web analytics
  

Ekobrik, Proyek Ramah Lingkungan Selama Pandemi

Senin, 26 Oktober 2020 05:33 WIB Netizen Yupiter Sulifan
Netizen, Ekobrik, Proyek Ramah Lingkungan Selama Pandemi, ekobrik,Ramah Lingkungan,Sampah Plastik

Salah satu kursi ekobrik yang siap digunakan. (Yupiter Sulifan)

Yupiter Sulifan

Guru BK SMA Negeri 1 Taman Sidoarjo

AYOBANDUNG.COM -- Awal merebaknya pandemi Maret 2020, Kementrian Pendidikan langsung merespons dengan adanya keputusan bahwa proses pembelajaran dilakukan di rumah selama kurun waktu yang tidak ditentukan.

Saya masih ingat betul, Mas Menteri Nadiem Makarim berpesan kepada guru-guru agar selama belajar di rumah ini muridnya diberi proyek jangka panjang yang berguna. Bukan sekadar transfer ilmu, materi pelajaran tapi juga diberi bekal yakni berupa proyek untuk siswa.

Sejenak saya berpikir, proyek apa ya yang akan saya berikan sebagai seorang guru BK? Pikiran saya tertuju pada kursi ekobrik di ruang tengah rumah. Ya, proyek ekobrik dan saya langsung berpikir memberikan tema layanan BK yakni Mencintai Lingkungan yang di dalamnya ada proyek membuat ekobrik. Oh ya, apa sih yang dinamakan ekobrik itu?

Ekobrik adalah metode untuk meminimalisasi sampah dengan media sangkar botol plastik yang diisi dengan limbah anorganik (limbah yang tidak dapat diurai) hingga benar-benar keras dan padat.

Ekobrik adalah botol PET (botol air mineral biasanya memakai ukuran 1,5 liter) yang diisi dengan sampah plastik yang bersih dan kering. Sampah plastik di dalam botol harus benar-benar padat. Kepadatan material inilah yang memungkinkan ekobrik digunakan sebagai material bahan bangunan atau furnitur pengganti bata, kayu, atau material yang lain. Sebagai material, ekobrik cukup menguntungkan karena memiliki sifat-sifat plastik, yaitu awet, kuat, dan anti-air.

Pengelolaan sampah di Indonesia merupakan permasalahan klasik dan sepele yang belum sepenuhnya terselesaikan. Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan jumlah total sampah Indonesia pada tahun 2019 mencapai 68 juta ton dan akan mencapai 9,52 juta ton atau 14 persen dari total limbah yang tersedia.

Berdasarkan data Jenna Jambeck, seorang peneliti sampah dari Universitas Georgia, Indonesia menempati urutan kedua di dunia dalam memproduksi sampah plastik, mencapai 187,2 juta ton dibawah Cina dengan 262,9 juta ton sampah.

Terlebih sampah plastik baru bisa terurai dalam 1 milenium atau sekitar 1000 tahun. Fakta-fakta inilah yang saya berikan ke peserta didik saya agar mereka mulai memikirkan mengurangi penggunaan plastik serta cara mengolah sampah plastik. Dan ekobrik salah satu pilihan saya. Kenapa ekobrik? Ekobrik ini selain sangat mudah dikerjakan oleh siapa saja juga akan sangat berguna untuk bahan pembuatan furniture, kursi, meja ataupun tempat tidur.

Setelah saya beri materi tentang bagaimana cara mencintai lingkungan, peserta didik saya beri proyek yakni masing-masing membuat satu buah ekobrik. Bahannya; satu buah botol bekas air mineral ukuran 1,5 liter, tongkat kayu/bambu serta sampah anorganik (plastik, kain perca, puntung rokok). Batas pengumpulan proyek ini, bila sudah ada ketentuan diperbolehkan masuk sekolah oleh pemerintah dan satgas Covid-19. Jadi sangat longgar sekali dan mengingat proyek ekobrik itu sebenarnya proyek jangka panjang. Dalam arti, untuk memenuhi satu botol dengan sampah plastik itu butuh waktu yang relatif lama. Apalagi kalau sampah plastik ini hanya didapat dari rumah tangga saja, jangka waktu satu bulan belum tentu terisi hingga penuh dan padat.

Bagaimana caranya membuat ekobrik? Caranya sangat mudah, pertama, keringkan botol air mineral lalu masukkan sedikit demi sedikit sampah plastik ke dalamnya. Bila sampah plastik ini ukurannya besar, sebaiknya dipotong kecil-kecil. Masukkan dan padatkan sampah plastik dalam botol tadi menggunakan tongkat kayu/bambu. Setidaknya, ekobrik yang dihasilkan nantinya memiliki berat 0,5 kg per botol, semakin padat akan semakin kuat.

Nilai Jual Tinggi

Di awal tulisan ini saya sampaikan bahwa proyek ekobrik ini proyek jangka panjang. Artinya, untuk memenuhi satu botol air mineral 1,5 liter butuh banyak sampah plastik dan butuh waktu yang relatif lama. Terbukti, mulai akhir Agustus lalu, mulai ada peserta didik yang mengumpulkan ekobrik. Tentu dengan menggunakan protokol kesehatan saat mengumpulkan di sekolah (maklum sekolah saya masih PJJ).

Untuk apa sih ekobrik ini? Selain mengurangi sampah plastik di alam juga bisa digunakan sebagai bahan baku meja, kursi dan tempat tidur. Hasil ekobrik peserta didik saya sudah jadi sebuah kursi, terdiri dari 16 ekobrik yang disusun persegi dan direkatkan menggunakan isolasi. Rencana, ekobrik-ekobrik ini (dari 11 kelas bimbingan, kalau masing-masing kelas terdiri dari 35 anak, bisa dibayangkan ada ekobrik berapa ratus). Kalau sebuah kursi butuh 16 ekobrik, setidaknya nanti akan jadi 24 kursi ekobrik, kursi-kursi ini akan saya letakkan di ruang BK khusus untuk kegiatan konferensi kasus yang biasanya membutuhkan banyak personil dan ini butuh banyak kursi. Kursi ekobrik inilah yang akan saya gunakan.

Sebenarnya, di sisi lain, saya juga memberikan pancingan kepada peserta didik agar tanggap dan bisa membaca peluang bisnis dari ekobrik ini. Bukankah kursi ekobrik bila dibuatkan penutup dari bahan kalep akan mempunyai nilai jual sebagai pelengkap perabot rumah? Kursi teras, kursi ruang tamu atau sekedar ditempatkan di taman.

Inilah salah satu usaha yang saya lakukan selama pandemi dengan memberikan proyek ekobrik. Memanfaatkan barang bekas dan plastik untuk barang yang berguna.

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: M. Naufal Hafizh

artikel terkait

dewanpers