web analytics
  

Inspektur Vaksinasi Cacar Andries de Wilde

Minggu, 25 Oktober 2020 09:19 WIB Netizen ATEP KURNIA
Netizen, Inspektur Vaksinasi Cacar Andries de Wilde, Atep Kurnia,Vaksinasi Covid-19,Vaksinasi,Rencana Vaksinasi

Andries de Wilde yang sudah tua. (Wikimedia.)

ATEP KURNIA

Peminat literasi dan budaya Sunda.

Kamis, 19 Mei 1803, ia tiba di Pulau Jawa. Dengan menumpang kapal pribadi yang diberi nama Maria, milik J. Muntingh, ia hendak mengadu nasib sebagai dokter bedah. Pada 1 Juli 1803, ia tercatat bekerja sebagai dokter bedah pemerintah di Batavia dengan gaji 30 gulden per bulan. Setahun kemudian, dia dipindahkan sebagai dokter bedah di rumah sakit Buitenhospitaal dengan gaji 50 gulden per bulan pada 15 Juli 1804 disambung mendapatkan promosi sebagai kepala dokter bedah. Pada 21 Juni 1805, namanya tercatat sebagai dokter bedah dalam kesatuan artileri dragonderlijfwacht dengan pangkat mayor dokter bedah (Chirurgijn-Majoor) yang dijabatnya hingga tahun 1807. 

Dua minggu sejak kedatangan H.W. Daendels, pada 2 Februari 1808, dia diangkat menjadi pengawas kopi di Bogor, sekaligus menjadi jurubicara gubernur jenderal tersebut kepada bupati-bupati di Priangan. Dia diangkat lagi menjadi pengawas perkebunan kopi di Bandung pada 4 Februari 1809. Dari sana dia diangkat menjadi pengawas perkebunan kopi di Tarogong (Garut, sejak 19 Mei 1809) dan Ujungberung (Bandung). Selanjutnya, ia menjadi asisten residen di Bandung sejak 10 Agustus 1812. Sejak 1813, ia membeli wilayah Sukabumi, ditambah wilayah Cianjur pada 1814, kemudian Ujungberung. Pada ketiga tempat, ia menanam kopi. Konon, luas kebun kopinya di Sukabumi mencapai lebih dari 40 kilometer persegi. 

Itulah riwayat singkat tuan tanah paling akbar di Priangan pada perempat pertama abad ke-19, Andries de Wilde (1781-1865). Bahan-bahannya saya timba dari buku karya F. De Haan (Priangan: De Preanger-Regentschappen onder het Nederlandsch Bestuur tot 1811 Vol 1, 1910), Donald Maclaine Campbell (Java: Past & Present, 1915), J. J. Klaveren (The Dutch Colonial System in the East Indies, 1983), Ulbe Bosma dan Remco Raben (Being Dutch in the Indies: A History of Creolisation and Empire, 1500-1920, 2008), dan John Bastin (Sir Stamford Raffles and Some of His Friends and Contemporaries, 2019).

Namun, yang hendak saya uraikan dalam tulisan ini adalah keterlibatannya dalam upaya vaksinasi dalam pembasmian wabah cacar di Priangan. Lelaki kelahiran 21 November 1781 di Amsterdam, dari pasangan Cornells de Wilde dan Marretje Harsnis ini mula-mula terlibat dalam penanganan cacar di Priangan pada tahun 1805 hingga 1807. Sebagai mayor dokter bedah, Wilde menyelenggarakan perjalanan penyuntikan vaksinasi cacar (vaccinetochten naar de Bovenl) di Priangan, termasuk Bogor. Dalam upaya tersebut, Wilde melibatkan tokoh-tokoh setempat sekaligus kalangan ulama.

Di dalam buku karya D. Schoute (De Geneeskunde in Nederlandsch-Indie gedurende de negentiende eeuw, 1936) disebutkan bahwa pada Februari 1806 De Wilde mempunyai inisiatif untuk menyelenggarakan vaksinasi di Jacatrasche Bovenlanden (Priangan). Wilde menyatakan bahwa dia sudah memvaksinasi 17 anak-anak di Tjiceroa (Bogor), sebagai hasil kerja sama denagn bupati Bogor dan mendapatkan bantuan dari seorang ulama (penghulu?) untuk memperkenalkan vaksinasi kepada penduduk pribumi. Ulama tersebut bukan saja hadir pada pelbagai penyelenggaraan penyuntikan vaksinasi, melainkan juga ikut menyuntik dua orang anak dan berjanji akan terus melakukannya di sana. 

Dalam surat yang dikirim Wilde dari Cipanas tersebut, dia menyebutkan pula bahwa upaya vaksinasi tersebut lebih berhasil ketimbang upaya yang dilakukannya pada pertama kali. Alhasil, pada Februari 1806 tersebut merupakan upaya kedua kali yang dilakukan Wilde untuk memperkenalkan vaksinasi cacar ke Priangan. Meski demikian, sebagaimana pertemuan Mr. Jassoy dan Assmus pada Desember 1807, wabah cacar terus terjadi di Priangan. Konon, ini diperparah penolakan orang tua kalangan Muslim dan Tionghoa untuk menyerahkan anak-anak mereka agar dilakukan penyuntikan vaksinasi

Namun, upaya Wilde yang paling besar dalam pembasmian cacar melalui vaksinasi adalah sejak dia diangkat sebagai inspektur cacar (Superintendent of Vaccination atau Superintendent der Vaccine) antara tahun 1815 hingga 1819. Dalam sebuah surat bertanggal 13 Mei 1815, T.S. Raffles mengumumkan bahwa Andries de Wilde diangkat sebagai pengawas vaksinasi di Priangan. Hal ini ditegaskan lagi dengan pengumuman pada 29 Agustus 1815 yang menyebut bahwa Wilde diangkat sebagai pengawas vaksinasi dan pengendalian sipilis di Priangan (“Superintendent van de vaccine en de bestrijding van syphilis in de Preanger”). 

Kemudian pada sebuah surat bertanggal 27 Januari 1816 dia disebut sebagai pejabat pemerintah dengan jabatan sebagai Superintendent der Vaccine”. Sebelumnya, surat kabar the Java Government Gazette edisi 2 Desember 1815, menyebutkan bahwa Wilde adalah inspektur di Cirebon dan Priangan (“Superintendent noemt in Cheribon en de Preanger”). Dalam The Java Annual Directory and Almanac for 1816 (1816) pun Wilde ditempatkan dalam jajaran pejabat di Priangan, dengan Thomas McQuoid sebagai Resident and Superintendent of Coffee Culture; P. van de Poel (Head Assistant); G. Vriese (Assistant for the Districts of Chianchore and Bandong); P.A. Matheze (Assistant for the Districts of Crawang); F. Lunel (Assistant for the Districts of Sumedang, Limbangan and Soecapoora); Reetjes (Assistant Surveyor) dan Andries de Wilde (Superintendent of Vaccination).

Pada Agustus 1819, Wilde masih bekerja pada penanganan cacar di Cirebon dan Karawang sekaligus memperkenalkan penggunaan vaksin ke tengah-tengah masyarakat kedua daerah tersebut. Dalam surat yang dikirimkan Wilde kepada Raja Belanda pada 1821, dia menyebutkan bahwa dia berhasil melakukan vaksinasi terhadap 40 ribu anak-anak di Karawang dan Cirebon (bij de 40 mille kinderen met succes (heeft) laten inenten”). Sebenarnya jumlah angka tersebut banyak diragukan, termasuk oleh De Haan (1910) dan D. Schoute (1936). Namun, yang jelas, pada Oktober 1819, De Wilde dihentikan dari jabatannya sebagai inspektur vaksinasi di Priangan.

Berapa jumlah sebenarnya yang divaksinasi selama Wilde menjabat sebagai inspektur vaksinasi? Dalam buku D. Schoute (1936) ada jawabannya. Di Priangan antara 1 Juni 1815 hingga 1 Januari 1817 ada 8.210 anak-anak yang divaksinasi cacar. Tahun berikutnya, 1817, ada 5.699 anak yang divaksinasi. Dua tahun berikutnya yakni pada 1818 sebanyak 6.074 anak dan 1819 merosot menjadi 625 orang anak. Menurut Schoute, memang setelah kepergian Wilde pada Oktober 1819, upaya vaksinasi cacar di Priangan menunjukkan angka penurunan. 

Sekitar saat itu, 1811-1816, sebagaimana yang dimuat dalam buku T.S. Raffles (The History of Java, 1817) dan dimuat ulang dalam buku Wilde (Berigten betreffende de landschappen Preanger Regenschappen, 1829) disebutkan bahwa jumlah penduduk Priangan secara keseluruhan berjumlah 171.110 orang, yang terdiri dari Kabupaten Cianjur (38.994 orang), Bandung (56.122), Sumedang (34.594), Limbangan (12.270) dan Sukapura (29.130 orang). Bila benar demikian, sebenarnya upaya vaksinasi cacar oleh Wilde dan timnya terbilang masih menjangkau sedikit orang bila dibandingkan dengan jumlah orang Priangan secara keseluruhan.

Bila melihat jumlah orang yang terlibat dalam upaya pembasmian cacar di Tatar Sunda umumnya, dan khususnya Priangan, memang terbilang sangat sedikit. Dalam buku Schoute, disebutkan bahwa antara tahun 1816 hingga 1822, di Batavia ada 16 orang petugas vaksinasi (vaccinateurs), di Karawang 3 orang, dan di Cirebon sebanyak 24 orang. 

Setelah harus menjual tanah di Ujungberung pada 1821 dan Sukabumi pada 1823, akhirnya Andries de Wilde memilih mudik ke Belanda dan melanjutkan ambisi feodalnya di daerah Baarn, Pijnenburg, Utrecht, hingga meninggal pada 27 April 1865.

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Andres Fatubun

artikel terkait

dewanpers