web analytics
  

BANDUNG HARI INI: Nasib Merana Sumur Bandung dan Ancaman Krisis Air

Senin, 26 Oktober 2020 17:36 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Bandung Raya - Bandung, BANDUNG HARI INI: Nasib Merana Sumur Bandung dan Ancaman Krisis Air, sumur bandung,Sejarah Sumur Bandung,Bandung 26 Oktober,Sejarah Bandung

Wakil Wali kota Bandung, Yana Mulyana saat meninjau Situs Sumur Bandung, Selasa (7/7/2020). (Dok Humas Pemkot Bandung)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Pada 26 Oktober 1997, tepat hari ini 23 tahun lalu, Wali Kota Bandung Wahyu Hamidjaja memindahkan titik lokasi Sumur Bandung di Gedung Perusahaan Listrik Negara (PLN) Cikapundung, dari sebelumnya di lobi kantor ke bagian belakang bangunan. Inilah satu-satunya titik Sumur Bandung, dari konon total seluruhnya 7 titik, yang terawat dan bahkan menjadi daya tarik wisata.

Nasib titik-titik Sumur Bandung lainnya terbengkalai. Atau bahkan lebih buruk: tidak diketahui lagi keberadaannya. Dua titik di lahan bekas Palaguna, sebelah timur Alun-alun Bandung, misalnya, dibiarkan tidak terurus. Titik-titik yang lain tertimbun oleh pondasi bangunan.

Keberadaan Sumur Bandung, selain menyimpan nilai penting sejarah tentang kelahiran sebuah kota baru, menandai kelestarian lingkungan di kawasan Cekungan Bandung. Keberadaan titik-titik mata air menyiratkan masih terjaganya ekosistem yang ada.

Titik-titik Sumur Bandung yang telantar, bukan hanya menggambarkan ketidakpedulian kita pada sejarah kota, tapi juga mengisyaratkan semakin anjloknya ketersediaan dan mutu air di Kota Bandung hari ini. Sulit membayangkan kota ini, yang berdiri di atas bekas danau purba, kelak mengalami krisis air bersih yang membuat warganya menderita.

Dari Legenda ke Tempat Wisata

Di gedung PLN Cikapundung, Sumur Bandung dijadikan tempat wisata yang bisa dikunjungi publik secara leluasa. Titik tersebut diberi penutup berwarna kuning keemasan yang memuncaki sepetak keramik warna merah marun. Juga ada rantai pembatas di sana.  

Terdapat pendanda, semacam prasasti, di situs tersebut. Bunyi lengkapnya

Sumur Bandung mere karahayuan ka rahayat Bandung

Sumur Bandung mere karahayuan ka dayeuh Bandung

Sumur Bandung rayahuning dayeuh Bandung

Ayana di gedong PLN – Bandung

Bandung, 25 Mei 1811

Raden Adipati Wiranatakusumah II

Menurut legendanya, Sumur Bandung tercipta ketika Raden Adipati Wiranata Kusumah II berserta rombongannya sedang bersitirahat di sekitar Sungai Cikapundung di tengah perjalanan mencari lokasi pusat pemerintahan baru. Dari bekas tancapan tongkatnya, keluar air melimpah. Di titik itulah kemudian dibangun sumur yang sampai hari ini dikenal sebagai Sumur Bandung.  

Titik Sumur Bandung di Gedung PLN Cikapundung tidak hanya terawat dan dijadikan lokasi wisata. Situs ini pun masih dikeramatkan. Dalam kepercayaan orang Sunda, Sumur Bandung dijaga oleh satu sosok yang dihormati, yakni Nyai Tagen Manik, yang tak lain adalah istri Prabu Siliwangi. Beberapa komunitas Sunda dalam waktu tertentu mengadakan  ritual penghormatan untuk Sumur Bandung.

Gedung PLN Cikapundung sendiri mulai dibangun oleh Pemerintah Hindia-Belanda pada tahun 1930-an. Hasil rancangan C.P.W. Schoemaker itu diresmikan pada 26 Oktober 1939 dan difungsikan sebagai perusahaan listrik.

Terbengkalai

Nasib titik Sumur Bandung di Gedung PLN Cikapundung jauh lebih mujur dibandingkan titik-titik lainnya. Konon ada 6 titik Sumur Bandung lain di pusat kota yang kondisinya terbengkalai atau bahkan sudah lenyap tanpa diketahui lagi sisanya.

Pada Minggu, 9 Februari 2020, Komunitas Aleut melakukan kegiatan menyusuri titik-titik tersebut. Termasuk dua titik sumur di lahan bekas Palaguna.

