web analytics
  

Rekam Juang Pasundan Istri (PASI) di Bandung

Senin, 19 Oktober 2020 11:41 WIB Redaksi AyoBandung.Com
Bandung Baheula - Baheula, Rekam Juang Pasundan Istri (PASI) di Bandung, Pasundan Istri (PASI),Hindia Belanda,feodalisme,Sunda,pendidikan perempuan

Para anggota Pasundan Istri (PASI). (Women and the Colonial State)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM — Kota Bandung menyimpan banyak sejarah. Dari sekian banyaknya histori yang ada, terdapat satu aspek penting yang belum banyak disoroti. Hal itu adalah berdirinya sebuah gerakan perempuan bernama Pasundan Istri (PASI) di Bandung.

PASI ialah organisasi pemberdayaan perempuan yang lahir dari keresahan kaum perempuan di zaman Hindia Belanda. Saat itu, pemerintah Hindia Belanda tidak memberikan fasilitas pendidikan bagi kaum perempuan. Dari sanalah muncul kesadaran untuk mengubah feodalisme.

Dilansir dari jurnal “Rekam Jejak Perjuangan Pasundan Istri (PASI) di Bandung 1930-1970” oleh Fuji Astuti dan Yani Kusmarni yang diterbitkan tahun 2019, Senin (19/10/2020), ada faktor lain berdirinya PASI.

Faktor tersebut tidak lain karena adanya penyelewengan terhadap situasi kaum perempuan. Khususnya penyelewengan terhadap perempuan di tataran Sunda. PASI pun tidak hanya bertujuan memajukan kesejahteraan perempuan di Jawa Barat, namun juga melestarikan adat dan kebudayaan Sunda.

Salah satu fokus utama PASI adalah menyediakan fasilitas pendidikan bagi kaum perempuan, khususnya di tatar Sunda. Dalam mewujudkan tujuan tersebut, organisasi itu melahirkan banyak aktivis di bidang  sosial dan pendidikan. Kegiatan yang dihasilkan pun beragam seperti menulis dan membaca, etika dan sopan santun hingga ilmu keterampilan lainnya. 

Berdirinya PASI tidak diperuntukkan bagi perempuan di Jawa Barat saja. Melainkan juga bagi mereka yang mencintai dan ingin melestarikan kebudayaan Sunda. Adapun bukan kaum Istri saja yang bisa menjadi anggota PASI, namun juga gadis yang masih lajang, meski mereka tidak akan mendapatkan hak suara atau dapat menghadiri rapat organisasi itu.

Tidak hanya aktif mewujudkan misinya, PASI juga aktif dalam organisasi perempuan lainnya. Tidak hanya aktif dalam Kongres Perempuan Indonesia, PASI juga memiliki pencapaian di berbagai organisasi dari tingkat lokal hingga internasional. Berkat hal itu, PASI berhasil menginspirasi gerakan-gerakan perempuan lainnya di banyak daerah.

Sejak berdiri pada zaman pemerintahan Hindia Belanda, PASI sudah aktif memperjuangkan hak-hak dan pemberdayaan perempuan. Pada periode itu, karakteristik perjuangan PASI adalah untuk meningkatkan derajat perempuan tanpa menyerang kedudukan kaum pria. PASI sering mengadakan kegiatan belajar mengajar, kursus hingga mendirikan sekolah kejuruan yang selalu menggunakan bahasa Sunda untuk melestarikan budaya.

Selain itu, PASI juga aktif dalam berbagai berbagai lingkup sosial dan ekonomi untuk menyejahterakan anggotanya. Organisasi itu menyediakan tempat bagi kaum buruh wanita pengangguran dari golongan rakyat jelata bernama “Penolong Pengangguran Kaum Ibu”, mendirikan rumah nenek jompo dan Yatim Piatu, hingga koperasi berbadan hukum. 

Tak hanya itu, PASi juga berusaha menumbuhkan kesadaran nasional dengan memperjuangkan hak pilih aktif perempuan.

Perjuangan PASI mengalami rintangan pada periode pemerintahan Jepang. PASI harus melakukan gerakan “di bawah tanah”. Bukan tanpa alasan, pembatasan ruang gerak organisasi dan kewajiban kaum perempuan untuk bergabung dalam Fujinkai saat itu jadi sebabnya. Dalam pergerakan itu, PASI tetap melakukan kegiatan sosial serta pembinaan seperti biasa.

Setelah proklamasi kemerdekaan, pengalaman anggota PASI selama bergabung di Fujiinkai dimanfaatkan untuk kepentingan perjuangan. Mereka juga bahu-membahu mengangkat senjata bersama kaum lelaki dalam berperang melawan pemerintah Belanda yang berusaha merebut kembali tanah air.

Setelah kemerdekaan, upaya pergerakan PASI berkembang ke arah politik. Masalah perempuan yang dipandang domestik seperti perkawinan dan perceraian bertransformasi menjadi agenda publik negara. Organisasi itu juga didukung partai politik sehingga isu perempuan lebih mudah dimasukkan dalam pembuatan kebijakan negara.

Meski begitu, perjuangan PASI mulai mengalami kehancuran saat berlangsungnya rezim orde baru. Saat itu tidak diperbolehkan ada gerakan yang memperjuangkan hak perempuan serta ideologi politik masing-masing.

Hal itu memaksa PASI hanya menjalankan program nasional seperti Keluarga Berencana (KB). PASI pun dipaksa hanya menjadi alat mobilisasi politik.

Dinamika itu membuktikan betapa hebatnya perjuangan PASI dalam memberdayakan kaum perempuan di Indonesia, khususnya Jawa Barat. 

Salah satu hasil perjuangan yang mungkin paling dirasakan adalah dari sektor pendidikan. PASI mendirikan banyak sekolah untuk perempuan, para perempuan terdidik pun semakin bertambah. 

Sumber: Rekam Jejak Perjuangan Pasundan Istri (PASI) di Bandung 1930-1970
Editor: M. Naufal Hafizh
dewanpers