tersebut sesungguhnya sangat berpengaruh pada kemajuan bangsa itu sendiri.

Kita sendiri tak bisa menafikan jika orang lebih menyukai hobi seperti mengoleksi batu akik, memelihara binatang piaraan seperti butung atau ikan serta mungkin memancing dan juga menyantap makan yang enak sambil nongkrong di kafe.

Terlebih dalam urusan membaca khususnya untuk membeli buku ternyata harganya relatif mahal. Kalaupun ada uang akan lebih diutamakan untuk kebutuhan yang lebih penting. Tidak sampai di situ, untuk datang ke perpustakaan pun ada kesan mager alias malas gerak. Tak mengherankan jika kebiasaan membaca sangat kurang maka untuk kegiatan menulis pun tak terlihat signifikan.

Bandung sendiri adalah sebuah kota yang padat penduduknya namun untuk budaya literasi sendiri ternyata tak berkembang begitu pesat. Hal ini menandakan warga Bandung sendiri menganggap menulis dan membaca tidaklah begitu penting dalam hidupnya. Jangankan untuk mampu menulis, membaca pun yang sekedar mengeja kata demi kata pun adalah sebuah hal membosankan sehingga minat baca yang ada pada warga di Kota Kembang ini jauh dari harapan.

Sesungguhnya saat ada pandemi Covid-19 yang membuat sejumlah orang harus bekerja di rumah. Sebenarnya ini peluang besar untuk menggiatkan budaya literasi sendiri, khususnya pada hal membaca ini.

Sayang, rupanya barangkali memang tak ada ketertarikan kepada hal ini sehingga waktu yang ada terlewat begitu saja. Dengan membaca akan menambah wawasan bagi warga itu sendiri. Kita pun memaklumi jika untuk membaca di ruang publik takkan bisa dimanfaatkan semaksimal mungkin karena ada larangan berkerumunan. Sehingga yang paling logis dilakukan adalah melakukannya di rumah baik dari sumber media cetak atau media digital yang ada.

Bukan tanpa usaha Pemerintah Kota Bandung melalui dinas terkait yaitu Dinas Perpustakaan dan Kearsipan melakukan upaya mengatrol budaya lietrasi ini menjadi bagian terpenting bagi warga di kota ini. Namun sayang, upaya itu kurang mendapat respon dari masyarakat itu sendiri. Tak mengherankan jika perpustakaan jarang dikunjungi, micro library di Kecamatan Cicendo dan Kiaracondong sepi pengunjung dan perpustakaan jalanan dengan menggunakan kotak khusus yang menyimpan buku agar bisa dibaca publik nyatanya tak menarik minat baca warga.

Padahal tak jarang Pemerintah Kota untuk program-program semacam  ini menggelontorkan dana ratusan juta sampai miliaran. Dengan kondisi yang ada, hal itu tampaklah menjadi mubazir karena masyarakat kurang antusias untuk hal yang satu ini.

Namun memang tak ada salahnya untuk dicoba dan nanti dapat dievaluasi jika program itu tak berjalan sebagaimana mestinya. Idealnya memang tidak sekedar menyediakan tempat untuk membaca saja, namun perlu dilengkapi pula dengan bentuk-bentuk aktivitas lainnya yang dapat menarik orang berkunjung ke tempat yang menyediakan buku untuk dibaca.

Bolehlah kalau taman-taman itu sudah menarik karena ada di lokasi yang dikunjungi  dan menjadi tempat wisata. Tetapi untuk micro library dan perpustakaan harus ada pendukung lain seperti misalnya ada tempat nongkrongnya, ada tempat yang menyediakan makanan dan minuman yang disukai anak muda atau hal-hal menarik lainnya. Salah satunya micro library di Kecamatan Cicendo  tampak tempat kurang menarik sehingga wajar saja orang tidak memanfaatkan tempat itu untuk membaca. Yang ada malahan disediakan jaringan wifi maka kebanyak anak-anak itu datang untuk  hal itu saja.

Selain itu sangat memungkinkan jika koleksi bukunya tidak menarik kaum milenial yang kebanyakan anak muda dan berpotensi mengunjungi tempat seperti ini. Karenanya Pemerintah Kota pun sebaiknya menyediakan buku-buku terbitan baru dan bila perlu sediakan pula novel dan komik-komik bertema anak muda agar mereka bisa pula rajin membaca. Begitupun saat keadaan normal micro library atau perpustakaan pun perlu mengadakan event yang mengangkat literasi dengan mengundang pelajar dan masyarakat agar micro lbrary bisa diketahui publik. Selama ini yang penulis tahu sosialisasi micro library kurang efektif sehingga masyarakat banyak yang tidak mengetahuinya.

Dulu sewaktu ada perpustakaan di Jalan Ir Soekarno atau dulu Jalan Cikapundung Timur sebagai orang yang gemar membaca penulis merasa terbantu karena perpustakaan itu ada di pusat kota. Namun kali ini perpustakaan pun ada di Jalan Seram atau di Jalan Kawaluyaan Bandung dan berada di lokasi yang kurang strategis hingga sepi pengunjung. Karena itu selain Pemerintah Kota membuat perpustakaan per kecamatan atau per kelurahan maka tidak ada salahnya pula lembaga-lembaga di kota yang peduli akan budaya literasi menyediakan perpustakaan sendiri. Dulu penulis sempat tertarik mengunjungi perpustakaan di Masjid Habiburohman PTDI dan beberapa perpustakaan pribadi dan juga komunitas. Namun sekarang geliatnya kurang begitu berkembang.Bila hal ini ada maka setidaknya membantu pengembangan budaya literasi itu sendiri.  

Oleh sebab itu, tidak hanya Pemerintah Kota Bandung harus terus bergerak di dalam menumbuhkan budaya literasi ini namun juga pihak lain pun diharapkan bisa mendukung program-program semacam ini. Tentu saja sudah ada yang nmelakukannya tetapi tetap semuanya terkendala dengan minat masyarakatnya itu sendiri dalam hal ini. Memang membaca dan menulis adalah dua hal yang penting bagi masyarakat di era modern seperti ini dengan segala pengetahuannya apalagi adanya pandemi seperti sekarang akan semakin membuat masyarakat jadi malas bergumul dengan budaya literasi itu.

Namun begitu menumbuhkan minat masyarakat terhadap budaya literasi tetap dirasa penting untuk membuat masyarakat menjadi kritis terhadap berita-berita hoaks. Dengan membaca ia kan mendapat pengetahuan tentang suatu hal yang dirasa penting bagi hidupnya dan dengan menulis ia akan mampu menunagkan ide-ide briliannya yang bermanfaat untuk banyak orang. Semoga budaya Literasi di Kota Bandung terus tumbuh dan memberikan manfaat bagi masyarakatnya.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

terbaru

Penerjemah Sunda Pertama

Netizen Kamis, 25 Februari 2021 | 10:00 WIB

Raden Kartawinata menduduki posisi yang sebelumnya tidak ada dalam birokrasi kolonial di Tatar Sunda, menjadi penerjemah...

Netizen, Penerjemah Sunda Pertama, Penerjemah Sunda,raden kartawinata,K.F. Holle

Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?

Netizen Senin, 22 Februari 2021 | 15:08 WIB

Cerita ini terinspirasi dari pertanyaan, mengapa orang India mampu menduduki posisi-posisi penting di perbankan,  lembag...

Netizen, Mengapa Orang India Sukses di Negara Lain?, India,sukses,ekonomi

Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 17:59 WIB

Beberapa waktu lalu, Indonesia disebut-sebut sebagai produsen sampah nomor dua terbesar di dunia.

Netizen, Problem Sampah yang Membuat Kita Sengsara, Sampah,Indoensia,Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN),Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK)

Sekolah di Sumedang

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:54 WIB

Pada 5 Juli 1867, Bupati Sumedang R.A. Soeria Koesoema Adinata alias Pangeran Sugih membuka sekolah yang diupayakan oleh...

Netizen, Sekolah di Sumedang, pengeran sugih,sekolah di sumedang,sejarah sekolah,kartawinata,pendopo sumedang,kabupaten sumedang

Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 14:17 WIB

Manfaat Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) mulai diragukan setelah Uni Soviet bubar, juga ketika negara-negara pecah...

Netizen, Menanti Internasionalisasi Persaingan Tajam Amerika Serikat-China, NATO,Pakta Pertahanan Atlantik Utara,Joe Biden,Amerika Serikat,Australia,china,Presiden Cina Xi Jinping

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:54 WIB

Mencegah Kebakaran Sejak Dini

Netizen, Mencegah Kebakaran Sejak  Dini, mencegah kebakaran,dinas kebakaran,cara mencegah kebakaran

Di Jalan Pungkur, Isa Anshary Kritik Marxisme

Netizen Sabtu, 20 Februari 2021 | 10:45 WIB

Bila kita berjalan-jalan di daerah alun-alun kota Bandung dan sedikit bergeser ke arah Jalan Lengkong kemudian menuju Ja...

Netizen, Di Jalan Pungkur, Isa Anshary Kritik Marxisme, Isa Anshary,jalan pungkur,marxisme,anti komunis,Komunis,Persatuan Islam

Situ Aksan, Rumah Bagi Beragam Burung

Netizen Jumat, 19 Februari 2021 | 13:24 WIB

Situ Aksan, Rumah Bagi Beragam Burung

Netizen, Situ Aksan, Rumah Bagi Beragam Burung , Situ Aksan,burung situ aksan,manuk piit,manuk bondol,manuk cipeung,sejarah bandung baheula

artikel terkait

dewanpers