web analytics
  

Tak ke Zona Merah, Penumpang Bus dan Feri Tak Lagi Perlu Rapid Test

Selasa, 27 Oktober 2020 17:33 WIB Aini Tartinia
Umum - Nasional, Tak ke Zona Merah, Penumpang Bus dan Feri Tak Lagi Perlu Rapid Test, rapid test penumpang bus,rapid test penumpang feri,protokol kesehatan covid-19

Rapid test Covid-19. (Ayobandung.com/Irfan Al-Faritsi)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Jika ingin menggunakan moda transportasi darat seperti bus untuk bepergian jarak dekat atau kapal laut penyeberangan (Feri) di daerah zona hijau dan oranye, kini tes cepat atau rapid test tak lagi menjadi syarat untuk penumpang.

Hal tersebut disampaikan Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan (Kemenhub), Budi Setiyadi dalam webinar MarkPlus Government Roundtable, Senin (26/10/20) kemarin. Namun, apabila penumpang memiliki tujuan ke daerah yang berzona merah, hasil rapid test masih wajib ditunjukkan.

“Kalau daerah zona merah memang diberlakukan (rapid test), kalau tidak merah maka tidak kami berlakukan. Jadi, melihat zona-zona di daerah tersebut," ujarnya.

Budi melanjutkan, alasan tidak diwajibkannya rapid test untuk penumpang yang ingin menggunakan bus dan kapal laut penyeberangan karena perjalanan relatif dekat, tak seperti kereta api atau pesawat yang menempuh jarak jauh.

Namun, ia kembali menegaskan tidak diberlakukannya rapid test di bus dan kapal laut penyeberangan bukan berarti membuat pihaknya otomatis tak peduli dengan penyebaran Covid-19.

Budi memastikan protokol kesehatan masih menjadi kewajiban yang harus dilaksanakan baik oleh pengemudi maupun penumpang.

“Sekarang kalau menggunakan transportasi darat, kami tidak menerapkan rapid test, tapi tidak berarti kami tidak sejalan dengan protokol kesehatan. Masih ada SE menyangkut 3M penumpang pengemudi wajib menggunakan masker, wajib pakai hand sanitizer, dan sebagainya,” ucapnya.

Meski begitu, Budi mengatakan belum semua wilayah boleh tanpa rapid test. Ia menuturkan masyarakat yang memiliki tujuan ke Bali masih wajib rapid test. Hal itu, kata Budi, karena kasus Covid-19 di Bali masih relatif tinggi.

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers