web analytics
  

Pelajaran dari Perang Armenia-Azerbeijan

Rabu, 21 Oktober 2020 12:06 WIB Netizen Sjarifuddin Hamid
Netizen, Pelajaran dari Perang Armenia-Azerbeijan, Perang,Perang Armenia-Azerbeijan,Sjarifuddin Hamid

Konflik antara Armenia dan Azerbaijan (Kementerian Pertahanan Azerbaijan)

Sjarifuddin Hamid

Lulusan Jurusan Hubungan Internasional, FISIP-UI. Pernah bekerja pada beberapa surat kabar nasional.

Perang lazimnya bermotif keinginan memiliki atau menguasai. Suatu keinginan yang ironisnya disamakan dengan perilaku binatang. Tengoklah apa yang terjadi di Asia Selatan, Tanduk Afrika atau Timur Tengah. 

Konflik antara Armenia dan Azerbaijan menarik untuk dilihat.Kedua negara memperebutkan Nagorno-Karabakh (N-K), yang merupakan kantong dalam wilayah Azerbaijan. N-K didiami mayoritas penduduk yang  beragama Kristen, sama dengan Armenia. Sementara mayoritas  rakyat Azerbaijan beragama Islam. 

Bentrok terjadi berulang kali, baik sebelum Uni Soviet terbentuk maupun setelah berantakan pada 25 Desember  1991.  N-K menyatakan kemerdekaan dengan nama Republik Arsakth tahun 1991. 

Armenia menguasai wilayah antara N-K dengan Azerbaijan dan juga antara N-K dengan wilayahnya sendiri. Praktis N-K masuk dalam  ‘wilayah’ Armenia terpisah dari Azerbaijan.

PBB maupun Konferensi Organisasi Islam mengakui N-K sebagai bagian dari wilayah Azerbaijan.  Mayoritas penduduk N=-K menolak dan mendirikan Republik Arsakth. Dunia internasional tidak mengakui republik tersebut.

Bila dewasa ini perang tercetus lagi, maka penyebabnya adalah persoalan lama namun dipertegas dengan kehadiran isyu agama. Sekurang-kurangnya dapat dilihat dari masing-masin pendukung.

Rusia, Amerika Serikat dan Prancis mendukung Armenia. Turki  merekrut eks pejuang-pejuang Syria membantu Azerbeijan. Pejuang Chechnya turun mendukung rakyat Azerbaijan.

Apakah dukungan itu semata berbasis agama?

Menurut Worldmeters, Azerbeijan pada 2016  memiliki tujuh miliar barrel cadangan minyak bumi terbukti. Dengan produksi 843.546 barrel  dan konsumsi hanya 96 ribu barrel per hari , maka terdapat surplus 747.546 barrel. Maka negara ini menjadi eksportir migas ke Turki dan Eropa.

Azerbeijan disebut memasok 5% dari total kebutuhan migas Eropa. Hal ini sejalan dengan tujuan negara-negara Eropa yang ingin mengurangi ketergantungan dari Rusia.  Sekarang, Eropa juga mengimpor 35% dari total keperluan gas alamnya dari Rusia. Pada 2018, Rusia mengekspor ke benua itu 200,8 miliar kubik gas.

Permukaan Gunung Es

Armenia dan Azerbeijan yang sama-sama merdeka pada 1991, memiliki lokasi yang strategis karena berada di persimpangan jalan menuju Eropa, Rusia dan Asia. Keduanya berada di pegunungan Kaukasus dan sudah lama menjadi rebutan pengaruh negara-negara lain, sejak periode Kerajaan Ottoman. 

Barang siapa menguasai kedua negara maka akan menguasai jalur antar benua dan sumber daya migas. Bentrokan yang terjadi sejak Juli lalu,  merupakan pusat jaringan infrastruktur Azerbeijan yakni jalur kereta api Baku-Tbilisi-Kars yang baru dipergunakan. Jalur pipa minyak bumi Baku-Tbilisi-Ceyhan dan Koridor Gas Bagian Selatan.

ayo baca

Koridos gas tersebut dirancang untuk membawa gas alam dari ladang Shah Deniz tahap II  menuju Italia. Dengan rute ke perbatasan Turki-Yunani melalui jalur pipa trans Anatolia. Kemudian  memasuki  wilayah Yunani dan Albania dengan memanfaatkan jalur pipa Trans Adriatik. Azerbeijan berharap proyek segera rampung hingga dapat mengirimkan gas sebelum akhir 2020.

Azerbeijan juga menggantikan posisi Rusia sebagai pemasok gas ke Turki pada Maret dan April lalu, setelah Presiden Donald Trump menjatuhkan sanksi terhadap Rusia.

Sejalan dengan itu,pertanyaan yang muncul adalah mengapa Armenia menyerang Azerbeijan menjelang penggunaan Koridor Gas Selatan dan menjadi pengganti Rusia sebagai pemasok ke Turki. Sebagaimana diketahui Armenia adalah anggota Organisasi  Perjanjian Keamanan Kolektif bersama Kazakhstan, Belarusia, Kyrgyztan, Tajikistan dan Rusia. Afghanistan dan Serbia menjadi pengamat tetapi tidak menjadi anggota.

Bila melihat perkembangan di atas, konflik di pegunungan Kaukasus ini bakal berdampak luas karena masalahnya bukan klaim N-K, etnis dan  isyu agamanya. Ketiganya hanya sasaran antara, sementara tujuan pokoknya adalah mengacaukan suplai migas ke Eropa.  

Indonesia?

Berdasarkan sejarah, Indonesia tak luput dari perhatian negara lain yang  ingin menguasai rempah-rempah, produk perkebunan, domestik yang besar serta berbagai jenis bahan tambang. Negara-negara tersebut tidak lagi menggunakan kekerasan seperti pasca kemerdekaan Indonesia, tetapi cara lain yang terbukti ampuh.

Nilai Indonesia makin bertambah-tambah karena lokasinya yang amat strategis, di persimpangan benua dan samudera. Indonesia  juga berdekatan dengan laut China Selatan yang tengah memanas.

Gerakan-gerakan untuk memecah belah Indonesia bersumber dari isyu domestik yang kemudian diolah  pemerintah asing atau kelompok lain.  Faktor-faktor yang membuat Indonesia masih kokoh adalah karena para pendahulu sudah memiliki pandangan jauh ke depan.

Mereka membuat organisasi pergerakan, Sumpah Pemuda, Pancasila dan UUD’45, menyatakan kemerdekaan, menjalankan politik luar negeri yang bebas aktif serta sukses mewujudkan wawasan Nusantara. Disamping penyebaran anggaran pembangunan yang sesuai dengan kebutuhan. 

Kesemuanya itu, mencegah Indonesia berkeping-keping. Sebagai misal,Indonesia tidak punya masalah dengan bahasa nasional sekalipun ratusan suku mempunyai bahasa sendiri.  Bukankah sampai saat ini masih ada negara lain yang terpaksa menjadi dua bahasa atau lebih sebagai bahasa nasional.

Sekalipun begitu, bukan berarti Indonesia akan aman dan nyaman. Masih ada upaya berkelanjutan untuk melemahkan bangsa Indonesia dengan berbagai cara. Ia bisa datang dari mana saja.

 

Tulisan adalah kiriman netizen, isi tulisan di luar tanggung jawab redaksi.

Ayo Menulis klik di sini

Editor: Andres Fatubun
dewanpers