web analytics
  

Stigma Negatif Covid-19, Kontak Erat tapi Orang Malah Parno

Selasa, 27 Oktober 2020 18:57 WIB Firda Puri Agustine
Gaya Hidup - Komunitas, Stigma Negatif Covid-19, Kontak Erat tapi Orang Malah Parno, stigma negatif,Stigma Covid-19,Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi,Ayobekasi.net,Ayobandung.com

ilustrasi jurnalis (Ayobandung.com/Kavin Faza)

BEKASI, AYOBANDUNG.COM -- Sasya, sebut saja begitu, tak menyangka bahwa ancaman Covid-19 begitu nyata adanya. Wanita yang berprofesi sebagai jurnalis ini masuk kategori Kontak Erat pasca Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dinyatakan positif beberapa waktu lalu.

“Waktu itu ada wawancara doorstop dengan beliau. Jarak antara saya dan beliau memang kurang dari satu meter dan waktu itu agak berdesakan dengan teman-teman lain. Sempat foto bareng juga, ya interaksi mungkin ada sekitar 20-30 menit,” kata Sasya kepada Ayobekasi.net, Selasa (27/10/2020).

Sehari setelah pengumuman tersebut, ia pulang ke rumahnya di Tambun Utara, Kabupaten Bekasi. Sasya langsung melakukan isolasi secara mandiri. Dia lebih banyak di kamar dan menjaga jarak dengan anggota keluarga yang lain.

Namun, bukan itu yang ‘menyiksa’ batinnya melainkan stigma negatif dari lingkungan sekitar. Sasya akhirnya sadar bahwa Covid-19 lebih menakutkan dari yang dibayangkan. Virus ini bisa melemahkan mental siapa saja. Termasuk mereka yang sehat sekalipun.

“Bayangkan saya ini baru Kontak Erat, tapi semua orang langsung paranoid. Bukan parno ke sayanya doang, tapi juga ke keluarga saya yang lain. Gimana mereka yang positif? Sudah keluarganya sakit, harus nanggung beban sosial yang berat,” ujarnya.

Wanita 29 tahun ini mencontohkan perlakuan tetangga yang berubah sikap kepada semua keluarganya. Ketika kakaknya pergi ke warung dan melewati sekumpulan ibu-ibu, mereka langsung buru-buru menghindar.

“Kayak ketakutan bangetlah intinya. Padahal, itu saya belum dinyatakan positif Covid-19 dan setelah hasil tes keluar juga alhamdulillah negatif,” kata Sasya.

Sasya pun sempat menyesal menginformasikan status Kontak Erat-nya pada lingkungan RT/RW tempat tinggalnya lantaran dari situ data tentang dirinya bocor. Kemudian muncul-lah berbagai cerita hoaks tentang dirinya. Sasya yang berada dalam kondisi sehat disebut memiliki gejala Covid-19.

“Langsung dibilang demam-lah, yang intinya penggiringan opini seolah-olah saya sudah positif. Tidak sesuai fakta yang ada bahwa saya memang tidak merasakan gejala apapun,” ujarnya.

Sasya pribadi menerima dengan legowo bahwa ia masuk kategori Kontak Erat. Dia hanya begitu sedih lantaran persepsi buruk itu terlanjur melekat, meski di lain sisi sangat memahami kekhawatiran banyak orang.

“Saya coba melawan stigma itu dengan bersikap lebih terbuka. Saya mempersilakan RT dan RW di sini membawa petugas medis untuk memeriksa kondisi saya,” katanya.

Dia pun berharap agar masyarakat bisa mendapatkan edukasi yang baik mengenai perlakuan terhadap pasien maupun mereka yang masuk kategori berisiko tinggi seperti tenaga medis maupun jurnalis seperti dirinya.

“Kita hanya perlu nurut, ikuti imbauan pemerintah untuk physical distancing, jaga kebersihan, jaga imunitas, dan tidak ke luar rumah jika tidak perlu. Semua juga enggak ada yang mau kena Covid,” ujar Sasya.

Menanggapi persoalan mengenai stigma buruk Covid-19, Ketua Jaringan Rehabilitasi Psikososial Indonesia (JRPI), Dr. dr Irmansyah mengatakan bahwa stigmatisasi tersebut merupakan hal yang keliru dan berdampak negatif.

“Dalam konteks pasien Covid-19, orang yang terstigma dipandang sebagai penderita, harus dijauhi, menimbulkan masalah dan ketidaknyamanan. Akibatnya masyarakat akan bertindak negatif juga,” kata Irmansyah seperti dikutip Ayobandung.com, Selasa (20/10/2020).

Dampak lebih serius, bisa saja seseorang yang mengalami gejala-gejala Covid-19 pada akhirnya menyembunyikan dan enggan memeriksakan dirinya. Dia takut karena merasa akan dijauhi masyarakat.

“Jadi mereka ini mengalami double burden, sudah sakit dijauhi pula,” ujarnya.

Lalu apa yang harus dilakukan menghadapi stigma sosial ini?

Tim Bidang Perubahan Perilaku Satgas Penanganan Covid-19 Urip Purwono menjelaskan, WHO sudah memiliki panduan mengelola stigma ini. Beberapa langkah yang bisa dilakukan adalah menyebarluaskan fakta-fakta soal Covid-19.

Misalnya apa itu virus corona, bagaimana cara penularannya, bagaimana bila terpapar Covid-19, apa yang harus dilakukan dan sebagainya. Informasi tersebut sudah tersedia di situs Satgas Covid-19 dan situs penanganan Covid-19 di setiap pemerintahan daerah. Dengan mengetahui faktanya yang sebenarnya, diharapkan persepsi yang sebelumnya salah bisa dikoreksi.

Urip pun menyinggung peran media. Ia mengatakan media sangat berperan menyebarluaskan atau menggaungkan tentang kisah penyintas Covid-19 selama menjalani perawatannya hingga dinyatakan sembuh.

“Kisah penyintas ini bisa memberikan inspirasi,” katanya.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers