web analytics
  

Muslim yang Dikelirukan di FIlm Barat

Rabu, 21 Oktober 2020 16:18 WIB
Umum - Internasional, Muslim yang Dikelirukan di FIlm Barat, Film,muslim,islamofobia,barat

Ilustrasi (Pixabay)

JAKARTA, AYOBANDUNG.COM -- Sudah banyak orang muslim yang terlibat dalam dunia perfilman dunia. Meski begitu, masih ada kekeliruan menggambarkan muslim seperti yang ditayangkan banyak televisi di barat.

Misalnya film Bodyguard, di mana karakter muslim dalam film terus berkata bohong sampai akhir. Kemudian film Thriller Hit Jed Mercurio yang dirilis pada 2018 lalu. Serial ini awalnya menetapkan Nadia sebagai korban yang perlu diselamatkan dari suaminya, seorang teroris, tetapi ternyata plot twist mengungkapkan bahwa sebenarnya Nadia adalah dalang teroris tersebut.
 
Netflix's Bard of Blood yang diproduksi oleh bangsawan Bollywood, Shahrukh Khan, juga menampilkan Muslim dalam peran default teroris. Bahkan superhero fantastis Amazon menunjukkan The Boys , di mana warga melawan mereka yang menyalahgunakan kekuasaan mereka, secara sombong menampilkan Muslim sebagai ancaman terhadap nilai-nilai Barat
 
Kemudian adegan melepas jilbab juga sering ditampilkan di film dan TV, seolah mengisyaratkan penolakan perempuan Muslim terhadap keyakinan dan mengadopsi gaya kebebasan barat. Seperti dalam drama remaja di Spanyol, Netflix, Elite yang menggunakan adegan ini pada salah satu pemeran utamanya, Nadia yang masuk ke dalam klub setelah melepas jilbabnya, untuk kemudian bergabung minum alkohol dan berhubungan seks dengan teman sekelasnya yang berkulit putih. 

Dilansir dari The Guardian pada Rabu (21/10), menurut laporan tahunan Tell MAMA 2017 mencatat peningkatan Anti-Muslim atau Islamophobia dengan 1.201 insiden terverifikasi, meningkat 26 persen dari tahun sebelumnya. Sedangkan pada 2018 ada 1.072 serangan terverifikasi. Misalnya saja acara Bodyguard berisiko memicu Islamofobia dan memperburuk stereotip perempuan Muslim.

Menurut Dr Nour Halabi, dosen ras, migrasi dan gerakan sosial di Universitas Leeds, mengatakan, representasi Muslim di media dan hiburan menekankan posisi mereka sebagai musuh permanen dengan penekanan khusus pada terorisme. 

Pada akhirnya, banyak dari representasi yang keliru ini bermuara pada struktur kekuasaan di balik layar. Seperti yang dikatakan Amna Saleem, penulis skenario dan penyiar di balik Beta Female, sitkom BBC Radio 4 tentang seorang wanita Skotlandia-Pakistan yang mencoba menavigasi keluarga, karier, dan pacar kulit putih, mengatakan, kadang-kadang harus memulai dengan stereotip itu untuk memikat penonton dan lalu merevisinya.

Berdasarkan pengalamannya di industri hiburan, dia mengatakan bahwa penggambaran yang homogen masih berlaku dan telah menunjukkan kepadanya perlunya keragaman di balik layar. 

"Sebagian besar representasi perempuan Muslim, bahkan oleh laki-laki Muslim, perlu direvisi. Untuk berada di industri ini ada langkah-langkah, ada hal-hal yang perlu dilakukan sebelum kamu dapat memiliki otonomi kreatif sepenuhnya. Begitulah cara kerjanya. Dari luar, banyak yang percaya bahwa penulis memiliki lebih banyak kekuatan daripada yang mereka miliki dan ini sering kali mengarah pada pendekatan reaksioner dari komunitas terhadap penulis baru, alih-alih memberi mereka ruang untuk bekerja dan berkembang," kata Amna Saleem.

Sebenarnya, kata Amna Saleem, tentu saja ada beberapa pertunjukkan yang bertentangan dengan arus. Di antaranya komedi Ramy Hulu yang bercerita tentang seorang laki-laki Muslim Arab-Amerika generasi pertama yang berjuang untuk menyeimbangkan keyakinannya dengan identitasnya sebagai seorang Amerika, pasca 11/9.

Namun, untuk semua penceritaannya yang bijaksana, pertunjukan tersebut telah dikritik karena tidak memberikan tingkat pengembangan karakter yang sama pada karakter perempuan seperti pada laki-laki. Adik Ramy, Dena (May Calamawy) terus-menerus frustrasi dengan sifat overprotektif orang tuanya, sementara saudara laki-lakinya diberi ruang untuk tumbuh dan menjelajah.

"Sebagai penonton, kami tidak dapat melewati rasa frustrasi ini, sementara karakter laki-laki kecil diberi ruang untuk pertumbuhan dan kerumitan. Penulis budaya Shamira Ibrahim merefleksikan The Atlanticpada tahun 2019: “Wanita Muslim memang bervariasi dan rumit, tetapi menggambarkan mereka sebagai tidak adanya hak pilihan, atau entah bagaimana sepenuhnya terpisah dari godaan atau krisis yang dihadapi Ramy sendiri, mengecualikan mereka dari keberadaan milenial modern dengan cara yang dianggap salah," ujarnya.

Penggambaran tersebut jelas sangat jauh berbeda dari Bodyguard, yang masih ada ruang bagi perempuan muslim untuk melakukan lebih dari sekedar duduk di pinggiran kehidupan laki-laki.

Mungkin di tahun-tahun mendatang, akan ada peningkatan dalam hal identitas muslim dan menjadi lebih kompleks dan lebih dari dua dimensi. Tetapi saat ini belum bisa, karena menurut Ofcom, hanya 1 perseb profesional industri TV yang menggambarkan diri mereka sebagai Muslim, dibandingkan 16 persen yang diidentifikasi sebagai Kristen.

Representasi nyata akan ada ketika karakter dan cerita tentang Muslim bisa menjadi lebih dari sekadar baik atau buruk. Ini nantinya akan menjadi rumit dan berantakan dan tidak dapat diprediksi, dan untuk itu dibutuhkan lebih banyak penulis dan kreatif Muslim. Tentunya lebih banyak wanita yang harus memiliki otonomi kreatif yang lebih besar. 

Berita ini merupakan hasil kerja sama antara Ayo Media Network dan Republika.co.id.

Isi tulisan di luar tanggung jawab Ayo Media Network.

Editor: Ananda Muhammad Firdaus

artikel terkait

dewanpers