web analytics
  

Benarkah Vaksin Mengandung Babi? Ini Penjelasan Pakar

Jumat, 23 Oktober 2020 10:37 WIB Icheiko Ramadhanty
Gaya Hidup - Sehat, Benarkah Vaksin Mengandung Babi? Ini Penjelasan Pakar, Vaksin mengandung babi,Vaksin dari enzim babi,Vaksin Covid-19,vaksin corona

Petugas medis menyuntikan vaksin Covid-19 kepada relawan saat simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di Rumah Sakit Pendidikan Unpad, Jalan Prof. Eyckman, Kota Bandung, Kamis (6/8/2020). ( Ayobandung.com/Kavin Faza)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM – Dokter Penyakit Dalam Rumah Sakit Menteng Mitra Afia, Dirga Sakti Rambe, menjelaskan beberapa informasi yang kurang tepat yang sempat beredar di masyarakat terkait vaksin.

Sebagaimana diketahui, saat ini Pemerintah Indonesia berencana akan melakukan vaksinasi Covid-19 kepada masyarakat yang ada di garda terdepan dalam penanganan Covid-19.

Pembahasan tentang vaksin seiring berjalannya dengan program vaksinasi tersebut menimbulkan beberapa informasi kurang tepat dan pertanyaan terkait vaksin itu sendiri. Seperti halnya informasi yang beredar bahwa vaksin mengandung babi.

Lantas, apakah benar vaksin mengandung babi? Dirga menjelaskan bahwa beberapa jenis atau merk vaksin memang pada proses pembuatannya bersinggungan dengan enzim yang bersumber dari babi.

Namun, kata dia, setelah di proses, calon vaksin tersebut telah mengalami pencucian dan penyaringan hingga milyaran kali, di mana pada produk akhir vaksin sudah tidak lagi mengandung babi.

“Bapak dan ibu tidak perlu khawatir. Semua vaksin yang pada proses pembuatannya bersinggungan dengan enzim babi, itu tertulis jelas pada kemasannya,” tegas Dirga dalam pemaparannya di akun YouTube FMB9_ID, Jumat (23/10/2020).

Lalu, bagaimana vaksin dibuat? Dirga menuturkan, untuk membuat suatu vaksin baru dibutuhkan proses dan tahapan yang panjang. Hal ini karena untuk mamastikan vaksin benar-benar aman dan efektif.

“Setelah kita menetapkan ingin membuat atau mengembangkan suatu jenis vaksin baru, maka akan di uji coba dahulu pada binatang percobaan. Bila pada binatang terbukti aman dan efektif, maka akan mulai dicobakan kepada manusia. Ini disebut sebagai tahapan uji klinis,” jelasnya.

Tahapan uji klinis juga memakan waktu yang tidak singkat, karena terdapat uji klinis tahap 1, 2, dan 3 dengan melibatkan 1.000 orang relawan manusia.

Selanjutnya, apakah mungkin membuat vaksin dengan waktu yang relatif singkat? Pada situasi tertentu terlebih saat pandemi Covid-19, kata Dirga, perlu dilakukan upaya-upaya agar pengembangan vaksin menjadi lebih cepat, tanpa mengabaikan aspek keselamatan dan efektivitas.

Bagaimana vaksin dapat bekerja? Menurut penjelasan Dirga, saat vaksin disuntikkan atau diteteskan di tubuh manusia, maka vaksin akan merangsang sel-sel imunitas manusia.

“Ada leukosit, ada limfosit. Untuk merangsang pembentukan antibodi yang diibaratkan seperti pasukan yang kelak bila kita terpapar virus, bakteri, atau jamur, maka sudah memiliki kesiapan untuk melawan penyakit tersebut,” ujar dia. 

Editor: Fira Nursyabani

artikel terkait

dewanpers