web analytics
  

Atalia Kamil: Ekonomi Kreatif di Jawa Barat Harus Bangkit

Minggu, 25 Oktober 2020 15:13 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Bisnis - Finansial, Atalia Kamil: Ekonomi Kreatif di Jawa Barat Harus Bangkit, Dekranasda Jawa Barat,Atalia Praratya Kamil,Ekonomi Kreatif Jawa Barat

Ketua Dekranasda Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil. (ataliapraratya.com)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Jawa Barat, Atalia Praratya Kamil mendorong agar para pelaku UMKM Jawa Barat bangkit di tengah pukulan pandemi Covid-19.

Atalia menyadari, dampak ekonomi dari pandemi Covid-19 turut dirasakan para pelaku Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM). Untuk itu, Atalia ingin, agar UMKM mampu untuk bertahan dan mampu menjadi solusi bagi permasalahan yang ada di wilayahnya dengan cara kreativitas.

Apalagi Atalia menyadari dengan demografis penduduk Jawa Barat yang dihuni 49,9 juta jiwa banyak pekerjaan rumah dan tantangan untuk semua pihak. Dia juga menyadari, dampak pandemi Covid-19 ini memberikan pukulan luar biasa, selain krisis kesehatan tapi juga pada bidang sosial, budaya, pendidikan, hingga ekonomi.

Di sektor kesehatan misalnya kasus covid-19 di Jawa Barat termasuk salah satu provinsi yang tertinggi meskipun saat ini beberapa wilayah mulai berangsur membaik. Karenanya, berkaitan dengan kesehatan masyarakat di tengah pandemi Covid-19, Atalia juga meminta harus ada kampanye untuk mengubah perilaku akan sadar pencegahan Covid-19.

"Tentang kebiasaan baru bagaimana cara berkumpul harus mulai berubah, bagaimana cara berkomunikasi yang berubah, cara bekerja, cara memenuhi kebutuhannya, termasuk juga bagaimana untuk mendapatkan pendidikan," kata Atalia dalam Webinar 'Garcombs 2020', acara yang digagas Mahasiswa Doktoral Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Padjadjaran, Minggu (25/10/2020).

Selain menghadirkan tantangan yang luar biasa, Atalia menyadari pandemi Covid-19 ini juga sedianya menghadirkan banyak peluang dan momentum perbaikan untuk masa depan yang lebih baik. Khususnya untuk pemulihan ekonomi masyarakat dan para pelaku usaha.
  
"Saat ini orang lebih memikirkan yang penting kebutuhan perut beres. Mereka belum berpikir bagaimana hal-hal lain yang berkaitan dengan gaya-gayaan atau sesuai yang di luar kebutuhan pokok. Jadi dampak pandemi pada UMKM di Jabar paling banyak untuk wilayah usaha yang fokus pada kerajinan atau usaha lain di luar kuliner," ungkap Atalia.

Atalia juga mengatakan, tantangan untuk UMKM di masa covid-19 ini adalah sulit untuk mendapatkan bahan baku karena beberapa bahan baku didapat dari lintas wilayah atau lintah negara. Selain itu, lanjut dia, adanya kesulitan permodalan.

"Rata-rata para UMKM ini menjadi kesulitan ketika mereka punya modal sendiri dari hasil tabungan, akhirnya karena pandemi terpakai biaya hidup. Sehingga pada akhirnya mereka menunggu bantuan dari pemerintah," katanya.

selain itu, Atalia menyampaikan, Covid-19 membuat persaingan ditingkat para pelaku usaha kian mengetat. Bahkan Atalia mencontohkan, banyak para pelaku usaha kerajinan yang akhirnya banting setir menjadi usaha pangan.

"Contoh beberapa pelaku usaha kerajinan jualan berbagai macam makanan. Hal itu terjadi langsung di Dekranasda Jawa Barat. Ini membuat persaingan semakin tajam bagi para UMKM lainnya," katanya.

Tak kalah krusial, Atalia menilai, kondisi yang mengakibatkan pendapatan para pelaku usaha berkurang karena pandemi Covid-19 juga berdampak pada penurunan daya beli masyarakat. Alhasil terjadinya penurunan omzet di tingkat pelaku UMKM. Karenanya, Atalia mengatakan, perlunya dorongan khususnya pemahaman SDM dalam menghadapi berbagai krisis saat ini. 

"Saat ini SDM atau pelaku usaha banyak yang tergagap-gagap. Mereka tidak merasa dan tidak tahu pandemi ini salah satu dari risiko. Penting sekali para pelaku usaha ini didorong supaya mereka tumbuh lagi semangat, kepercayaan dirinya agar mampu bertahan," katanya.

Atalia juga mengatakan, para pelaku usaha putar otak agar berinovasi dalam produknya. Tak jarang karena mandeg inovasi, para pelaku UMKM kesulitan untuk masuki pasar. 

"Dalam kondisi ini informasi dan pelatihan juga perlu supaya mereka tahu bagaimana bisa memasarkan lebih baik si situasi pandemi ini," katanya. 

Sedianya, Pemerintah Jawa Barat terus berupaya mendorong pemulihan ekonomi untuk berbagai lini. Berita baiknya, ekspor di Jawa Barat juga termasuk yang tertinggi di Indonesia. Jawa Barat menjadi provinsi yang menyumbang 16,8% atau 16,79 miliar USD terhadap ekspor nasional. Jenis ekspornya meliputi kopi (Australia) jahe merah (Singapura), ubi jalar (Hongkong).

Selain itu, 5.913 desa di Jawa Barat didorong melalui program Bumdes. Program ini merupakan bentuk usaha yang dibangun di desa agar masyarakat dan pelaku usaha di wilayah itu bisa menggeliat perekonomiannya. Ada juga relaksasi kredit penangguhan pembayaran tanpa denda 6-12 bulan. Program ini untuk memberikan kemudahan bagi para pelaku usaha agar kembali bisa bertahan di tengah situasi saat ini. 

"Ada juga imbauan kepada masyarakat dengan ekonomi menengah ke atas untuk belanja di UMKM dan warung tradisional. Saat ini pemerintah mengupayakan agar masyarakat memiliki daya beli. Ini salah atau program pemerintah untuk menjadikan solusi di situasi ini," katanya.

Teranyar, pemerintah Jawa Barat membentuk komite penanganan Covid-19 dan pemulihan ekonomi daerah Jawa pada 1 Oktober lalu, Target komite ini untuk bisa melakukan penanganan dan penyelamatan daerah dari dampak pandemi Covid-19.

"Kenapa kita bekerja keras untuk mencari upaya penyembuhan penanganan, penyembuhan, dan penanganan di mulai dari sekarang, karena kita ingin di 2022-2023 ada pemulihan, dan 2024 normalisasi. Sebab ekonomi di Jabar diperkirakan paling cepat pulih 2023/2024," ujarnya.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers