web analytics
  

Ubah Nama Provinsi Jawa Barat Jadi Provinsi Sunda, Ini Alasan Sejumlah Tokoh

Rabu, 28 Oktober 2020 20:17 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bandung Raya - Bandung, Ubah Nama Provinsi Jawa Barat Jadi Provinsi Sunda, Ini Alasan Sejumlah Tokoh, Kongres Sunda 2020,Provinsi Sunda,Ubah Nama Provinsi Jawa Barat

Kongres Sunda 2020 di Aula Rancage Perpustakaan Ajip Rosidi di Jalan Garut, Kota Bandung, Senin (28/10/2020). (Eneng Reni)

BATUNUNGGAL, AYOBANDUNG.COM -- Kongres Sunda 2020 kembali menggodok berbagai wacana terkait usulan pengembalian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda. Sebelumnya, tahapan ini dilaksanakan di Aula Rancage Perpustakaan Ajip Rosidi di Jalan Garut, Kota Bandung, Senin (28/10/2020).

Ketua pengembalian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda Avi Taufik Hidayat menuturkan, dalam sesi ini menampung masukan dari para sejumlah tokoh senior Sunda sekaligus mendengarkan aspirasi dan alasan urgensi terkait pengembalian nama provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda.

Avi menyampaikan, dari hasil pertemuan itu dihasilkan sejumlah kesimpulan. Salah satunya alasan kemanusiaan menjadi landasan utama pengembalian nama Sunda untuk menggantikan nama Jawa Barat.

"Karena ternyata prestasi Jawa Barat ini jauh lebih rendah dari pada provinsi Banten, Provinsi Aceh, dan Provinsi lain yang sudah berubah nama. Mengubah nama provinsi itu memberikan daya dorong kepada masyarakat untuk lebih maju, itu lah alasan para senior kenapa provinsi Jawa Barat ini harus berubah menjadi provinsi Sunda," kata Avi kepada Ayobandung.com saat ditemui usai pertemuan.

Avi menyampaikan, hasil pertemuan itu akan diampung dan dituliskan di dalam naskah ilmiah yang nantinya berisikan lima faktor utama usulan pengembalian nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda atau Tatar Sunda. Adapun, kata dia, salah satunya menyinggung faktor historis hingga faktor kultural.

"Kita bisa memahami keberatan di Pantura untuk berubah menjadi Provinsi Sunda karena mereka yang berkeberatan menyatakan dirinya mereka sebagai orang Jawa, bukan orang Sunda. Masalah ini sebetulnya sudah kita dengar bahwa sebaiknya usulan provinsi Sunda berhimpitan dengan pemekaran wilayah karena memang Provinsi Jawa Barat," kata Avi.

Avi menyampaikan ide pemekaran pemekaran wilayah Provinsi Jawa Barat ini sebetulnya sudah muncul cukup lama. Namun ide ini, kata dia, selalu jatuh bangun dari satu periode ke periode yang lain. 

"Nah, sebaiknya isu pemekaran ini kita usung kembali untuk mengakomodasi keinginan Pantura untuk berdiri sendiri membangun identitasnya sendiri," katanya.

Sementara itu, Ketua SC Kongres Sunda Andri Perkasa Kantaprawira menyampaikan, isu pemekaran itu meliputi usulan pemecahan kabupaten/kota. Bahkan Andri menyebutkan, di masa depan, Cirebon diusulkan menjadi Daerah Istimewa.

"Karena sampai sekarang ini mereka yang tidak setuju itu adalah Kota Cirebon, walikotanya. Sedangkan Kabupaten Cirebon itu banyak orang Sundanya. Dan keterikatan dengan Padjadjaran itu erat, bisa dilihat dari historis Panembahan," katanya.

Menyikapi reaksi kontrak dari sejumlah tokoh, Andri juga mengaku akan terus menjalin komunikasi. Seperti diketahui, salah satu tokoh yang mengkritisi Wacana perubahan nama Provinsi Jawa Barat menjadi Provinsi Sunda adalah TB Hasanudin.

"Dengan kang TB Hasanudin saya bersahabat baik, dia seorang yang lugas, ngomong apa adanya, kita sih silih asah ku asih, kita akan ngobrol lagi. Kang TB Hasanudin tidak setuju terhadap agenda Provinsi Sunda saja, kalau agenda lain dia setuju-setuju saya. Jadi kita akan ngobrol lagi, dengan yang lain-lain ya ngobrol juga, termasuk dengan Cirebon," katanya.

Sejatinya Andri menyampaikan, tagline Kongres Sunda 2020 adalah Sunda Mulia Nusantara Jaya. Dalam arti, Sunda yang unggul, yang tanggung, yang dihargai orang lain untuk kejayaan Indonesia. Pasalnya, penggunaan istilah Jawa Barat tidak mencerminkan karakter budaya dan hanya mengerdilkan istilah 'Sunda' hanya sebagai suku atau etnis yang tinggal di sisi barat Pulau Jawa.

"Karena Kongres Sunda tujuannya untuk dalam dan negara," ujarnya.

Editor: Dadi Haryadi

artikel terkait

dewanpers