web analytics
  

Kakao, Tanaman Andalan Suku Maya Sejak Ratusan Tahun Lalu

Rabu, 21 Oktober 2020 12:21 WIB Fira Nursyabani
Gaya Hidup - Sehat, Kakao, Tanaman Andalan Suku Maya Sejak Ratusan Tahun Lalu, Kakao,Bubuk kakao,Manfaat kakao,Tanaman kakao

Pohon kakao. (dok. Kementan)

LENGKONG, AYOBANDUNG.COM -- Tanaman kakao (Theobroma cacao) atau cokelat berasal dari Amerika Latin dan dibudidayakan di seluruh dunia, termasuk Indonesia.

Menurut buku saku berjudul 'Bahan Pangan Potensial untuk Anti Virus dan Imun Booster' terbitan Kementerian Pertanian, kakao ternyata dikenal dapat meningkatkan kesehatan oleh suku Maya dan Aztec di Meksiko pada tahun 900. Terdapat 150 dokumentasi penggunaan kakao untuk perawatan medis di suku ini.

Tanaman tersebut bahkan juga ditemukan di Desa Ulua, Honduras, sejak 2000 tahun sebelum masehi. Kakao dilaporkan dapat merangsang fungsi kesehatan limpa dan fungsi pencernaan.

Selama abad ke-17 dan ke-18, kakao secara teratur diresepkan atau dicampur menjadi obat untuk semua jenis penyakit mulai dari pilek dan batuk, meningkatkan kesuburan, memperkuat kinerja mental, dan sebagai antidepresi.

Ahli gizi mengungkapkan, kakao yang ditemukan dalam cokelat hitam (dark chocolate) dan senyawa fenolik di dalam kakao dapat memperkuat pertahanan sistem kekebalan tubuh dan meningkatkan daya tahan tubuh.

Kakao juga kaya akan methylxanthines, yaitu kafein, theobromine, dan theophilin. Theobromine adalah methylxanthine utama dalam kakao, jumlahnya sekitar 4% (free dry basis), kafein sekitar 0,2% (lebih rendah dibandingkan kopi dan teh), dan teofilin juga hadir dalam jumlah rendah.

Mineral adalah komponen penting lainnya dalam produk kakao. Kakao mengandung magnesium relatif lebih tinggi dibandingkan dengan teh hitam, anggur merah, dan apel.

Magnesium adalah mineral penting dalam pengaturan tekanan darah. Mengonsumsi cokelat yang mengandung 70% padatan kakao mempengaruhi sistem kekebalan tubuh dan ekspresi gen sel dendritik.

Pengolahan

Kakao perlu mengalami serangkaian pengolahan penting untuk dapat dikonsumsi. Pengolahan biji kakao menjadi cokelat (dark chocolate) dimulai dari panen buah kakao, diikuti oleh pemisahan biji dan pod dilanjutkan oleh fermentasi, pengeringan, dan penyangraian.

Biji kakao sangrai dipisahkan menjadi nib dan cangkang, dan nib kemudian digiling untuk memperoleh massa cokelat (pasta cokelat). Untuk bubuk kakao, mayoritas cocoa butter (CB) dikeluarkan dari pasta coklat tersebut.

Dark chocolate terbuat dari campuran massa cokelat, CB, dan sedikit gula atau tanpa gula. Seluruhnya dicampurkan dan dihancurkan dan akhirnya dicetak menjadi cokelat.

Ahli gizi mengatakan konsumsi 10 gram cokelat hitam selama seminggu atau dua potong coklat dalam sehari atau tiga kali seminggu, sudah cukup memberi manfaat kesehatan.

Editor: Fira Nursyabani
dewanpers