web analytics
  

Pandemi Bikin Bisnis di Dunia Digital Makin Mujarab

Kamis, 29 Oktober 2020 15:20 WIB Ananda Muhammad Firdaus
Bisnis - Finansial, Pandemi Bikin Bisnis di Dunia Digital Makin Mujarab, bisnis media online,Telkomsel,pandemi Covid,Unkl347,Cotton Ink,Gofar Hilman,Ekonomi & Bisnis

ilustrasi bisnis online. (Freepik)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Pandemi Covid-19 membuat bisnis di dunia digital semakin mujarab alias berjalan efektif. Hal ini disinggung dalam webinar Digital Creative Millenials (DCM) 2020 bertajuk "Pentingnya Transformasi Digital untuk Strategi Bisnis Online" yang diadakan Telkomsel, Selasa (28/10/2020).

Webinar DCM 2020 dihadiri sejumlah pembicara ternama dari kalangan pengusaha, juga entertainer. Di antaranya, salah satu pionir industri clothing di Indonesia yang membangun brand Unkl347 Dendy Darman, dua sahabat pemilik brand Cotton Ink Carline Darjanto dan Ria Sarwono, juga penyiar radio dan Co-Owner Lawless Gofar Hilman.

Dalam sambutannya, VP Corporate Communication PT Telkomsel Denny Abidin menuturkan bahwa semangat acara DCM 2020 salah satunya dilatarbelakangi kondisi ekonomi negeri yang terimbas Covid-19. Diharapkan DCM 2020 dapat menstimulasi para pengusaha muda, khususnya yang baru merintis bisnisnya, agar semakin yakin dan memiliki komitmen meskipun dunia tengah diguncang pandemi.

Menurut Denny, dunia usaha, tak terkecuali di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), ikut terimbas oleh Covid-19. Pandemi ini memaksa semua sektor bertahan dengan cara beradaptasi. Di lini bisnis, cara beradaptasi di era ini yang dinilai efektif yakni bertransformasi ke ranah digital.

Telkomsel pun membuka ruang kolaborasi agar para pengusaha dapat memanfaatkan konsep transformasi digital. Selain lewat sejumlah program Telkomsel, dorongan itu distimulasikan dalam webinar yang mengundang para praktisi dunia usaha digital.

"Harapannya kita punya mimpi yang besar, kita bergandengan tangan, kita sama-sama wujudkan mimpi yang besar ini, karena tidak ada yang impossible kalau kita bersama-sama," kata Denny, tertulis dalam keterangan resmi, Kamis (29/10/2020).

Unkl347, Digital Membuat Bisnis Kian Efisien

Salah satu founder brand Unkl347, Dendy Darman mengakui bahwa pandemi Covid-19 membuat adaptasi digital semakin harus dilakukan. Dendy bercerita, sejak Unkl347 dirintis pada 1996, bisnis yang diawali kegemaran mendesain ini fokus berjualan pakaian clothing dengan sistem ritel offline. Sejak 2 tahun terakhir, Unkl347 mulai mencoba memanfaatkan platform digital guna memasarkan produknya. Namun sejak masa pandemi, cara berjualan dengan pola ini terbilang paling efektif.

"Sekarang semenjak pandemi, sudah lebih besar online, persentasinya (market) udah berubah karena memang culture berubah, orang tidak ketemu orang," kata Dendy.

Meski berjualan produk secara online dinilainya mengurangi engagement atau keterikatan antara ritel dengan pelanggan, namun pasarnya lebih luas. Keyakinan ini sangat dirasakan Unkl347 di masa ini. Di samping itu, Unkl347 lebih leluasa dalam berinovasi menyesuaikan dengan keinginan pasar.

"Sejujurnya kita dapat feedback kebutuhan lapangan. Contohnya, kalau zaman dulu itu sepertinya (inovasi produk) bakal laku, padahal yang sukanya itu ritel, tidak langsung end user. Sekarang itu end user yang beli, jadi kita punya data yang tepat, kayak item ini bener-bener disukai," kata Dendy.

Dendy pun menegaskan, kekinian jalan untuk merintis usaha lebih dimudahkan karena dunia digital memberikan ruang efisien dan efektif. Pihaknya pun seiring dengan pandemi, terus berupaya mengadaptasi kelebihan dunia digital.

"Hari ini adaptasi cepet sama hal baru ini, ibaratnya jalan cepetnya itu sekarang udah ada, masa gak memanfaatkan. Sekarang gue lagi respons banget sama perubahan karena ini semua efisien dan efektif, karena ini retail tanpa batas, lu bisa ngobrol sama seluruh dunia," kata Dendy.

Cotton Ink, Jadi Besar Dimulai dari Online

Jauh-jauh hari sebelum dunia usaha menjamur memanfaatkan platform digital, Cotton Ink, peritel busana asli Indonesia, memanfaatkan penjualan online sehingga bisnisnya kian besar sejak didirikan pada 2008. Adalah dua teman sebangku sekolah, Carline Darjanto dan Ria Sarwono, yang merintis Cotton Ink sehingga bisa seperti sekarang.

Alasannya pun sederhana saat bisnis ini dimulai. "Kita enggak punya uang banyak untuk memulai dari offline dan awalnya cuma berdua. Karena (online) ini lebih murah," kata Ria Sarwono.

Menurutnya pula, bisnis online jauh dapat menjangkau pelanggan. Ini yang membuat bisnis Cotton Ink terus berjalan. Seiring itu toko offline dapat dibuka hingga Cotton Ink mempunyai lima toko offline yang tersebar di sejumlah daerah Indonesia.

Terkait pandemi Covid-19, Cotton Ink pun merasakan pembeli yang datang lebih banyak dari penjualan online meski secara offline toko tetap menghasilkan untung. "Kebetulan udah buka toko kelima, udah miriplah (hasil penjualan) online dan offline. Tapi kalau sekarang jauh, karena customer lebih pilih belanja online, karena ada Covid-19," sambung Carline Darjanto.

Berbekal pengalaman berjualan online, masa pandemi Covid-19 tidak menyurutkan Cotton Ink terus berinovasi. Bagi keduanya inovasi adalah hal penting saat menjalankan usaha. Selebihnya berani mengambil risiko sangat penting, bahkan untuk yang ingin memulai bisnis. "Lu gakan tau kalau belum mulai," timpal Ria.

Co-Owner Lawless Gofar Hilman, Membiasakan Diri dan Komitmen

Selain sebagai penyiar, Gofar Hilman mulai merintis karirnya dari berjualan pakaian dengan brand Lawless pada 2008. Gofar sendiri menjalankan usaha Lawless tidak melupakan unsur penting lainnya dalam berbisnis, yakni komunitas. Dirinya memanfaatkan komunitas untuk membuat brand Lawless makin tersohor.

"Jadi paling beres di dunia industri yang sangat banyak pesaingnya itu adalah membangun fanbase. Ya jangan itungan tahun, bulan, atau hari lah, itungan jam aja tren orang bisa berubah. Ketika tren berubah drastis, ada dua pilihan, kita ikutin tren atau ciptain pasar, itu yang dilakukan Lawless dari awal. Jadi fanbase ini gunanya ketika tren berganti, si orang-orang ini tetap stay dan beli produk kita," kata Gofar.

Gofar pun memandang apa yang hendak dilakukan seorang pengusaha, harus didasari kepentingan branding. Cara ini seperti dilakoninya di dunia media sosial sehingga meraup pamor seperti sekarang. Hal ini pun akhirnya berimbas pada dunia usahanya. Bagi Gofar, di dunia serba digital seperti sekarang, membiasakan diri dengan platform digital sangat diperlukan.

"Kita doyan main sosmed, bagi UMKM atau temen yang baru mulai usaha, biar gak kerasa (canggung) bikin konten atau main sosmednya harus demen dulu, kalau udah ya biasa aja. Banyak hal yang bisa kita lakuin di sosmed, kan sosmed itu kaya etalase dan bebas majangin apa buat ditonton orang," kata Gofar.

Dia meyakini media sosial dapat menjadi jalan meraup keuntungan berbisnis kala seseorang telah terbiasa dengan hal itu. Baginya juga, membiasakan diri jadi kunci sukses karena hal itu menunjukkan komitmen.

"Cukup seneng dulu (bermedia sosial), latih kesenangan itu. Kesenengan bukan absolut, tapi sangat bisa diciptkan. Percaya ketika senang akan effortless pada sosmed, terus berikutnya adalah pas udah seneng, bikin sesuatu yang bisa bikin konten diliat orang. Dan konsisten. karena menurut gue dari nothing jadi something itu kuncinya konsisten," kata Gofar.

Sebagai tambahan, acara ini diikuti kurang lebih 200 cretivepreneurs, UMKM, dan brand owners. Ke depan Telkomsel pun akan mengadakan workshop yang sangat bermanfaat. Terkait tanggal dan temanya, Telkomsel akan segera mengumumkannya.

Selain itu, sebagai penutup rangkaian DCM 2020, Telkomsel akan menyelenggarakan Festival 3D Experience. Festival ini pertama kali diadakan di Indonesia dan akan dilangsungkan pada 26 November sampai dengan 27 Desember 2020.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers