web analytics
  

Wiranatakoesoemah V Dapat Bintang dari Raja Mekah

Selasa, 27 Oktober 2020 11:01 WIB Netizen Hafidz Azhar
Netizen, Wiranatakoesoemah V Dapat Bintang dari Raja Mekah, Haji,Wiranatakoesoemah V,Bandung Baheula

Suasana di stasiun saat mengantarkan Bupati Bandung ke Tanah Suci, April 1924 (Surat Kabar Obor. )

Hafidz Azhar

Penulis lepas, alumnus pascasarjana Kajian Budaya Unpad, Redaktur situmang.com

Bupati Bandung alias Moeharam Wiranatakoesoemah V mendapat penghargaan dari Raja Mekah, Syarif Husein, setelah melakukan perjalanan ibadah hajinya tahun 1924.

Seperti diberitakan pada surat kabar Obor Mei 1924, Wiranatakoesoemah V diganjar bintang Istiklal yang konon merupakan tingkat paling tinggi dalam penghargaan raja Arab. Tidak ada kepastian secara jelas mengapa Bupati Bandung diberikan penghormatan bintang tertinggi itu. Namun, para pengikut Wiranatakoesoemah yang diwakili oleh redaksi surat kabar Obor, mengklaim jika alasan pemberian gelar penghormatan dari Syarif Husein tersebut dimungkinkan karena dua hal.

Pertama, Pemerintah Hindia Belanda menitipkan sepucuk surat untuk Raja Mekah menjelang kepergiannya.

Kedua, karena asumsi mengenai kesanggupan seorang bupati yang kala itu belum ada yang mampu menunaikan ibadah hajinya ke Tanah Suci. Alasan yang kedua ini memang cukup tendensius. Para pengikut Wiranatakoesoemah seolah-olah ingin menunjukkan, bahwa Moeharam adalah orang yang paling menjunjung tinggi nilai-nilai agama Islam. Inilah yang mungkin menjadi pertimbangan para pengikut Wiranatakoesoemah dengan beranggapan, jika Moeharam pantas menerima bintang Istiklal. Sebagaimana ditulis pada Obor berikut: 

Pantes bae Radja Mekah rek ngadjenan, saperkara koe Pamarentah Hindia sakitoe dititipkeunana memeh soemping ka Mekah oge, soerat panitipkeun mah geus datang ka Mekah. Ti  baheula oge sakaterang redactie mah atjan aja kadjadian kitoe. Kadoea perkara meureun eta tina katjida anehna, aja Boepati djeneng keneh angkat ka Mekah, tjiri kana Agama Islam teh masih keneh loba nu ngagoeng-ngagoeng (Pantas saja Raja Mekah memberikan penghargaan juga, di satu sisi Pemerintah Hindia menitipkannya bahkan sebelum datang ke Mekah, surat penitipan sudah tiba di Mekah. Di sisi lain, mungkin begitu aneh, ada seorang Bupati masih sanggup berangkat ke Mekah. Hal ini adalah ciri bahwa Agama Islam masih banyak yang mengangung-agungkan)”.

Berita terkait kepergian Wiranatakoesoemah untuk berziarah menunaikan ibadah haji telah tersebar di tengah banyak kalangan. Bahkan, E. Gobee, mantan Adviseur voor Inl. Zaker menanggapinya melalui Poesaka Soenda Agustus 1924. Gobee, bukan saja menilai sang Bupati, ia juga sedikit mengulas seperti apa perjalanan yang dilakukan Wirantakoesoemah ke negeri Arab.

Moeharam memulai perjalanannya ke Tanah Suci pada bulan Maret. Dari Bandung, ia menumpangi kereta sampai menuju ke pelabuhan. Mula-mula, Moeharam berangkat dari masjid yang dikerumuni massa menuju stasiun. Orang-orang sudah lama menunggu sampai saling berdempet-dempetan sekadar ingin mengucapkan selamat jalan dan melihat sosok Bupati Bandung yang katanya begitu dekat dengan rakyat. Surat kabar Obor edisi April 1924 menggambarkan, bagaimana suasana saat menjelang keberangkatan Moeharam di stasiun.

Gantjangna geus nepi ka setatsion, di dinja geus meuhpeuj djelema noe megat. Bawaning koe teu katahan hajang ngaboedalkeun noe mentegeg dina hate, ger bae djelema teh soerak, tapi lain soerak soeka boengah, ieu mah tingdjarerit matak tingseredet kana hate, ting garero: ‘salamet, salamet,  pileuleujan, sing enggal moelih deui!’ (Dengan cepat tiba di stasiun, di sana sudah banyak orang mencegat. Karena sudah tidak tahan ingin mengeluarkan unek-unek dalam hati, terdengar sorak orang-orang, tapi bukan sorak bahagia, melainkan terdengar suara menjerit, terharu, memanggil-manggil: Semoga selamat, selamat jalan, moga cepat kembali!)”.

