web analytics
  

Makanan yang Wajib Dibatasi bagi Penderita Asam Urat   

Jumat, 23 Oktober 2020 07:42 WIB Andres Fatubun
Gaya Hidup - Sehat, Makanan yang Wajib Dibatasi bagi Penderita Asam Urat   , Asam Urat,Penderita asam urat,meredakan asam urat,obat asam urat

Ilustrasi seafood, jenis makanan yang perlu dibatasi bagi penderita asam urat. (ShenXin/Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Penderita asam urat dapat mengalami rasa sakit pada area persendian ketika kadar asam urat dalam darah meningkat. Naiknya kadar tersebut bisa disebabkan oleh jenis makanan tertentu. Apa saja makanan pantangan asam urat itu? Ini dia penjelasannya!

Salah satu penyebab meningkatnya kadar asam urat yaitu mengonsumsi makanan mengandung purin. Jadi, untuk menghindari rasa tidak nyaman, seperti nyeri pada persendian, pemilik asam urat tinggi atau gout wajib membatasi konsumsi makanan dengan kandungan zat tersebut.

Berikut beberapa jenis makanan pantangan asam urat yang harus dibatasi konsumsinya atau sebisa mungkin dihindari, karena mengandung tinggi purin:

1. Jeroan
Untuk jenis makanan ini, Anda disarankan untuk menjauhinya karena jeroan seperti hati dan organ dalam lainnya, memiliki kandungan purin tertinggi.

2. Makanan laut atau boga bahari (seafood)
Anda penyuka makanan laut? Mulai sekarang cobalah untuk membatasi konsumsinya, karena makanan laut kaya akan purin. Jenis-jenis makanan laut yang menjadi pantangan bagi penderita asam urat tinggi antara lain adalah kerang, ikan asin, ikan teri, sarden, makarel (ikan kembung), tiram, udang, lobster, atau kepiting.

3. Sayuran
Ada beberapa sayuran yang memiliki kadar purin tinggi, yaitu bayam, kembang kol, asparagus, kacang polong, dan jamur. Namun, menurut penelitian, mengonsumsi purin yang berasal dari sayuran tidak menimbulkan masalah bagi penderita asam urat tinggi, artinya risiko terkena gout atau serangan ulangannya tidak meningkat. Meski begitu, disarankan untuk tetap membatasi jumlah yang masuk ke dalam tubuh Anda.

4. Minuman beralkohol
Beberapa jenis minuman beralkohol mengandung purin yang tinggi dan bisa meningkatkan kadar asam urat dalam darah. Minuman beralkohol yang tidak baik bagi penderita asam urat adalah bir. Selain itu, bir juga bisa menyebabkan dehidrasi, yang akan memicu datangnya rasa nyeri pada penderita asam urat tinggi. Minuman beralkohol lain yang juga mengandung purin namun dalam jumlah sedang yaitu anggur (wine).

5. Gula
Meski kadar purin dalam gula tergolong rendah, Anda tetap disarankan untuk tidak berlebihan mengonsumsi makanan yang mengandung gula. Mengonsumsi gula secara berlebihan bisa menyebabkan diabetes dan obesitas, yang bisa memperburuk gejala rematik atau asam urat yang Anda derita.

Hindari pula mengonsumsi minuman yang mengandung fruktosa, karena bisa meningkatkan kadar asam urat Anda. Jika Anda ingin memanjakan lidah dengan sesuatu yang manis, Anda bisa mengonsumsi buah-buahan segar.

6. Daging
Kandungan purin dalam kelompok makanan ini masih tergolong sedang. Anda bisa mengonsumsi daging sapi, daging unggas, daging kambing, atau daging babi yang semuanya tanpa lemak, paling banyak 170 gram setiap harinya.

Menjauhi makanan pantangan asam urat bisa menjaga atau bahkan menurunkan kadar asam urat dalam darah Anda. Asam urat yang Anda derita memang tidak bisa disembuhkan hanya dengan menjauhi berbagai makanan tersebut, namun risiko terjadinya serangan asam urat berulang bisa diturunkan. Selain itu, kerusakan pada persendian juga dapat diperlambat.

Selain membatasi makanan pantangan asam urat, Anda disarankan untuk menjalani gaya hidup sehat, misalnya rutin berolahraga. Produksi asam urat bisa naik jika Anda mengalami kelebihan berat badan, dan olahraga bisa membantu Anda menjaga berat badan tetap normal. Selain itu, olahraga yang dilakukan secara rutin bisa menjaga produksi asam urat agar tetap stabil. Pemilik asam urat tinggi disarankan untuk memperbanyak minum air putih, guna membantu proses pengeluaran asam urat melalui urine.

Jika nyeri sendi karena asam urat tak kunjung membaik dan sering kambuh, Anda perlu berkonsultasi ke dokter untuk mendapatkan pengobatan lebih lanjut.

Editor: Andres Fatubun
dewanpers