Selain di kedua lokasi yang dipisahkan Jalan Raya Pos itu (sekarang Jalan Asia-Afrika), terdapat sumur lain di halaman belakang gedung Ned. Handemij (sebelumnya ditempati oleh Firma De Kock Sparkes & Co.). Namun pada awal abad ke-20, sumur tersebut ditimbun untuk dijadikan pondasi gedung.

“Alkisah sebagai permohonan izin kepada penguasa sumur, dan untuk menebus tabu karena menutup sumber air, pihak yang melakukan pembangunan harus menyelenggarakan selamatan dengan memotong beberapa ekor kerbau,” tulis Ariyono Wahyu Widjajadi dalam situs blog mereka.

Ariyono juga merujuk buku “Semerbak Bunga di Bandung Raya” karangan Haryoto Kunto yang mencatat keberadaan sebuah sumur di Gedung Miramar. Nasibnya sama: ditutup demi pembangunan gedung.

Masih ada titik sumur atau mata air lain di sekitar Alun-alun. Di lahan Gedung De Vries, di sebelah timur Alun-alun, terdapat tiga sumur yang semuanya disebut sebagai Sumur Bandung.

Sementara itu di Gedung De Zon, di sebelah barat Alun-alun, juga diketahui terdapat sebuah sumur yang dianggap sebagai Sumur Bandung.  Setelah pembongkaran gedung, tidak jelas nasib sumur tersebut.

Rencana Revitalisasi Sumur Bandung

Pemerintah Kota (Pemkot) Bandung menggulirkan rencana merevitalisasi dua titik Sumur Bandung di lahan eks Palaguna sebagai destinasi wisata baru. Pemkot siap menggandeng lembaga dan institusi terkait, seperti PT. Jaswita Jabar dan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung.

"Mudah-mudahan sumur ini bisa menjadi tujuan wisata. Karena memang memiliki nilai sejarah yang cukup tinggi untuk Kota Bandung," kata Wakil Wali Kota Bandung Yana Mulyana saat meninjau sumur tersebut, Selasa (7/7/2020).

Dalam versi Pemkot, tujuh Sumur Bandung ada di bank tertua di Kota Bandung atau kini sudah menjadi Bank Mandiri, Masjid Cipaganti, Gedung PLN Cikapundung, lahan De Vries, serta Gedung De Zon.

“Mudah-mudahan sebagai historis berdiri Kota Bandung salah satunya dari sumur ini. Karena air adalah sumber peradaban kota," ujar Yana.

Krisis Air

Krisis air di Kota Bandung semakin tahun semakin terasa. Di setiap puncak musim kemarau, tersiar kabar tentang kawasan-kawasan di Bandung yang mulai kesulitan mengakses air bersih. Mereka yang mengandalkan air tanah sudah tidak bisa lagi memperoleh air berkualitas karena bercampur pasir dan kapur. Di daerah selatan Kota Bandung, kedalaman sumur air tanah sudah ada di kisaran 70 meter.

Sebagian pelanggan PDAM Tirtawening juga menderita. Mereka mulai mengalami kebijakan penggiliran. Atau kalau tidak, kucuran air berhenti sama sekali.

Seperti diketahui, pasokan air bersih bagi warga Kota Bandung amat tergantung pada kabupaten tetangga. Sumber air baku PDAM berasal dari Kabupaten Bandung serta Kabupaten Bandung Barat. Ketika kawasan hulu itu semakin rusak oleh pembangunan, pasokan air baku juga mengalami kendala.

Pada 2019, Pemkot Bandung mencatat ada 12 kecamatan di Kota Bandung yang masuk zona kritis air tanah. Termasuk di dalamnya Sukajadi, Andir, dan Sukasari.

Pada akhir 2019, Tim peneliti Geodesi Institut Teknologi Bandung (ITB) menyebut penurunan tanah (land subsidence) di Bandung merupakan salah satu yang tercepat dan terluas di dunia. Lajunya bervariasi di beberapa titik, ada yang berkisar 5-10 sentimeter dan 15-20 sentimeter per tahun. Di Kota Bandung, titik yang diteliti di antaranya Gedebage dan Kopo. 

Salah satu pemicu utama penurunan tanah adalah eksploitasi air tanah. Tim peneliti memperkirakan, tanpa tindakan drastis, air tanah bisa benar-benar habis pada 2050 mendatang.

Editor: Tri Joko Her Riadi

artikel terkait

dewanpers