web analytics
  

Menghilangkan Stigma Negatif terhadap Pasien Positif Covid-19

Jumat, 23 Oktober 2020 18:01 WIB Eneng Reni Nuraisyah Jamil
Gaya Hidup - Komunitas, Menghilangkan Stigma Negatif terhadap Pasien Positif Covid-19, Stigma pasien Covid-19,Pasien Covid-19,Pasien Positif Covid-19,Covid-19 Indonesia

Isolasi mandiri. (Ayobandung.com/Fira Nursyabani)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Ratri Anindyajati tak menyangka hidupnya berubah setelah tak sengaja 'berkenalan' dengan virus bernama corona yang sedang mengguncang dunia. 

Pada awal kemunculan Covid-19, Ratri menjadi pasien 03 yang terkonfirmasi positif Covid-19 usai adiknya dan sang ibu sudah lebih dulu terkonfirmasi sebagai pasien 01 dan 02 positif Covid-19.

Pada 2 Maret 2020, Ratri mengaku hidupnya diliputi kebingungan dan beban psikis yang tinggi saat mendengar dua anggota keluarganya terlebih dulu tertular Covid-19. Lebih syoknya lagi, Ratri tahu Covid-19 merupakan penyakit baru yang belum diketahui bentuk dan cara pengobatannya.

"Di samping harus mengatasi tekanan dari berita itu (menjadi pasien positif bersama adik dan ibu) rumah kita dalam beberapa jam dikepung sama media. Sampai orang rumah nelepon aku gak boleh pulang karena tiba-tiba privasi kita terbuka," kata Ratri dalam webinar tentang stigmatisasi terhadap penderita Covid-19 dan tenaga medis, Jumat (23/10/2020).

Di tengah situasi yang mengagetkan bagi dirinya dan keluarga, Ratri mengaku yang lebih membuatnya kecewa, banyak informasi ngawur tentang kehidupan pribadi mereka yang beredar di publik. Akibat profesinya dalam dunia seni sebagai penari, Ratri dan keluarga mendapatkan penghakiman di lini masa usai identitas dibuka dan terkonfirmasi positif Covid-19.

Dia menyebut tak sedikit hujatan dilayangkan kepada mereka karena dinilai menjadi penyebab adanya Covid-19 di Tanah Air. Ratri tak menyangka begitu kuatnya stigma negatif kepada para pasien positif Covid-19 kala itu.

Padahal saat itu, Ratri mengaku, kondisi klinis ibu dan adiknya sudah membaik. Namun begitu ada pernyataan ofisial positif Covid-19 di Indonesia dan identitas mereka terbuka, berbagai serangan dan hujatan warganet semakin banyak dilayangkan.

"Kita lihat banget mental distress yang Sita rasakan langsung membuat keadaan fisiknya turun lagi. Waktu itu kita harus benar-benar fokus menguatkan mental Sita supaya dia gak mikirin serangan-serangan dari netizen dan pemberitaan dari media yang juga waktu itu kita sampai bingung kenapa tidak ada yang akurat," katanya.

"Sebenernya aku bilang, aku baik-baik aja. Waktu itu aku ngerasa sudah sehat tapi virusnya masih ada di tubuhku. Ibu pun sudah sehat, tinggal menunggu paru-parunya recovery lagi. Jadi yang lebih harus ditangani secara mental dan emosional itu secara psikis karena hujatan-hujatan dan stigma dari orang-orang yang gak kita kenal," katanya.

Ratri juga menyayangkan berbagai informasi pemberitaan yang sempat simpang siur terkait informasi yang sebenarnya tentang kondisi mereka. 

"Contoh, orang (pasien positif Covid-19 yang berasal dari Jepang) itu kita gak kenal tapi ada pemberitaan yang mengatakan WNA Jepang itu teman dekat pasien 01, sering menginap di rumah dan ada asumsi publik itu laki-laki. Padahal orang itu perempuan dan pekerjaannya pengajar tarik latin dan Afrodance," katanya.

Dengan contoh keluarganya yang menjadi korban dalam praktik tidak etis itu, Ratri hanya berharap ada penyampaian informasi hingga perlakuan yang tidak menggiring stigma negatif dan ngawur kepada para pasien Covid-19. Dirinya berharap masyarakat bisa memperluas literasi agar tidak menciptakan stigma negatif tersebut.

"Oke, satu, kita sudah terbuka di publik bukan atas keinginan izin kita. Oh tapi ya udah deh terlanjur mau gimana lagi. Tapi sesudah itu nilai privasi kita terus masih didorong terus (agar terbuka) padahal saat itu kami masih diisolasi," katanya

Awalnya Ratri tak menampik, dirinya merasa keberatan dengan publikasi informasi dan kehidupan privasi keluarganya. Bahkan banyak pihak dan keluarganya yang menawarkan agar ada dukungan secara hukum agar privasinya dijaga. Namun dengan berbagai informasi simpang-siur dan stigma negatif yang masih bergulir pihaknya tak bisa berbuat banyak.

"Tentunya keberatan dan pas sampai rumah, aku pulang ke rumah khawatir alamat kita ada di mana-mana (tersebar luas). Orang-orang tanggung jawabnya gimana, kita kan gak tau ada yang berpikiran apa. Ada kok yang sampai bilang 'kita tahu rumah kalian lho, Sita' di Instagram," katanya.

Ratri juga mengaku saking buruknya stigma yang melekat kepada pasien positif Covid-19 saat itu, ada banyak ancaman yang dilayangkan warganet kepada keluarganya. Dia menyimpulkan, ketakutan yang berlebihan dan ketiadaan informasi yang memadai membuat sebagian masyarakat bereaksi berlebihan terhadap mereka yang terpapar virus Covid-19.

"Ada yang bilang 'kita datengin, kita tahu rumah kalian', 'kita mau dateng nyuntikin virus ke kalian supaya mati'  karena banyak orang yang gak percaya mendoakan kita bener-bener sakit nantinya. Sedihnya juga itu mikir kayak 'gila sistem pendidikan Indonesia itu sampai mana sih kok masyarakat kita bisa kayak begini?" ujar Ratri.

Di sisi lain, menanggapi potret stigmatisasi negatif terhadap positif Covid-19, praktisi Kesehatan, Lula Kamal angkat bicara. Lula mengatakan, saat awal kemunculan pertama kasus positif Covid-19, diskriminasi terhadap pasien positif Covid-19 memang sangatlah tinggi. 

Lula menyebut saat awal kemunculan Covid-19 Indonesia dan tenaga kesehatan belum siap. Indonesia masih kaget dengan kehadiran Covid-19 yang mulai memasuki Tanah Air. 

Alhasil, ada banyak kekacauan karena Covid-19 menyerang mendadak meski kasus kemunculan Covid-19 di dunia sudah ada sejak akhir Desember 2019.

"Waktu itu saat kejadian di Jakarta, mestinya daerah lain sudah harus belajar dari Jakarta. Daerah lain tidak belajar cepat dari adanya kasus kemunculan pertama di Jakarta... Yang paling sering kejadian karena lengah atau abai itu," kata Lula.

Karenanya, Lula mengajak masyarakat dan setiap rumah ada pemahaman terkait sumber potensi penularan. Yang paling mudah, kata Lula, adalah siapa anggota rumah yang sering keluar rumah karena akan menjadi sumber potensi tinggi penularan. 

Oleh sebab itu, dia meminta masyarakat jalang abaikan terkait protokol kesehatan. Hal ini demi menghindari lingkungan keluarga sebagai lingkungan terkecil di masyarakat tidak menjadi sumber penularan Covid-19.

"Lebih luasnya lagi, pahlawan yang berkontribusi paling besar sebenarnya masyarakat karena yang efektif memutus rantai penularan Covid-19 adalah masyarakat. Pemerintah cuma bikin kebijakan dan aturan, tenaga kesehatan cuman bantu untuk mengobati yang sakit, tapi sebetulnya pahlawan yang paling besar,ujung tombaknya masyarakat sendiri," ujarnya.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus
dewanpers