web analytics
  

Pahlawan Kesehatan

Sabtu, 24 Oktober 2020 17:04 WIB Netizen Singgah Satrio Prayogo
Netizen, Pahlawan Kesehatan, Tenaga Kesehatan,Tenaga Kesehatan Positif Covid-19

Dokter Tangani Covid-19. (Istimewa)

Pandemi covid-19 belum juga usai. Sejak pertama masuk ke Indonesia pada awal Maret 2020, sudah tujuh bulan lamanya covid-19 masih hidup dan bereproduksi di Indonesia.

Jumlah kasus covid terus meningkat setiap harinya. Tidak pandang umur, jenis kelamin, status sosial, kekayaan, semua berpeluang dapat terpapar virus ini.

Dilansir dari situs https://covid19.go.id/, posisi tanggal 18 Oktober 2020, jumlah kasus covid-19 terkonfirmasi sebanyak 357.762 kasus se Indonesia, dengan pertambahan kasus sekitar tiga ribu sampai empat ribu per harinya.

Kasus aktif positif berjumlah 63.739 yaitu 17,8 persen dari terkonfirmasi, jumlah yang sembuh sebanyak 281.592, dan 12.431 yang meninggal dunia. DKI Jakarta masih menempati urutan pertama jumlah kasus terbanyak dibanding provinsi lain di Indonesia, yaitu sebanyak 93.356 kasus atau menyumbang 26,1%, kemudian Jawa timur sebanyak 48.690 kasus atau menyumbang 13,6%, dan Jawa Barat sebanyak 30.043 kasus atau menyumbang 8,4% dari total kasus di Indonesia.

Tahun 2020 ini, tepatnya pada tanggal 24 Oktober, akan diperingati sebagai Hari Dokter Nasional.

Pada tahun ini, perayaan hari dokter merupakan yang sangat bermakna. Dokter, perawat, dan petugas kesehatan lainnya sebagai garda terdepan dalam melawan covid-19.

Para pahlawan kesehatan sudah banyak yang gugur melawan keganasan virus ini. Perlengkapan perang yang selalu dipakai seperti baju hazmat dan atribut lengkap bukanlah hal yang mudah. Perjuangan para tenaga kesehatan yang pantang mundur melawan covid-19 ini harus diapresiasi setinggi-tingginya. Keringat bercucuran, susah bernafas karena pemakaian masker yang berlapis-lapis, menahan berat sepatu, meninggalkan keluarga untuk bertugas, resiko tinggi untuk terpapar, tidak juga menyurutkan semangat untuk menolong korban covid. Bagitu harunya mereka saat mendengar ucapan terimakasih yang begitu tulus dari korban covid yang berhasil sembuh. 

Sudah berlangsung tujuh bulan lamanya, seharusnya yang menjadi garda terdepan adalah diri pribadi kita sendiri, bagaimana kita menjaga diri dengan beradaptasi dengan kebiasaan baru. Pola makan makanan sehat, pola mencuci tangan, memakai masker, dan social distancing harus terus dilakukan. 

Semakin lama beban pemerintah dalam menanggulangi covid-19 ini kian bertambah, anggaran penanggulanngan covid sampai pada mengatasi pengangguran akibat sektor ekonomi yang terpuruk. Covid tidak hanya berdampak pada masalah kesehatan, tetapi perdampak pada masalah ketenagakerjaan dan ekonomi. Resesi ekonomi telah terjadi. 

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pada triwulan 2 tahun 2020, perekonomian Indonesia mengalami kontraksi pertumbuhan sebesar 5,32 persen dibanding dengan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya. Padahal pada tahun-tahun sebelum adanya covid ini, perekonomian Indonesia selalu tumbuh sekitar 4 hingga 5 persen. Hal ini merupakan pukulan berat bagi Indonesia.

Lapangan usaha yang mengalami kontraksi pertumbuhan signifikan adalah Transportasi dan pergudangan sebesar 30,84 persen, kemudian penyediaan akomodasi dan makan minum sebsar 22,02 persen. Covid-19 telah membatasi ruang gerak manusia, pilihan untuk stay at home, work from home, dan school at home merupakan cara terbaik menjaga diri dan orang-orang sekitar. Disisi lain lapangan usaha yang masih mengalami pertumbuhan positif adalah informasi dan komunikasi sebesar 10,88 persen. Kebutuhan akan internet baik untuk bekerja atau sekolah menjadikan penggunaan sarana informasi dan komunikasi meningkat. 

Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), razia masker, pembatasan jumlah pengunjung restoran, tempat wisata, merupakah beberapa langkah pemerintah dalam memerangi virus ini, dan harus kita dukung. Para pengusaha, pemerintah dari level terendah sampai level tertinggi (desa/kelurahan, kecamatan, kabupaten, provinsi, dan Nasional) harus berusaha menghambat penyebaran virus ini. Tidak hanya memikirkan jumlah produksi, jumlah barang yang terjual atau berjalannya kegiatan pemerintahan, tetapi juga harus dipikirkan bagaimana virus ini bisa hilang. Ekonomi harus tumbuh tapi kesehatan tetap nomer satu. Manusia adalah subjek dan objek pembangunan. Apa gunanya ekonomi tumbuh bila tidak bisa dinikmati. Sektor ekonomi sudah mulai berjalan, harus didukung oleh protokol kesehatan yang ketat agar menghambat penyebaran covid dan pandemi bisa segera berakhir. Kita semua harus menyatakan perang terhadap covid-19 ini, jangan kalah, dan pantang menyerah.  

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Andres Fatubun
dewanpers