web analytics
  

Disforia Gender, Perasaan Tertekan karena Status Gender

Minggu, 25 Oktober 2020 07:55 WIB Administrator
Gaya Hidup - Sehat, Disforia Gender, Perasaan Tertekan karena Status Gender, Gender,Laki-laki,Perempuan

ilustrasi. (Pixabay)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Dalam dunia kesehatan terdapat istilah disforia gender. Istilah ini menggambarkan kondisi di mana seseorang merasa tak sesuai dengan gendernya. 

Melansir dari laman resmi Mayo Clinic, disforia gender adalah perasaan tidak nyaman atau tertekan yang terjadi pada orang dengan identitas gender berbeda dari jenis kelamin saat lahir atau karakteristik fisik terkait seks.

Sebagai contoh, seseorang yang lahir dengan vagina bisa merasa sebagai laki-laki atau gender selain perempuan. Disforia gender juga bisa terjadi pada seseorang yang lahir dengan penis namun tak nyaman berperan sebagai laki-laki.

Oleh karena itu, disforia gender paling banyak terjadi pada kelompok transgender, baik trans-man atau transpuan.

Orang transgender dan orang yang tidak sesuai dengan identitas gender mungkin mengalami disforia gender di beberapa titik dalam hidup mereka. Tapi tidak semua orang merasa terpengaruh.

Beberapa transgender dan orang yang merasa identitas gendernya tidak sesuai terkadang masih merasa nyaman dengan tubuhnya dengan penis atau vagina mereka, baik dengan atau tanpa intervensi medis. Kebanyakan mungkin akan memengaruhi ekspresi seksual atau penampilan dari luar.

Orang-orang dengan disforia gender yang sering kali menjadi transgender sudah tidak masuk dalam klasifikasi gangguan mental.

Melansir dari laman resmi American Psychological Association (APA), APA dan berbagai lembaga lain telah memperbarui Classification of Disease pada 2018 yang menghapus identitas transgender dari daftar gangguan kesehatan mental. Mereka akan lebih terfokus untuk menyadari tentang keragaman identitas dan ekspresi gender yang ada.

Menurut Asosiasi Psikiatrik Amerika, disforia gender dapat menyebabkan remaja dan orang dewasa mengalami berbagai kondisi, antara lain.

- Ketidaksesuaian yang mencolok antara jenis kelamin yang dialami dengan karakeristik seksual (penis/vagina)
- Keinginan yang kuat untuk menyingkirkan karakteristik seks primer (identitas saat lahir) atau sekunder (identitas gender saat dewasa).
- Keinginan yang kuat untuk menjadi karakteristik seks yang berbeda
- Keinginan yang kuat untuk diperlakukan selayaknya identitas seksual saat remaja, misal lahir dengan penis dan laki-laki namun ingin diperlakukan sebagai perempuan
- Keyakinan memiliki perasaan yang khas layaknya gender lain, misal laki-laki dengan perasaan keibuan dan feminim.
- Penderita disforia gender juga sering mengalami diskriminasi yang mengakibatkan stres. Apalagi akses ke layanan kesehatan mental cukup sulit, karena takut akan stigma dan kurangnya penyedia yang berpengalaman terutama di Indonesia di mana gender masih sangat biner.

Remaja dan orang dewasa dengan disforia gender sebelum perubahan jenis kelamin mungkin berisiko mengalami keinginan bunuh diri hingga upaya bunuh diri. Setelah perubahan jenis kelamin, risiko bunuh diri mungkin tetap berlanjut karena stigma masyarakat.

Apa yang bisa dilakukan jika kerabat mengalami disforia gender?

Menurut APA, salah satu yang bisa dilakukan adalah memberikan dukungan, bukan memaksa untuk tetap menjadi identitas gender yang diidentifikasi sejak lahir. Sisanya keputusan ada di tangan mereka untuk melakukan terapi hormonal, penggantian kelamin atau kembali pada gender primer.

"Mereka mungkin hanya menginginkan dukungan untuk merasa nyaman dengan identitas gender mereka," catat APA.

Sumber: Suara.com
Editor: Ananda Muhammad Firdaus
dewanpers