Rengrengan  Wiranatakoesoemah yang terdiri dari kaum menak itu ikut juga merasakan haru dan bahagia. Seraya melambai-lambaikan tangannya, kereta pun berjalan meninggalkan keramaian. Suasana bahagia ini masih berjalan, setelah Moeharam kembali ke Tanah Airnya. Beberapa saat kemudian, pemberian bintang Istiklal membuat Wiranatakoesoemah disorot oleh berbagai media, lantaran dianggap prestasi yang mengejutkan. Jika surat kabar Obor mengisahkan kepergian Moeharam ke Tanah Suci secara dramatis, lalu, bagaimana dengan media-media yang digawangi kaum Komunis? 

Jelas saja, kabar itu menggembirakan sekalipun bagi Komunis. Sejak Moeharam melaksanakan kewajibannya ke Tanah Suci, surat kabar Merah sudah membuat selintingan terhadap kisah perjalanan Moeharam ke Tanah Suci. Tak jarang, mereka menaruhnya di berita paling utama. Bahkan terdapat sebuah berita yang ditulis dengan headline begitu panjang. 

Sementara itu, beberapa waktu setelah gelar tersebut diumumkan, kaum merah langsung bereaksi.

Kabar mengenai bintang kehormatan itu seolah menjadi isu paling hangat, baik bagi media yang dikelola oleh kelompok merah sekalipun. Mereka begitu jeli, memilah dan memilih apa saja yang janggal pascaWiratanakoesoemah kembali ke Tanah Air. Seperti yang ditunjukkan dalam Soerapati edisi 16 Agustus 1924. Katanya, Moeharam menyamakan Raja Mekah sebagai Tuhan Allah. Padahal, mungkin saja hal itu hanyalah perumpamaan. Meski tiada lain, kaum Merah membuat pernyataan seperti itu sekadar kritik agar tidak terbuai dengan pujian. 

Soerat-soerat kabar raeng samemehna hadji Wiranatakoesoemah datang ti Mekah jen manehna nampa hidji bintang ti radja Mekah. Koe tina atoh-atohna, keur waktoe manehna nampa eta bintang manehna njeboetkeun jen eta bintang dianggap ganjaran ti Allah. Djadi hartina lamoen nilik kana omongan manehna, radja Mekah koe manehna disaroeakeun djeung Toehan Allah, djeung Pangeran (Berbagai surat kabar ramai memberitakan sebelumnya haji Wiranatakoesoemah tiba dari Mekah bahwa dirinya menerima sebuah bintang dari raja Mekah. Kegembiraan pun nampak, ketika dirinya menerima bintang itu ia menyebutkan jika bintang tersebut dianggap suatu ganjaran dari Allah. Artinya jika mengacu pada perkataannya, raja Mekah disamakan dengan Tuhan Allah)”.

Dua bulan berselang, kelompok merah masih mengungkit gelar prestisius itu.

Pada Soerapati 18 Oktober 1924, di muka halaman, tertulis headline yang begitu panjang dengan judul, Moeharam Wiranatakoesoemah (Hadji) Manehna Meunang Bintang Eta Bintang Pamerena Hoesein Radja Mekkah noe koe Wahabi Dioesir. Kali ini, isinya bukan saja berkaitan dengan gelar bintang, tapi nampak dihubung-hubungkan dengan kasus pemberontakan Wahabi yang terjadi di Arab. Gelar kehormatan yang diberikan Raja Mekah beberapa waktu sebelumnya tidaklah dianggap sebagai balasan dengan tangan hampa. Artinya, anggapan lain muncul dari pihak Komunis, yang memandang bahwa gelar tersebut merupakan sinyal bala bantuan Syarif Husein yang terkena imbasnya kaum Wahabi. Apalagi, sebagai pejabat bupati, Moeharam punya pengaruh besar. Terbukti, sebelum perjalannya ke Mekah, mula-mula ia dititipkan oleh Pemerintah Hindia Belanda dengan sepucuk surat resmi. Ditambah kedekatannya dengan para pejabat pribumi lain dan juga dengan kalangan masyarakat priyai pada umumnya. Inilah yang menjadi sorotan kelompok Komunis, jika perjalanan Wiranatakoesoemah ke Tanah Suci adalah suatu keanehan yang berlebihan.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers