web analytics
  

Lapas Sukamiskin Ketatkan Prokes Corona, Napi Kirim Surat Kalau Rindu

Selasa, 27 Oktober 2020 17:14 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bandung Raya - Bandung, Lapas Sukamiskin Ketatkan Prokes Corona, Napi Kirim Surat Kalau Rindu, Lapas Sukamiskin,protokol kesehatan covid-19,Patrialis Akbar

Sejumlah warga binaan Lapas Sukamiskin tengah beraktivitas. (Ayobandung.com/Eneng Reni Nuraisyah Jamil)

ARCAMANIK, AYOBANDUNG.COM -- Covid-19 sudah masuk ke hampir seluruh lapisan kehidupan masyarakat, termasuk keluarga. Bahkan, lembaga pemasyarakatan maupun rumah tahanan tak luput dari paparan virus corona ini

Lembaga Pemasyarakatan atau Lapas Kelas 1 Sukamiskin, Kota Bandung memastikan protokol kesehatan Covid-19 sangat ketat diterapkan. Berbagai standar operasional prosedur terkait Covid-19 dilaksanakan untuk meminimalisasi paparan Covid-19 ke dalam lapas.

Kepala Seksi Bimbingan Kemasyarakatan Lapas Kelas 1 Sukamiskin Bandung Yadi Suryaman menekankan, protokol kesehatan 3M seperti mencuci tangan, menjaga jarak, dan menggunakan masker sangat ketat diterapkan di tempat tersebut. Petugas lapas saat datang bakal diukur suhu tubuhnya, kemudian mencuci tangan di tempat yang sudah disiapkan.

"Kita selalu gencarkan. Kita selalu sampaikan melalui banner, papan informasi pengumuman, dan dalam setiap kegiatan pembinaan pun kita selalu gencar sosialisasikan 3M," kata Yadi kepada Ayobandung.com di Lapas Kelas 1 Sukamiskin, Kota Bandung, Selasa (27/10/2020).

Selain itu dalam rangka pembinaan, Yadi menyampaikan, Lapas Kelas 1 Sukamiskin selalu menggelar berbagai kegiatan olahraga secara mandiri maupun kolektif, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan.

"Sebenarnya banyak olahraga lain dalam program pembinaan seperti tenis, pingpong, gym atau fitness, voli, basket, senam dan sebagainya. Program ini sebagai upaya peningkatan imunitas tubuh supaya badan tetap sehat bugar dan terhindar dari penyakit utamanya Covid-19," katanya.

Yadi juga mengatakan, pihaknya secara rutin berkoordinasi dengan PMI Kota Bandung untuk melakukan penyemprotan cairan disinfektan di seluruh area lapas guna mencegah penyebaran virus corona.

Beberapa waktu lalu, Lapas Sukamiskin juga telah menggelar tes usap atau swab test. Tes itu digelar setelah eks Bupati Indramayu Supendi, terkonfirmasi positif Covid-19. Kala itu, setidaknya ada 57 orang yang pernah kontak dengan Supendi mengikuti rapid test. Hasil rapid test, menunjukkan ke-57 orang yang merupakan petugas dan napi dinyatakan nonreaktif.

"Untuk disinfeksi, kita juga selalu koordinasi dengan PMI Kota Bandung. Untuk penyemprotan disinfektan ini dilakukan di setiap ruangan, blok, kamar hunian, tempat-tempat ibadah dan lain sebagainya," kata Yadi.

Sementara itu, salah satu warga binaan Lapas Kelas 1 Sukamiskin Bandung, Patrialis Akbar mengakui berbagai fasilitas protokol kesehatan Covid-19 disediakan secara lengkap oleh lapas.

"Ada hand sanitizer, tempat cuci tangan di mana-mana, setiap dua minggu sekali penyemprotan. Jadi luar biasa sehingga masyarakat binaan di sini terjaga dengan baik karena kalapasnya sangat peduli," kata Patrialis.

Mantan Menteri Hukum dan HAM pada Kabinet Indonesia Bersatu II (2009–2011) mengakui, Lapas Sukamiskin kian memperketat pengamanan terhadap warga binaan saat Pandemi Corona. Sejak pemberlakuan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) guna mencegah penyebaran covid-19, Lapas Sukamiskin meniadakan kunjungan.

"Gak ada kunjungan. Kita tidak boleh mendapatkan kunjungan. Kunjungan dilarang karena begitu aturannya. Hampir 8 bulan, kita gak ada kunjungan. Tapi kita enjoy-enjoy aja karena kita tahu kebijakan itu adalah kebijakan yang memang untuk menjaga kita semua," ungkapnya.

Advokat dan politikus yang juga pernah menjabat sebagai Hakim Konstitusi Mahkamah Konstitusi Indonesia periode 2013–2017 itu mengatakan, untuk melepas rindu dengan sanak keluarga, dirinya kerap mengirimkan surat.

"Kadang-kadang kita kasih surat. Ada yang nganterin makanan kan, buat menyampaikan bagaimana keadaan sekarang, nah kita titip surat ke sana. Karena gak ada fasilitas video call atau lainnya. Tapi meski pun delapan bulan gak ada kunjungan gak masalah. Aman-aman," katanya.

Patrialis mengatakan, dirinya hanya akan bisa bertemu dengan keluarga saat sakit dengan syarat mendapatkan rekomen resmi untuk berobat dari dokter. Namun kata dia, dengan rekomendasi itu bukan berarti para warga binaan bisa seenaknya keluar-masuk lapas dengan beralasan sakit.

"Kadang-kadang kan giliran kita sakit jelas ada rekomendasi dokter, kita ke rumah sakit berobat, ya di sini paling ketemu keluarga, udah itu paling pulang lagi (ke lapas). Dan itu by prosedur, berdasarkan rapat tim pengamat pemasyarakatan, dan resmi izinnya," katanya.

Partialis mengakui, di usianya yang kini menginjak 61 tahun amat penting menjaga daya tahan tubuh dan imunitas terlebih di tengah situasi pandemi Covid-19 ini. Karenanya, selain menerapkan perilaku hidup sehat dan bersih (PHBS), Patrialis mengaku selalu berolahraga ringan secara rutin.

"Kita sering makan buah, minum vitamin, kemudian tidurnya jangan terlalu malam, kita juga jangan terlalu lelah. Pagi-pagi kita olahraga, semuanya kita kerjakan. Jam 8-9 pagi kita olahraga, keliling sini jalan kaki aja," ujarnya.

Sekadar informasi, pada tanggal 4 September 2017, Patrialis Akbar divonis hukuman delapan tahun penjara dan denda 300 juta oleh Pengadilan Negeri Tindak Pidana Korupsi karena terbukti menerima suap sebesar USD 10.000 dan Rp4.043.000 dari Basuki Hariman dan stafnya, Ng Fenny.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers