web analytics
  

39 Nakes Positif Covid-19, RSD Gunung Jati Ditutup Selama Sepekan

Jumat, 23 Oktober 2020 10:38 WIB Erika Lia
Umum - Regional, 39 Nakes Positif Covid-19, RSD Gunung Jati Ditutup Selama Sepekan, Nakes Positif Covid-19,RSD Gunung Jati Ditutup

RSD Gunung Jati. (istimewa)

CIREBON, AYOBANDUNG.COM -- Sejumlah pelayanan publik pada RSD Gunung Jati (RSDGJ), Kota Cirebon, ditutup hingga pekan depan, menyusul 39 tenaga kesehatan (nakes) di sana terkonfirmasi Covid-19.

Penutupan rencananya berlaku hingga 28 Oktober 2020. Layanan kesehatan yang ditutup masing-masing Instalasi Gawat Darurat (IGD), laboratorium, poliklinik, radiologi diagnostik, pemeriksaan PCR, maupun semua pelayanan yang berasal dari luar.

RSDGJ sebelumnya sempat tutup dengan alasan yang sama pada akhir pekan lalu. Pelayanan pun kembali dibuka selama 3 hari terakhir, sebelum kemudian ditutup lagi sejak Kamis (22/10/2020).

Direktur RSDGJ, Ismail Jamaludin menyebutkan, penghentian sementara pelayanan publik didasarkan sebagai upaya pencegahan penyebaran Covid-19 di lingkungan rumah sakit. Pihaknya telah melakukan disinfeksi di lingkungan rumah sakit.

"Dari hasil tracing di RSDGJ, ada 39 nakes yang positif," ungkapnya menjelaskan alasan penutupan.

Ke-39 nakes yang positif di antaranya dokter umum, dokter spesialis, perawat, bidan, maupun petugas administrasi. Sebagian nakes yang terkonfirmasi positif kini dirawat di RSDGJ.

Sebagian lainnya diketahui menjalani karantina di hotel. Sementara, nakes lainnya menjalani karantina mandiri rumah masing-masing, dengan syarat rumah memungkinkan untuk itu.

Dia menyatakan, upaya penelusuran (tracing) masih berlangsung. Sejauh ini, setidaknya 150 nakes RSDGJ telah menjalani tes usap, terutama yang diketahui telah berkontak erat dengan pasien positif. 

Kendati begitu, dia memastikan pelayanan bagi pasien yang dirawat di rumah sakit tetap berjalan. Dalam hal ini pelayanan laboratorium dan radiologi tetap tersedia bagi mereka.

"Untuk yang sudah berada di dalam (rumah sakit) tetap berjalan, yang sudah menjalani perawatan tetap kami layani," tegasnya.

Dia berjanji, ketika disinfeksi terhadap ruang pelayanan usai dilakukan dan nakes yang terlibat dalam pelayanan itu terkonfirmasi negatif Covid-19, pelayanan akan kembali dibuka.

Dia pun berharap, dari upaya penelusuran yang masih terus dilakukan tak lagi ditemukan nakes positif.

Wali Kota Cirebon, Nashrudin Azis diketahui telah menyetujui penutupan rumah sakit daerah yang selama ini telah menjadi rujukan bagi pasien dari daerah-daerah tetangga Kota Cirebon, termasuk Brebes di Jawa Tengah itu.

"Saya sudah setuju (penutupan), alasannya tepat karena banyak tenaga medis yang terkonfirmasi, baik perawat maupun dokter," tuturnya.

Bila tidak, dia mengkhawatirkan RSDGJ akan menjadi pusat penyebaran Covid-19. Hanya, dia meminta Dinas Kesehatan maupun rumah sakit mengantisipasi segala kemungkinan yang terjadi di masyarakat.

Namun begitu, dia pula kembali memohon kepada publik untuk terus mematuhi dan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Terlebih, pekan depan merupakan masa libur panjang yang dicemaskan akan meningkatkan risiko penyebaran Covid-19.

"Kepada usaha pariwisata, benar-benar laksanakan protokol kesehatan dengan baik. Silakan berlibur, tapi dengan nyaman dan aman, jangan sampai setelah liburan terjadi lonjakan kasus," pintanya.

Dia pun mengimbau warga yang hendak berlibur untuk menjalani tes usap. Pun begitu sepulang liburan dan kembali ke Cirebon.

"Kami juga ingatkan warga dari luar Kota Cirebon yang hendak liburan di sini untuk disiplin menerapkan protokol kesehatan," cetusnya.

Pihaknya tak menghendaki kemunculan klaster keluarga setelah masa libur berlalu. Dia mengingatkan, Kota Cirebon merupakan salah satu zona merah di Jawa Barat.

Dia mengakui, peningkatan kasus terus terjadi, sekalipun pergerakannya terbilang sedikit. Pembatasan aktivitas yang telah diterapkan rupanya tak banyak memperbaiki risiko peningkatan kasus di kota ini.

Selama ini Kota Cirebon pun telah menerapkan standar protokol kesehatan dari WHO, mulai testing, tracing, isolasi, dan pengobatan. Hasilnya, tak sedikit pasien telah pulih. 

Namun begitu, Kota Cirebon masih belum beringsut dari zona merah. Azis mengemukakan, situasi itu disebabkan Kota Cirebon merupakan kota transit yang dipenuhi orang keluar masuk.

"Kota Cirebon itu kota transit, banyak orang masuk dan keluar dari sini. Tapi, kami tidak bisa melarang aktivitas keluar masuknya warga," bebernya.

Di antara orang yang keluar masuk itu, dipastikan terbuka kemungkinan adanya orang tanpa gejala yang berkeliaran dan tak menyadari kondisi kesehatannya. Fenomena itu disebut Azis layaknya permainan bola ping pong.

Karena itu, dia memandang perlu regulasi yang sinergis antara daerah, terutama di Wilayah Ciayumajakuning yang terdiri dari Kota Cirebon, Kabupaten Cirebon, Kabupaten Indramayu, Kabupaten Majalengka, dan Kabupaten Kuningan.

"Alangkah baiknya menetapkan regulasi  bersama di Wilayah Ciayumajakuning agar kebijakan tentang Covid-19 sinergis dan polanya terarah," tandasnya.

Editor: Dadi Haryadi
dewanpers